Langsung ke konten utama

Tempat baru yang mengesankan dan kesenjangan yang luput dari penglihatan

Setelah satu bulanan tinggal di tempat baru, aku mulai berkeliling ke tempat yang satu dan yang lainnya. Biasanya di akhir pekan, aku lebih sering pergi ke Lulu Mart (hypermarket), Giant (toko swalayan), atau Aeon Mall untuk berbelanja bahan belanja selama satu minggu kedepan. Baru sekali saja aku pergi ke Cisauk, tempat di mana stasiun KRL terdekat berada dan Pasar Modern. Besok pagi, aku akan mencoba merasakan suasana berbelanja di sana.

Tidak belanja banyak karena sebagian bahan belanja sudah dibeli sore tadi. Aku menemukan tempat belanja "hidden gem" di kawasan perkampungan. Murah sekali. Tentu saja ini akan menjadi pertimbanganku selanjutnya untuk rutin berbelanja di tempat tersebut.

"Bang, tempat ini hidden gem! Keluar uangnya segini doang dapatnya banyak banget" ucapku antusias.

"Memang. Dari kemarin diajak keluar gak pernah mau. Kalau di kawasan perkampungan semuanya ada, warung, toko buah, jajanan gerobak, nasi padang sepuluh ribuan. Bedakan? Mangkanya itu kesenjangan di sini kontras."

Dengan mulut masih mengunyah jajanan otak-otak bumbu yang baru aku beli tadi, aku hanya menjadi penyimak yang baik karena dia, suamiku, lebih lama dan lebih pertama tinggal di sini.

BSD CITY.

Kota mandiri yang dibangun oleh developer Sinarmas Land ini membuat aku terkesima berkali-kali. Kawasan yang sejauh mata memandang terlihat keeksklusifan dimana-mana. Deretan perumahan modern yang selalu membuat aku bertanya-bertanya apa resep rahasia untuk bisa memilikinya. Tidak luput, pusat bisnis, properti, pusat pendidikan, fasilitas kesehatan yang mendukung kawasan yang luasnya setengah Paris ini menjadi kota ambisius.

Suamiku sebelumnya bekerja dan tinggal di area bilangan Jakarta. Pindah ke Tangerang Selatan karena semua programmer divisinya diminta balik bekerja di kantor pusat. Kebetulan sekali kantornya ada di kawasan pusat bisnis Foresta. Sekilas alasan mengapa akhirnya kami terdampar ke sini.

Kalau di kotaku, Medan, perumahan mewah nan megah hanya bisa dilihat di titik-titik tertentu, berbeda dengan di BSD. Percayalah. Dari balik terali besi pembatas komplek dan jalan raya, kamu bisa melihat Mini Cooper diparkir di rumah tanpa pagar. Logikanya, kalau rumah pada umumnya memiliki pagar tinggi karena rawan dari maling atau kejahatan lainnya, disini sebaliknya. Artinya sang pemilik rumah sudah mempercayakan keamanan lingkungan huniannya.

Aku tinggal di sebuah komplek cluster. Tentu tidak menengah ke atas karena biayanya lebih terjangkau. Masih mendengar suara anak-anak kecil komplek bermain setiap sore di taman. Masih banyak rumah yang berpagar. Meskipun begitu keamanan di sini juga selalu terpantau, setiap pagi dan sore pak satpam yang bertugas berkeliling. Para pengendara yang bukan penghuni juga diperiksa identitas dirinya. Maksudnya adalah, hampir semua perumahan di kawasan ini ditanggungjawabi oleh pihak pengembang berlogo merah putih tersebut. Soal keamanan sangat mengesankan, semoga tidak kecolongan.

Namun, ketika aku melihat sisi lain, di balik gerbang, berpindah area, aku berhadapan dengan perkampungan yang cukup padat, jalan tidak rata, banyak orang-orang berjualan makanan dengan harga murah-murah, lagi-lagi aku terpukau karena aku melihat kehidupan, melihat perputaran uang akibat operasional UMKM setempat. Aku kira semua orang disini berpenghasilan dollar. Ternyata kesenjangan itu juga ada di sini. Yang luput dan tersembunyi. Bahkan di tempat mengesankan sekalipun. Hadir dalam bentuk yang familiar, terasa dekat, relevan, dan seperti bagian dari keluarga. Ketimpangan ekonomi yang tertutup, tapi nyatanya membantu perputaran uang secara tidak langsung dengan aktivitas perekonomian yang dilakukan. Meskipun dalam nominal yang kecil tapi yang paling penting berputar dengan ritme yang cepat.

Tapi tentu saja adalah fakta bahwa aku sudah merasa terbuai dengan tempat ini. Dengan segala fasilitas dan infrastrukturnya yang membuat aku pada satu pernyataan "benar-benar tidak mengecewakan ketika pihak swasta yang mengelola sesuatu". Kalau bermimpi itu hak semua orang, kali ini biar aku membawa mimpiku ke bumi dan mengeksekusinya. Barangkali, dengan memiliki salah satu hunian yang sedang aku bayangkan di pikiran saat ini. Kita lihat nanti kalau Tuhan mengizinkan.

3:41 WIB

Indonesia.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu Indonesia Bagian Hidup Sehat Bersama SEGARI

"Kapan yah pandemi ini usai?" Apakah pertanyaan ini pernah terlintas di kepalamu? Saya yakin kita semua pernah. Namun faktanya, smpai saat ini belum ada satupun ahli yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan pasti. Tanpa harus menurunkan level kepatuhan terhadap pratokol kesehatan, setidaknya kita bisa bernafas sejenak karena menurut WHO terjadi penurunan kasus positif COVID-19 hingga 77 persen dalam enam pekan terakhir. Selain itu, angka kematian rata-rata masyarakat di seluruh dunia juga sudah turun sebanyak 20 persen. Tak lupa, saat ini program Vaksinasi Nasional dari Kemenkes RI sedang berlangsung dan diharapkan bisa tersebar merata di seluruh lapisan masyarakat. Alih-alih cemas berlebihan, yuk kita lakukan sesuatu untuk melindungi diri sendiri dan keluarga. Caranya gampang banget. Mulai dengan mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan WHO, seperti mencuci tangan dengan benar, memakai masker, tidak menyentuh wajah, menjaga jarak dengan orang lain, dan bila mem

Sebelum Dua Pekan.

  Aku yakinkan diri ini berulangkali sebelum berbicara kepada kedua orang tua. Ini bukan sebuah keputusan yang mudah.  Aku tahu, ada banyak rangkaian masalah yang akan menanti aku setelah gerbang perjalanan ini. Namun, pilihannya apakah aku bisa melihatnya sebagai sebuah halangan atau tantangan. “Bunda, mbak menikah boleh ga?” “Iya boleh selesai wisuda ya.” “Kan udah pernah wisuda, kuliah mbak udah siap juga tinggal wisuda doang…” “Kenapa mbak tiba-tiba ingin cepat nikah?” “Engga cepat juga sih, kakak kan udah kelar kuliah bahkan udah kerja juga..” “Emangnya, Hendra udah mau lamar mbak?” “Iya, kalau diizinin.” “Nanti bunda bilang sama ayah dulu.” Hendra adalah nama pria yang menjadi pasanganku satu tahun terakhir. Aku mengingat percakapan sekilas di malam itu. Mengapa hal ini ingin aku segerakan? Mengingat aku berencana menikah dengan dia di pertengahan tahun 2022. Bukan di awal 2021. Aku dan Hendra sudah menjalin hubungan romansa selama satu tahun terakhir. Kami