Langsung ke konten utama

Kaitan antara ayam goreng tepung dan pernikahan.

Biar lebih jelas, ayam goreng tepung bumbu Sasa yang spicy (red:pedas). Awalnya aku makan dengan sangat bergairah, karena aku pecinta ayam goreng tepung salah satu restoran cepat saji dari Amerika. Namun, semakin ke sini aku tidak hanya melihatnya sebagai potongan daging yang renyah. Tapi mencoba menyingkap apa yang tersembunyi di balik kulit yang gurih itu.

Di minggu-minggu pertama pernikahanku, aku memilih ayam goreng bumbu menjadi pengganjal perut yang keroncongan. Pergi berbelanja kemanapun, mulai dari toko kelontong, indomaret, sampai dengan hypermaket, aku akan tetap meluncur ke rak tepung bumbu Sasa.

Ditambah fakta kalau aku tidak hanya menjalin pertemanan dengan tepung ayam goreng itu saja. Tapi aku juga sudah mulai pedekate dengan tepung goreng bakwan, tempe, bumbu ayam goreng, bumbu nasi goreng, bumbu kentang goreng, bumbu sop ayam, dan bumbu soto ayam. Sungguh aku tidak perlu mendefinisikan pertemanan baru ini kan?

Bagaimana peran makanan dalam pernikahan?

Aku tidak tahu pasti, tapi jelas peran istri tidak hanya tentang mengisi perut suami yang keroncongan. Sebenarnya, telat aku menyadari, kalau memasak itu kompetensi yang harus dimiliki tiap orang untuk bertahan hidup. Kira-kira mana yang lebih penting? Pengabdian atau cara bertahan hidup?

Yang perlu dikhawatirkan dalam pernikahan lebih dari sekedar istri yang tidak bisa memasak. Sebab, memasak hanya soal kemauan, keringanan hati, dan kebesaran langkah. Soal rasa, semua akan ketemu pada takaran yang sempurna, asalkan kita konsistensi yakan?

Dalam sebuah fase pernikahan, pandangan masyarakat selalu menempatkan posisi perempuan di kursi dewa untuk selalu bisa banyak hal. Tapi, tentu sebaliknya dalam mengambil keputusan. Jadi penting sekali bagi perempuan untuk memilih seseorang yang bisa memandang kita tanpa standar ganda.

Ada banyak tuntutan untuk harus bisa memasak, merawat diri, mendidik anak-anak, menjaga keharmonisan keluarga, piawai mengurus rumah, alih berkomunikasi dengan keluarga dan kerabat, bisa mengelola keuangan dengan bijak, sholeha, memanjakan suami, dan berbagai hal lainnya yang terlalu mustahil untuk bisa dikerjakan dalam satu waktu dan sekejap. Aku tidak sedang bercanda, ini aku alami dan aku yakin bukan hanya aku yang merasakannya.

"Ah peduli amat dengan kata orang." Percayalah kata-kata ini hanya bisa berguna kalau kita bertemu dengan orang yang mau bekerja sama dan berusaha keras untuk punya standar kebahagiaan sendiri dalam pernikahannya.

Bagaimanapun, manusia setengah dewa bukan hal yang baru. Atau, bukan sosok yang sulit ditemukan. Dari luar, kita bisa lihat dan nilai sendiri beberapa orang berjuang sangat keras "agar bisa fit in" dengan standar sempurna versi masyarakat. Tidak salah, mari kita apresiasi setiap pilihan perempuan. Woman support woman?

Bagaimana dengan laki-laki? Sebenarnya sama. Laki-laki juga dituntut menjadi kepala keluarga yang bijaksana, suami yang baik, ayah yang mengayomi, imam keluarga, kapten kapal yang harus mawas diri di tengah lautan, dan hal-hal lain yang memang "wait, sabar, biarkan kami meraba semuanya satu per satu".

Yang dewa tentu ada, tidak sedikit. Tapi pasti butuh lebih dari 10000 jam terbang agar bisa lebih berkompeten. Barangkali lebih, karena menjadi suami berbeda halnya dengan menjadi seorang ahli praktisi.

Ayam goreng bumbu pedas dan pernikahan. Barangkali ayam goreng menjadi "comfort zone" dalam bahtera rumah tangga yang sedang aku jalani. Tentu kami tidak berencana untuk menjadikan rumput tetangga sebagai tolak ukur kebahagiaan yang sedang kami rajut. Apalagi menjadikan standar sempurna yang hidup di masyarakat sebagai batasan-batasan tertentu yang mutlak untuk dipatahi.

Karena kami berdiri pada argumen yang sama, bahwa pernikahan adalah tentang kesepatakan bersama antara suami dan istri. Tidak ada orang lain yang mengisi peran sebagai hakim dan jaksa. Semuanya dimulai dari ayam goreng tepung bumbu. Kalau kamu bagaimana?



Jakarta, 1 Maret 2021.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KAUM MILENIAL WAJIB MANFAATKAN APLIKASI SIKASEP UNTUK WUJUDKAN RUMAH IMPIAN

(Sumber: Media Indonesia) Bagaimana caranya agar milenial bisa memiliki rumah? Tren pertumbuhan penduduk di Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia memasuki era bonus demografi. Sebuah fenomena langkah yang hanya akan terjadi satu kali dimana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibanding jumlah penduduk tidak produktif. Namun, sayangnya kaum yang diberi label sebagai tulang punggung ekonomi ini diprediksi tidak bisa memiliki hunian seumur hidupnya.Tentunya ada beberapa hal yang menjadi hambatan, seperti pengeluaran konsumsi yang tinggi, kenaikan upah pekerja tidak sebanding dengan lonjakan harga properti setiap tahunnya, sampai dengan benturan-benturan persyaratan perbankan yang tidak mengakomodir karakteristik generasi ini. Rumah adalah bagian dari kebutuhan pokok manusia yang harus segera dipenuhi setelah kebutuhan sandang dan pangan. Tapi, kebanyakan milenial menggeser prioritas untuk membeli rumah dengan berperilaku konsumtif. Dengan harga properti yang semakin ting

Waktu Indonesia Bagian Hidup Sehat Bersama SEGARI

"Kapan yah pandemi ini usai?" Apakah pertanyaan ini pernah terlintas di kepalamu? Saya yakin kita semua pernah. Namun faktanya, smpai saat ini belum ada satupun ahli yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan pasti. Tanpa harus menurunkan level kepatuhan terhadap pratokol kesehatan, setidaknya kita bisa bernafas sejenak karena menurut WHO terjadi penurunan kasus positif COVID-19 hingga 77 persen dalam enam pekan terakhir. Selain itu, angka kematian rata-rata masyarakat di seluruh dunia juga sudah turun sebanyak 20 persen. Tak lupa, saat ini program Vaksinasi Nasional dari Kemenkes RI sedang berlangsung dan diharapkan bisa tersebar merata di seluruh lapisan masyarakat. Alih-alih cemas berlebihan, yuk kita lakukan sesuatu untuk melindungi diri sendiri dan keluarga. Caranya gampang banget. Mulai dengan mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan WHO, seperti mencuci tangan dengan benar, memakai masker, tidak menyentuh wajah, menjaga jarak dengan orang lain, dan bila mem

BERSYUKUR DAN BERDAMAI DENGAN RAMADAN DI TENGAH PANDEMI

Kamu tahu, apa yang membuat Ramadan sangat dirindukan? jawabannya adalah tentang momen-momen istimewa yang terjadi bagi kita umat muslim di berbagai belahan dunia. Selalu ada euforia yang memenuhi relung hati di waktu sahur dan berbuka puasa. Baik bersama keluarga ataupun teman-teman. Selalu ada suasana syahdu ketika menghadiri shalat berjamaah, mendengar ceramah, menonton kultum, dan menghadiri majelis-majelis yang membersihkan hati nurani dari sifat seperti rasa dengki, iri hati, dan kebencian. Selalu ada menu-menu makanan yang selama ini dinanti-nanti dan setiap gigitannya membangkitkan memori yang membersamainya. Selalu ada jutaan kebaikan dengan niat tulus dari siapapun dan untuk siapa pun. Barangkali Tuhan ingin kita menjalankan Ramadan dengan khusyuk, tanpa ada janji buka puasa bersama 30 hari berturut-turut yang membuat lalai sholat Magrib. Tanpa ada aktivitas berkeliaran di jalanan ketika matahari baru beranjak terbit yang tak jarang berujung pada kecelakaan-kecelaka