Langsung ke konten utama

Nyobain Menu Pizza Unik di Ulos Café, Santika Premiere Dyandra Medan



Bulan Februari yang lalu, seorang teman mengajakku untuk menemaninya liputan untuk menu baru yang baru saja rilis di sebuah hotel di kota Medan. Tanpa aling-aling, dan kebetulan aku tidak memiliki jadwal malam itu, langsung saja aku iyakan ajakannya.

Sebenarnya ini adalah kedua kalinya. Sebelumnya di tempat yang sama, ia juga pernah mengajakku. Seingatku, sebelumnya adalah menu nusantara: masakkan melayu, dan yang akan dicoba sekarang (bulan Februari-red) adalah kombinasi menu masakkan eropa yang dikombinasikan dengan menu nusantara.



Kami berjumpa di tempat, di waktu yang sudah ditentukan. Acara tersebut dihadiri banyak influencer dan Key Opinion Leader (KOL) local. Beberapa aku kenal dari media sosial, namun sungguh banyak yang aku tak kenal sema sekali. Maklum saja ini bukan duniaku.

Temanku itu bernama Masdalena. Ia sedang bekerja malam ini dalam hal meliput menu baru ini untuk dipublikasikan di tempat ia bekerja. Sementara ia bercengkerama dengan orang-orang yang dikenalinya, aku memutar tempat menu-menu apa saja yang mala mini dihidangkan.



Detail tempatnya adalah Ulos Café, Santika Premiere Dyandra Medan. Café ini lumayan sering merilis menu-menu baru, unik, dan kaya akan cita rasa, untuk disajikan kepada para pelanggan setia mereka.



Aku sempat mengikuti Pers Release mereka. Menu pizza ini adalah kombinasi dari masakan eropa dan masakan suku batak yang khas dengan andaliman. Ada seorang chef yang sedang melakukan demo di bagian depan. Sementara di bagian belakang ada tungku pizza tradisional yang khusus dibawa dari sebuah kota di Jawa. Aku lupa tepatnya, barangkali dari hotel Santika yang di Bandung.

Selain itu, pak Hilmi, selaku salah satu pembicara pada pers release juga menjelaskan perbedan pizza Amerika dan Pizza Eropa. Salah satu perbedannya yang mencolok adalah ketebalan roti. Jika pizza khas Amerika lebih tebal rotinya, pizza Eropa sebaliknya. Tekstur yang tipis membuatnya lebih rapuh dan gurih untuk dimakan.

Menu yang disajikan ini diadaptasi dari menu internasional dan disajikan dengan perpaduan cita rasa nasional. Sungguh menarik, kan!

Ada berbagai varian pizza yang disajikan seperti pizza sayuran, pizza hawai, pizza margarita, pizza rendang daging, pizza marinara, pizza papperoni, dan pizza ayam natinombur.






Selain itu, juga disajikan pasta homemade dengan berbagai varian rasa dan bewarna-warni loh. Contohnya, pasta bewarna hijau adalah pasta yang terbuat dari sayur bayam.

Menu ini bisa kamu nikmati, setiap hari Sabtu, dengan harga terjangkau! Apalagi sistemnya ALL YOU CAN EAT.



Tertarik untuk mencoba? Langsung saja ke Ulos Café ya!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu Indonesia Bagian Hidup Sehat Bersama SEGARI

"Kapan yah pandemi ini usai?" Apakah pertanyaan ini pernah terlintas di kepalamu? Saya yakin kita semua pernah. Namun faktanya, smpai saat ini belum ada satupun ahli yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan pasti. Tanpa harus menurunkan level kepatuhan terhadap pratokol kesehatan, setidaknya kita bisa bernafas sejenak karena menurut WHO terjadi penurunan kasus positif COVID-19 hingga 77 persen dalam enam pekan terakhir. Selain itu, angka kematian rata-rata masyarakat di seluruh dunia juga sudah turun sebanyak 20 persen. Tak lupa, saat ini program Vaksinasi Nasional dari Kemenkes RI sedang berlangsung dan diharapkan bisa tersebar merata di seluruh lapisan masyarakat. Alih-alih cemas berlebihan, yuk kita lakukan sesuatu untuk melindungi diri sendiri dan keluarga. Caranya gampang banget. Mulai dengan mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan WHO, seperti mencuci tangan dengan benar, memakai masker, tidak menyentuh wajah, menjaga jarak dengan orang lain, dan bila mem

Tempat baru yang mengesankan dan kesenjangan yang luput dari penglihatan

Setelah satu bulanan tinggal di tempat baru, aku mulai berkeliling ke tempat yang satu dan yang lainnya. Biasanya di akhir pekan, aku lebih sering pergi ke Lulu Mart (hypermarket), Giant (toko swalayan), atau Aeon Mall untuk berbelanja bahan belanja selama satu minggu kedepan. Baru sekali saja aku pergi ke Cisauk, tempat di mana stasiun KRL terdekat berada dan Pasar Modern. Besok pagi, aku akan mencoba merasakan suasana berbelanja di sana. Tidak belanja banyak karena sebagian bahan belanja sudah dibeli sore tadi. Aku menemukan tempat belanja "hidden gem" di kawasan perkampungan. Murah sekali. Tentu saja ini akan menjadi pertimbanganku selanjutnya untuk rutin berbelanja di tempat tersebut. "Bang, tempat ini hidden gem! Keluar uangnya segini doang dapatnya banyak banget" ucapku antusias. "Memang. Dari kemarin diajak keluar gak pernah mau. Kalau di kawasan perkampungan semuanya ada, warung, toko buah, jajanan gerobak, nasi padang sepuluh ribuan. Bedakan? Mangkany

Sebelum Dua Pekan.

  Aku yakinkan diri ini berulangkali sebelum berbicara kepada kedua orang tua. Ini bukan sebuah keputusan yang mudah.  Aku tahu, ada banyak rangkaian masalah yang akan menanti aku setelah gerbang perjalanan ini. Namun, pilihannya apakah aku bisa melihatnya sebagai sebuah halangan atau tantangan. “Bunda, mbak menikah boleh ga?” “Iya boleh selesai wisuda ya.” “Kan udah pernah wisuda, kuliah mbak udah siap juga tinggal wisuda doang…” “Kenapa mbak tiba-tiba ingin cepat nikah?” “Engga cepat juga sih, kakak kan udah kelar kuliah bahkan udah kerja juga..” “Emangnya, Hendra udah mau lamar mbak?” “Iya, kalau diizinin.” “Nanti bunda bilang sama ayah dulu.” Hendra adalah nama pria yang menjadi pasanganku satu tahun terakhir. Aku mengingat percakapan sekilas di malam itu. Mengapa hal ini ingin aku segerakan? Mengingat aku berencana menikah dengan dia di pertengahan tahun 2022. Bukan di awal 2021. Aku dan Hendra sudah menjalin hubungan romansa selama satu tahun terakhir. Kami