Langsung ke konten utama

KAUM MILENIAL WAJIB MANFAATKAN APLIKASI SIKASEP UNTUK WUJUDKAN RUMAH IMPIAN

(Sumber: Media Indonesia)

Bagaimana caranya agar milenial bisa memiliki rumah? Tren pertumbuhan penduduk di Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia memasuki era bonus demografi. Sebuah fenomena langkah yang hanya akan terjadi satu kali dimana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibanding jumlah penduduk tidak produktif.
Namun, sayangnya kaum yang diberi label sebagai tulang punggung ekonomi ini diprediksi tidak bisa memiliki hunian seumur hidupnya.Tentunya ada beberapa hal yang menjadi hambatan, seperti pengeluaran konsumsi yang tinggi, kenaikan upah pekerja tidak sebanding dengan lonjakan harga properti setiap tahunnya, sampai dengan benturan-benturan persyaratan perbankan yang tidak mengakomodir karakteristik generasi ini.
Rumah adalah bagian dari kebutuhan pokok manusia yang harus segera dipenuhi setelah kebutuhan sandang dan pangan. Tapi, kebanyakan milenial menggeser prioritas untuk membeli rumah dengan berperilaku konsumtif. Dengan harga properti yang semakin tinggi setiap tahun, maka dibutuhkan manajemen keuangan yang baik agar milenial bisa memiliki rumah sendiri.
Alih-alih, memutuskan untuk mengevaluasi kesalahan finansial yang dilakukan, banyak dari milenial yang mencari alasan untuk tidak memenuhi kebutuhan pokok ini. Padahal jika milenial melakukan perubahan pada gaya hidup, menyisihkan penghasilan untuk menabung uang muka, dan memilih hunian yang sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan, maka kaum ini bisa memanfaatkan subsidi program FLPP dari pemerintah.
Apa itu FLPP?
FLPP adalah kepanjangan dari Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahaan yang merupakan salah satu program pemerintah di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP) untuk membantu Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) agar bisa memanfaatkan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR). Program ini sudah ada sejak tanggal 15 Juli 2010 ini memiliki beberapa keunggulan, yaitu:
1. Pembayaran uang muka yang ringan dan suku bunga  fixed 5 % selama jangka  waktu kredit paling lama 20 tahun.
Kebutuhan akan perumahan yang layak untuk (MBR) menjadi salah satu bentuk perhatian pemerintah. Diharapkan masyarakat berpenghasilan rendah bisa memiliki hunian pertama dengan memanfaatkan program FLPP.
Pembayaran uang muka untuk program ini bisa dimulai dari 1%.  Contohnya bila milenial ingin membeli rumah tipe 36 dengan harga properti yang ditetapkan sebesar Rp 100 juta. Ditambah dengan uang muka sebesar Rp 20 juta dengan mengambil tenor kredit maksimal 20 tahun. Maka cicilan perbulan yang dibayarkan hanyalah sebesar Rp528.000 dengan suku bunga fixed 5%. Tentu tenor yang panjang dan bunga tetap membantu milenial untuk memiliki hunian dengan cicilan terjangkau.
2. Bekerja sama dengan berbagai jaringan developer di seluruh negeri.
Informasi tentang developer atau pengembang nakal yang kabur begitu saja meninggalkan perumahan yang belum selesai tanpa ada penjelasan apapun membuat siapapun harus bersikap sangat hati-hati. Namun, kaum milenial tidak perlu khawatir, karena jaringan developer yang bekerja sama dengan program FLPP sudah memenuhi sejumlah syarat ketat yang ditetapkan seperti, memvalidasi legalitas perusahaan, rekam jejak perusahaan, melakukan peninjauan lokasi proyek yang dibangun, melakukan verifikasi terhadap kepemilikan sertifikat lahan dan dokumen perizinan, serta mencari segmen sasaran yang tepat
Berdasarkan data management control PPDPP, hingga tanggal 4 April 2020 terdapat 8.782 lokasi perumahan dari 5.987 pengembang yang berasal dari asosiasi perumahan. Tentu ini merupakan bentuk seleksi ketat dari pihak pemerintah dalam menghindari pengembang yang tidak bertanggung jawab sehingga program tidak bisa berjalan dengan maksimal.
3. Adanya perlindungan asuransi jiwa, asuransi kebakaran, dan gempa bumi.
Milenial yang hendak membeli rumah, tidak hanya mendapatkan keringanan bunga cicilan saja, tetapi juga mendapatkan berbagai perlindungan asuransi yang sudah termasuk ke dalam paket program FLPP.
4. Program ini sangat kredensial dan sudah mendapatkan penghargaan bergengsi.
PUPR mendapatkan penghargaan bergengsi “TOP 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2018” dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN RB) untuk layanan e-FLPP (elektronik Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahaan) pada tahun 2018 lalu. Hal ini merupakan wujud komitmen yang dilakukan untuk meningkatkan pelayanan penyaluran subsidi dengan proses akurasi dan verifikasi data yang akurat, tepat sasaran, akuntabel dan memiliki keamanan data yang tinggi.
5. Prosesnya cepat dan mudah. Apalagi jika memanfaatkan aplikasi SiKasep (Sistem Informasi KPR Subsidi Perumahan).
Umumnya, proses untuk memiliki rumah sangat sulit. Mulai dari survei lokasi, mencari tahu kredibilitas pengembang, memilih bank yang sesuai untuk melanjutkan proses KPR yang belum tentu diterima, dan berbagai kesulitan lainnya. Tapi, dengan memanfaatkan program pemerintah yang satu ini, kini masyarakat khususnya kaum milenial bisa memiliki rumah dengan mudah dan praktis. Jawabannya adalah dengan menggunakan aplikasi SiKasep (Sistem Informasi KPR Subsidi Perumahan).
SiKasep (Sistem Informasi KPR Subsidi Perumahan)
Aplikasi SiKasep diluncurkan per tanggal 19 Desember 2019 dan bisa diunduh secara gratis. Dengan aplikasi ini, masyarakat bisa menjelajah rumah subsidi yang tersebar di seluruh Indonesia Indonesia. Melalui aplikasi ini, diharapkan siapapun bisa memiliki rumah tanpa harus keluar rumah.
Saat ini pengguna yang mengakses aplikasi SiKasep per 29 Mei 2020 sudah mencapai 156.322 calon debitur. Sebanyak 28.869 calon debitur belum mengajukan subsidi checking, 59.041 calon debitur sudah dinyatakan lolos subsidi checking, 648 calon debitur tidak lolos subsidi checking dan 16.321 calon debitur sedang dalam proses verifikasi bank.
Nah, untuk memiliki rumah subsidi dari program FLPP, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi yaitu:

  • Penerima adalah Warga Negara Indonesia (WNI) dan berdomisili di Indonesia.
  • Penerima telah berusia 21 tahun atau telah menikah.
  • Penerima maupun pasangan (suami/istri) belum memiliki rumah dan belum pernah menerima subsidi pemerintah untuk pemilikan rumah.
  • Gaji/penghasilan pokok tidak melebihi Rp 4 juta untuk Rumah sejahtera Tapak dan Rp 7 juta untuk Rumah Sejahtera Susun.
  • Memiliki masa kerja atau usaha minimal 1 tahun.
  • Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT), atau Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi sesuai perundang-undangan yang berlaku.
  • Melengkapi dokumen persyaratan yang diperlukan.
Ada beberapa data diri yang harus diregistrasi pada aplikasi SiKasep, seperti data pribadi yang berisikan nama lengkap, NPWP, penghasilan, dan nomor hp. Selain itu pengguna harus mengisi lokasi idaman dan perumahan pilihan yang berisikan provinsi, kabupaten/kota, dan kecamatan. Kemudian ditutup dengan memilih Bank Pelaksana.
Rumah dan Pandemi Coronavirus-19
Tahun 2020 menjadi tahun pembelajaran yang berarti untuk semua lapisan masyarakat di berbagai seluruh belahan dunia. Pandemi Coronavirus yang menyebabkan jutaan orang meninggal, menjadi fenomena tragedi yang akan dikenang dalam sejarah kelam manusia.  Saat ini para ilmuwan dunia sedang bekerja maksimal untuk menemukan dan mematenkan vaksin pemutus rantai virus agar tidak menambah korban lebih banyak lagi.
Sebagai salah satu tindakan pencegahan penularan virus, masyarakat di berbagai dunia diharapkan untuk mengikuti tata aturan yang diberlakukan, seperti menjaga jarak di tengah keramaian, menjaga kebersihan tangan dan anggota tubuh, serta mengonsumsi makanan yang sehat dan kaya akan vitamin.
Selain itu, selama beberapa bulan terakhir, berbagai kota di Indonesia melakukan adaptasi kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di mana aktivitas belajar, bekerja, dan beribadah harus dilakukan dari rumah saja. Hal ini menyebabkan kantor-kantor, restoran, pusat perbelanjaan modern, pasar tradisional, perhotelan, dan berbagai tempat lainnya membuat kebijakan untuk bekerja dari rumah atau work from home. Bahkan tidak dipungkiri ada jutaan pekerja yang dirumahkan mendadak akibat pandemi ini.
Bahkan menurut Kementerian Keuangan, kerugian ekonomi Indonesia akibat aktivitas ekonomi yang hilang selama masa pandemi mencapai Rp. 316 triliun. Meskipun begitu Pemerintah melalui Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PPDPP PUPR) memastikan proses bisnis penyaluran rumah subsidi pada bantuan pembiayaan FLPP tidak akan terganggu dan masyarakat tetap dapat membeli rumah tanpa harus keluar rumah melalui aplikasi SiKasep .
Data yang dihimpun dari website ppdpp.id, PPDPP PUPR sebagai badan yang mengelola dan menyalurkan dana pembiayaan FLPP terus menjalankan aktivitas menyalurkan subsi ini meskipun di tengah pandemi. Tercatat per tanggal 28 Mei 2020 telah tersalurkan sebanyak 62.158 unit rumah senilai Rp 6,28 triliun atau sebesar 60,64% dari target yang ditetapkan pemerintah sebanyak 102.500 unit atau sebesar Rp 11 triliun. Tentu ini menjadi gambaran performa FLPP yang stabil di tengah kondisi tidak pasti ini.
Milenial dan pola pikir dalam memiliki rumah.
Saat ini generasi milenial harus mengubah pola pikir tentang kepemilikan rumah. Rumah tidak harus besar, tidak harus mewah, dan tidak harus mahal. Dengan memilih rumah yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan, serta memanajemen gaya hidup yang bijak, maka bukan tidak mungkin milenial bisa mematahkan survei-survei yang memprediksi bahwa kaum ini tidak bisa memiliki rumah.
Dengan kemudahan program FLPP dari pemerintah, maka masyarakat berpenghasilan rendah khususnya milenial bisa memiliki rumah tanpa harus ke luar rumah dengan bantuan aplikasi SiKasep. Aplikasi dalam genggaman yang membuat siapapun bisa mendapatkan rumah impian.
Di tengah situasi dan kondisi pandemi yang tidak pasti, tentu rumah menjadi hal yang paling penting untuk dimiliki sebagai tempat berlindung yang paling aman.


# 1dekadeFLPP #KaryaTulisSiKasep #DBLKaryaTulisSiKasep

Tulisan ini dikompetisikan dalam Lomba Karya Tulis Mencari Rumah Tanpa Keluar Rumah Dengan SiKasep oleh Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan, Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat





Sumber internet (diakses dari tanggal 5 – 12 Juni 2020)
https://keuangan.kontan.co.id/news/lima-bank-ini-salurkan-flpp-paling-tinggi-di-kuartal-i-2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu Indonesia Bagian Hidup Sehat Bersama SEGARI

"Kapan yah pandemi ini usai?" Apakah pertanyaan ini pernah terlintas di kepalamu? Saya yakin kita semua pernah. Namun faktanya, smpai saat ini belum ada satupun ahli yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan pasti. Tanpa harus menurunkan level kepatuhan terhadap pratokol kesehatan, setidaknya kita bisa bernafas sejenak karena menurut WHO terjadi penurunan kasus positif COVID-19 hingga 77 persen dalam enam pekan terakhir. Selain itu, angka kematian rata-rata masyarakat di seluruh dunia juga sudah turun sebanyak 20 persen. Tak lupa, saat ini program Vaksinasi Nasional dari Kemenkes RI sedang berlangsung dan diharapkan bisa tersebar merata di seluruh lapisan masyarakat. Alih-alih cemas berlebihan, yuk kita lakukan sesuatu untuk melindungi diri sendiri dan keluarga. Caranya gampang banget. Mulai dengan mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan WHO, seperti mencuci tangan dengan benar, memakai masker, tidak menyentuh wajah, menjaga jarak dengan orang lain, dan bila mem

Tempat baru yang mengesankan dan kesenjangan yang luput dari penglihatan

Setelah satu bulanan tinggal di tempat baru, aku mulai berkeliling ke tempat yang satu dan yang lainnya. Biasanya di akhir pekan, aku lebih sering pergi ke Lulu Mart (hypermarket), Giant (toko swalayan), atau Aeon Mall untuk berbelanja bahan belanja selama satu minggu kedepan. Baru sekali saja aku pergi ke Cisauk, tempat di mana stasiun KRL terdekat berada dan Pasar Modern. Besok pagi, aku akan mencoba merasakan suasana berbelanja di sana. Tidak belanja banyak karena sebagian bahan belanja sudah dibeli sore tadi. Aku menemukan tempat belanja "hidden gem" di kawasan perkampungan. Murah sekali. Tentu saja ini akan menjadi pertimbanganku selanjutnya untuk rutin berbelanja di tempat tersebut. "Bang, tempat ini hidden gem! Keluar uangnya segini doang dapatnya banyak banget" ucapku antusias. "Memang. Dari kemarin diajak keluar gak pernah mau. Kalau di kawasan perkampungan semuanya ada, warung, toko buah, jajanan gerobak, nasi padang sepuluh ribuan. Bedakan? Mangkany

Sebelum Dua Pekan.

  Aku yakinkan diri ini berulangkali sebelum berbicara kepada kedua orang tua. Ini bukan sebuah keputusan yang mudah.  Aku tahu, ada banyak rangkaian masalah yang akan menanti aku setelah gerbang perjalanan ini. Namun, pilihannya apakah aku bisa melihatnya sebagai sebuah halangan atau tantangan. “Bunda, mbak menikah boleh ga?” “Iya boleh selesai wisuda ya.” “Kan udah pernah wisuda, kuliah mbak udah siap juga tinggal wisuda doang…” “Kenapa mbak tiba-tiba ingin cepat nikah?” “Engga cepat juga sih, kakak kan udah kelar kuliah bahkan udah kerja juga..” “Emangnya, Hendra udah mau lamar mbak?” “Iya, kalau diizinin.” “Nanti bunda bilang sama ayah dulu.” Hendra adalah nama pria yang menjadi pasanganku satu tahun terakhir. Aku mengingat percakapan sekilas di malam itu. Mengapa hal ini ingin aku segerakan? Mengingat aku berencana menikah dengan dia di pertengahan tahun 2022. Bukan di awal 2021. Aku dan Hendra sudah menjalin hubungan romansa selama satu tahun terakhir. Kami