Langsung ke konten utama

BERSYUKUR DAN BERDAMAI DENGAN RAMADAN DI TENGAH PANDEMI


Kamu tahu, apa yang membuat Ramadan sangat dirindukan? jawabannya adalah tentang momen-momen istimewa yang terjadi bagi kita umat muslim di berbagai belahan dunia. Selalu ada euforia yang memenuhi relung hati di waktu sahur dan berbuka puasa. Baik bersama keluarga ataupun teman-teman. Selalu ada suasana syahdu ketika menghadiri shalat berjamaah, mendengar ceramah, menonton kultum, dan menghadiri majelis-majelis yang membersihkan hati nurani dari sifat seperti rasa dengki, iri hati, dan kebencian. Selalu ada menu-menu makanan yang selama ini dinanti-nanti dan setiap gigitannya membangkitkan memori yang membersamainya. Selalu ada jutaan kebaikan dengan niat tulus dari siapapun dan untuk siapa pun.



Barangkali Tuhan ingin kita menjalankan Ramadan dengan khusyuk, tanpa ada janji buka puasa bersama 30 hari berturut-turut yang membuat lalai sholat Magrib. Tanpa ada aktivitas berkeliaran di jalanan ketika matahari baru beranjak terbit yang tak jarang berujung pada kecelakaan-kecelakaan di jalan raya. Tanpa ada rencana menghabiskan waktu berbelanja yang sering menjadi alasan untuk tidak menjalankan ibadah puasa.


Menulis tentang hal-hal yang berkaitan dengan pandemi Covid-19 bisa membuat aku merasa tidak berdaya. Jutaan nyawa manusia tidak terselamatkan. Jutaan orang kehilangan pekerjaan dalam jangka waktu singkat. Semua orang menjadi khawatir berlebihan. Namun, tidak dipungkiri bahwa wabah ini menjadi alasan dibalik lebih banyaknya orang baik saling terkoneksi untuk membantu sesama, atas dasar kemanusiaan.

Semenjak 18 maret 2020, aku sudah menjalankan Work From Home. Hal ini dilakukan atas kebijakan dari kantor untuk menekan angka penularan infeksi pandemi Covid-19. Aku bergumul dengan kenyataan yang mengharuskan aku di rumah sampai batas waktu yang belum ditentukan. Setidaknya sampai vaksin ditemukan dan diproduksi masal.
Tidak ada yang bisa menjanjikan kapan pandemi ini usai, terlebih melihat perilaku masyarakat yang apatis dan memandang sepele wabah ini. Aku cukup memaklumi mereka yang memang terpaksa harus keluar rumah karena buruh harian. Namun, aku sangat tidak habis pikir dengan mereka yang keluar rumah hanya karena merasa bosan. Padahal kalau mau berpikir lebih panjang, rumah adalah sebuah tempat di mana kita bisa merasa aman, sehat, dan terlindung dari infeksi.
Alih-alih sebagai hal yang harus diwaspadai, banyak orang yang memandang virus yang pertama kali di deteksi di Wuhan ini sebagai penghambat orang bersenang-senang. Padahal bukankah informasi para garda terdepan yang gugur karena Covid-19 dapat dengan mudah diakses dengan ponsel pintar yang dimiliki?
Pada awalnya aku menjalani WFH dengan setengah hati. sebabnya aku membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan kebiasaan yang baru ini. Tidak ada teman kantor. Tidak ada meja kantor. Tidak ada rapat di kantor. Semuanya mendadak berganti menjadi memanfaatkan apapun yang ada di rumah. Aku tak mengelak perasaan tidak nyaman ini. Pelan-pelan aku temukan solusi untuk bisa berdamai dengan diri sendiri. Kuncinya adalah perspektif. Aku mengikuti perspektif yang sekiranya bisa membuat aku menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat.
Ternyata dengan di rumah saja aku bisa menemukan pola-pola kegiatan yang lebih produktif. Aku bisa meluangkan waktu lebih banyak dengan buku-buku yang selama ini hanya dibeli tanpa dibaca, aku bisa sesekali membantu ibu di dapur, bercocok tanam di akhir pekan, belajar gratis lewat kelas-kelas virtual yang dilakukan secara masif oleh banyak pihak di berbagai media sosial, bahkan aku juga bisa menolong sesama. Semuanya aku lakukan, #CukupDariRumah saja.
Ada beberapa cuplikan cerita nih yang ingin aku bagikan selama di rumah aja, tentang aktivitas yang aku lakukan selama Ramadan di masa pandemi Covid-19 ini. Semoga ini diterima sebagai kebaikan ya di sisi Allah SWT dan semoga bisa kamu petik juga bila ada hikmahnya.
Pertama, lebih tertarik mengikuti live instagram dan webinar di Zoom.



Selama masa karantina, media sosial menjadi lebih riuh. Aku sampai geleng-geleng kepala melihat keaktifan semua orang di waktu bersamaan. Deretan informasi yang membuat isi kepala penuh dan aku memiliki kendali untuk menjeda.
Sebulan pertama kegiatan belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah dilakukan, Instagramku dipenuhi dengan teman-teman yang menjadi chef dadakan. Yang biasanya tidak pernah melangkahkan diri ke dapur berubah menjadi chef pro yang amatir. Terlebih tren Dalgona Coffee yang merajai semua postingan orang.
Menarik, sungguh semua orang sedang bertahan dan beradaptasi dengan fase ini. Untuk apa saling merutuki postingan dengan isi yang sama, bila ini adalah salah satu cara untuk berdamai kan?
Lebih dari itu, di minggu-minggu ini kolaborasi antar tiap individu mulai terjalin. Setiap hari ada jadwal live instagram dari financial adviser, social media specialist, influencer dan mindfulness practice, business coaching, dan banyak lagi yang menyemangati untuk tetap mengisi waktu dengan kegiatan yang produktif.
Menyadari bahwa otak harus senantiasa bekerja dan mengusahakannya memberi asupan adalah hal yang luar biasa bagiku.
Selain itu tak jarang, postingan di Instagram selalu mengarahkan ke link-link tertentu untuk bergabung dengan webinar di Zoom. Bagai mendapat durian runtuh rasanya!
Akses kelas yang selama ini terasa mahal, bisa didapatkan dengan gratis saat ini. Apakah itu menjadi tidak berarti? Tentu tidak. Mereka memberi akses gratis bukan karena mereka menurunkan kualitas kelas dan program, namun karena peduli dengan lingkungan dan komunitas. Ada ruang yang harus diisi untuk hal-hal yang baik.
Terlebih di bulan Ramadan, aku sangat tertarik untuk belajar tentang Ekonomi Syariah. Sebagai ilmu yang ingin aku pelajari dan eksplorasi.
Ada sebuah akun sosial Instagram yang sedang mengadakan kelas online berbayar untuk membahas Ekonomi Islam dalam berbagai pandangan. Ada banyak pihak yang tergabung di sana, mulai dari Lembaga Amil Zakat - Dompet Dhuafa, Perusahaan Financial Technology Sharia, beberapa artis Indonesia, bahkan ada beberapa ustad yang turut meramaikan dan memberikan kultum Ramadan.
Tentu aku tertarik membeli tiketnya, tapi tak disangka kebaikan itu datangnya tidak bisa diterka-terka. Aku mendapatkan askes masuk gratis ke sana, karena beberapa bulan sebelumnya aku pernah menjadi relawan di penyelenggara yang sama namun proyek yang berbeda. Senang sekali rasanya, aku tak ingin menyia-nyiakan hal ini.
Acara ini berlangsung selama dua hari. Tebak siapa speaker pertama di hari pertama? Ya, kamu benar! Dr. Imam Rulyawan, selaku Direktur Dompet Dhuafa. Ia menjadi narasumber di Talkshow: KEKUATAN ZISWAF UNTUK KEBANGKITAN EKONOMI RAKYAT.
Ada banyak poin menarik yang disampaikan dan membekas di kepala tentang zakat yang seharusnya menjadi potensi utama masyarakat Indonesia untuk menyelesaikan masalah kemiskinan.
Ia juga mengutip dari beberapa sumber terpercaya yang mengatakan bahwa penduduk Indonesia merupakan penduduk yang paling dermawan di dunia. Benar saja aku langsung mencari kebenarannya di internet dan terhubungkan dengan survey yang dilakukan Charities Aid Foundation. Jadi dengan adanya kekuatan ini, bukan tak mungkin kita bisa membangkitkan ekonomi umat.
Nah ada tiga indikator sebuah negara dikatakan dermawan menurut World Giving Index Report, yaitu kerelaan menolong orang lain, mendonasikan uang, dan kegiatan kerelawanan.
Pak Imam juga menekankan, bahwa zakat tidak hanya untuk semua muslim saja. Semua agama cenderung gemar melakukan sumbangan kepada sesama. Nah, untuk itu penting bagi setiap lembaga penyalur zakat dan didukung dengan pemerintah untuk menjaga rasa percaya yang diamanahkan.
Aku merasa terbuka sekali pikiran karena ia memaparkan bahwa wakaf tidak hanya melulu perihal wakaf tanah untuk makam atau bangunan untuk madrasah saja. Tapi wakaf juga bisa bisa berbentuk uang yang nantinya akan disalurkan untuk membuat pusat pertokoan, rumah sakit, bahkan gedung kantor seperti di luar negeri, yang nanti keuntungannya bisa disalurkan dan digunakan untuk kesejahteraan semua orang. Menarik banget kan?
Satu pesannya yang aku ingat adalah, kita jangan targetkan berapa penghasilan kita setiap bulannya, tapi kita targetkan berapa zakat kita setiap bulannya. Targetkan dua puluh juta rupiah misalnya, nanti Allah kasih kita 97,5% sisanya. Pesan yang cukup dalam bagiku.
Kedua, berpartisipasi dalam pengumpulan dan penyaluran donasi untuk masyarakat kota Medan yang tidak bisa Work From Home.



Jadi aku bersama teman-teman dari kampus tempat berkuliah dulu, buat gerakan kecil-kecilan untuk membantu pekerja harian yang tidak punya pilihan untuk menetap di dalam rumah.
Coba deh lihat akun instagramnya yaitu @gerakansaturasa, nah di sana aku garap konten kolektif untuk memberikan informasi tentang Covid-19 dan membuka donasi.
Lagi-lagi, aku takjub karena orang baik itu banyak banget ternyata. Tidak ada alasan untuk merasa sendiri, beberapa minggu keran donasi dibuka, gerakan ini berhasil menyalurkan paket donasi lebih dari 100 pak untuk para pekerja harian loh.
Para pekerja harian juga dipilih yang benar-benar layak mendapatkannya, seperti tukang becak, supir angkot, pengemudi ojek, dan penjaga warung kecil yang terlihat selama melintasi rute pembagian sembako.
Ada hati yang penuh setiap kebaikan itu tersalurkan. Aku pribadi tidak masalah sih untuk ikutan berbuat baik. Ikut-ikutan aja dahulu, kelak nantinya jadi kebiasaan kan? Amin ya rabbal alamin.
Ketiga dan yang terakhir, aku menjadi lebih belajar untuk mengenal diri sendiri dan batas kemampuanku.


Selama di rumah aja, aku merenung bahwa selama ini aku seringkali terburu-buru untuk bisa menggapai apa yang aku inginkan. Seolah-olah aku berikhtiar dan lupa untuk tawakal. Padahal semua itu hanya persoalan waktu. Bisa jadi Allah SWT akan kasih, alhamdulillah, dan Allah SWT ganti dengan yang lebih baik, alhamdulillah.
Aku merenungi banyaknya nikmat yang Allah SWT kasih tapi aku abaikan. Aku berpikir bahwa selama ini aku sudah "take things for granted". Padahal sewaktu-waktu kapan pencipta mau ambil semua yang dipinjamkannya kepadaku, bisa diambil dengan mudah.
Aku melupakan nikmat sehat untuk bisa beraktivitas setiap harinya, aku melupakan nikmat kehangatan bisa berkumpul bersama keluarga setiap harinya, aku mengabaikan betapa aku masih bisa menghirup oksigen tanpa harus membayar mahal peralatan pernapasan, aku lupa mengucapkan terima kasih atas setiap suapan makanan yang dimasak oleh ibu, dan banyak hal lainnya yang selama ini tak kusyukuri keberadaanya.
Kembali aku belajar untuk merasakan setiap hela nafas, belajar untuk menyadari bahwa semua yang dititipkan padaku adalah anugerah yang harus aku rawat dan aku optimalkan, belajar untuk menghitung sampai lelah semua nikmat dan berkat yang diberikan padaku.
Ini adalah momen aku berefleksi, mengenal diri dan mengenal pencipta, serta memohon ampun untuk setiap hal yang aku nikmati namun tidak pernah aku salurkan kembali sebagai bentuk timbal balik terhadap orang lain yang membutuhkan. Atau paling tidak sesederhana bersyukur. Tapi percayalah bersyukur menjadi rumit kala diri selalu melihat hal-hal yang tidak bisa dijangkau agar bisa bahagia.
Nah, tiga hal ini menjadi highlight di masa pandemi selama bulan Ramadan ini. Aku sama seperti kalian yang tidak membayangkan bahwa Ramadan akan berlalu seperti ini, tanpa jabat erat kerabat, tanpa rutinitas sholat di masjid, tanpa ada tradisi membangunkan sahur, tanpa ada keramaian di tempat umum, tanpa ada hadir di ruang-ruang kajian untuk berdiskusi hangat, dan tanpa ada hal-hal manis lainnya.
Namun meskipun begitu, sudah selayaknya kita menyadari bahwa Ramadan lebih dari sekadar tradisi yang terjadi secara berulang setiap tahunnya. Barangkali hanya dengan cara ini kita merasakan kembali merasakan makna bulan suci dan penuh ampunan ini.



Yuk, kita berdamai dengan suasana Ramadan kali ini. Kita temukan makna Ramadan kembali di dalam hati dengan melakukan kebaikan demi kebaikan yang tulus. Dimulai dari hal kecil saja dulu. Selamat menjalankan ibadah puasa, teman-teman.






"Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition "Ceritaku Dari Rumah" yang diselenggarakan oleh Ramadan Virtual Festival dan Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan."


#CeritakuDariRumahDDSulsel
#BlogCompetitionCeritakuDariRumah



Sumber:

Foto: menggunakan gambar yang ada di freepik.com dan diolah mandiri menggunakan Canva.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu Indonesia Bagian Hidup Sehat Bersama SEGARI

"Kapan yah pandemi ini usai?" Apakah pertanyaan ini pernah terlintas di kepalamu? Saya yakin kita semua pernah. Namun faktanya, smpai saat ini belum ada satupun ahli yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan pasti. Tanpa harus menurunkan level kepatuhan terhadap pratokol kesehatan, setidaknya kita bisa bernafas sejenak karena menurut WHO terjadi penurunan kasus positif COVID-19 hingga 77 persen dalam enam pekan terakhir. Selain itu, angka kematian rata-rata masyarakat di seluruh dunia juga sudah turun sebanyak 20 persen. Tak lupa, saat ini program Vaksinasi Nasional dari Kemenkes RI sedang berlangsung dan diharapkan bisa tersebar merata di seluruh lapisan masyarakat. Alih-alih cemas berlebihan, yuk kita lakukan sesuatu untuk melindungi diri sendiri dan keluarga. Caranya gampang banget. Mulai dengan mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan WHO, seperti mencuci tangan dengan benar, memakai masker, tidak menyentuh wajah, menjaga jarak dengan orang lain, dan bila mem

Tempat baru yang mengesankan dan kesenjangan yang luput dari penglihatan

Setelah satu bulanan tinggal di tempat baru, aku mulai berkeliling ke tempat yang satu dan yang lainnya. Biasanya di akhir pekan, aku lebih sering pergi ke Lulu Mart (hypermarket), Giant (toko swalayan), atau Aeon Mall untuk berbelanja bahan belanja selama satu minggu kedepan. Baru sekali saja aku pergi ke Cisauk, tempat di mana stasiun KRL terdekat berada dan Pasar Modern. Besok pagi, aku akan mencoba merasakan suasana berbelanja di sana. Tidak belanja banyak karena sebagian bahan belanja sudah dibeli sore tadi. Aku menemukan tempat belanja "hidden gem" di kawasan perkampungan. Murah sekali. Tentu saja ini akan menjadi pertimbanganku selanjutnya untuk rutin berbelanja di tempat tersebut. "Bang, tempat ini hidden gem! Keluar uangnya segini doang dapatnya banyak banget" ucapku antusias. "Memang. Dari kemarin diajak keluar gak pernah mau. Kalau di kawasan perkampungan semuanya ada, warung, toko buah, jajanan gerobak, nasi padang sepuluh ribuan. Bedakan? Mangkany

Sebelum Dua Pekan.

  Aku yakinkan diri ini berulangkali sebelum berbicara kepada kedua orang tua. Ini bukan sebuah keputusan yang mudah.  Aku tahu, ada banyak rangkaian masalah yang akan menanti aku setelah gerbang perjalanan ini. Namun, pilihannya apakah aku bisa melihatnya sebagai sebuah halangan atau tantangan. “Bunda, mbak menikah boleh ga?” “Iya boleh selesai wisuda ya.” “Kan udah pernah wisuda, kuliah mbak udah siap juga tinggal wisuda doang…” “Kenapa mbak tiba-tiba ingin cepat nikah?” “Engga cepat juga sih, kakak kan udah kelar kuliah bahkan udah kerja juga..” “Emangnya, Hendra udah mau lamar mbak?” “Iya, kalau diizinin.” “Nanti bunda bilang sama ayah dulu.” Hendra adalah nama pria yang menjadi pasanganku satu tahun terakhir. Aku mengingat percakapan sekilas di malam itu. Mengapa hal ini ingin aku segerakan? Mengingat aku berencana menikah dengan dia di pertengahan tahun 2022. Bukan di awal 2021. Aku dan Hendra sudah menjalin hubungan romansa selama satu tahun terakhir. Kami