Langsung ke konten utama

IN THE END, PASSION DOES NOT ENOUGH



Hai, this is for you who feels empty, frustrated, and anxious. Maybe for me too…


We will start with a Japanese proverb, “only staying active will make you want to live a hundred years”. Ada dua tanggapan yang akan muncul, pertama “keep staying active” yang bagaimana? Dan yang kedua adalah “untuk apa kita hidup selama seratus tahun?”

Aku sedang tidak membagikan klasifikasi sioptimis dan sipesimis, karena dunia tidak sebatas hitam dan putih saja bukan? Tapi aku akan mengantarkan kamu ke pertanyaan pertama “what is your reason for being?”

“Kita hadir di dunia untuk sebuah alasan dan tujuan?” Pasti sering dong kita mendengar ungkapan klise seperti itu. Umumnya tanggapan kita hanya mengangguk mencoba memahami. Alih-alih menganggap itu sebagai angin lalu, mengapa kita tak langsung bertanya kepada diri sendiri, “Apa memang tujuannya?”

Seringkali kita tertarik untuk selalu belajar berpikir kritis, bernegoisasi dengan orang lain, bagaimana diterima di sebuah lingkungan yang baru. Namun, karena terlalu asik belajar dan ingin menyenangkan orang lain, kita lupa kalau diri kita sendiri juga layak untuk dibuat senang. Dengan cara mengkritisi diri kita, bernegoisasi dengan diri sendiri, dan yang paling penting bagaimana diri kita bisa menerima diri sendiri.

Ada yang pernah bilang kalau perjalanan paling jauh itu bukan mengelilingi bumi, tapi mengenal diri sendiri.

Sebuah rute yang aku yakini untuk menyelami makna diri adalah dengan mengetahui apa ikigai-ku.

Apa itu IKIGAI?

Sederhananya, a reason to jump out of bed each morning. Aku punya. Kamu punya. Kita semua punya. Tapi hanya saja sebagian dari kita belum menemukannya. IKIGAI ini juga sejalan dengan konsep basic and crusial, “setiap orang punya timingnya masing-masing.”

Some people have found their ikigai, while others are still looking, though they carry it within them.

What you love + what you are good at = Passion
What you love + what the world needs = Mission
What you are good at + what you can be paid for = Profession
What you can be paid for + what the world needs = Vocation

Passion + mission + profession + vocation = IKIGAI

The point is, kita loh yang jadi tourguide untuk menemukan  apa ikigai kita. Bukan orang lain, mereka mah ga akan ngerti. Yakini dulu kalau kita tahu apa yang kita beneran suka, karena hal tersebut buat merasa tertantang, nyaman, bisa menghasilkan uang, atau bahkan feedback yang kita dapat dari orang lain buat kita kecanduan dan semakin semangat untuk melakukan hal tersebut.

Belajar dari masyarakat Jepang yang hidup di pulau Okinawa, yaitu salah satu tempat Blue Zoned. Kawasan di mana populasi masyarakat yang tinggal adalah mereka yang sudah lanjut usia namun masih terlihat sehat baik dari tubuh, pikiran, bahkan semangat.

Rahasianya adalah kultur mereka yang menganggap “the idea of retirement simply doesn’t exist there”. They keep doing what they love for as long as their health allows.

Selain Okinawa, ada Sardinia, Loma Linda, The Nicoya Peninsula, dan Ikaria yang masuk ke dalam The five blue zones.

Ada beberapa faktor penyebab dan jadi perhatian khusus mengapa mereka bisa berusia panjang. Seperti menolong orang lain karena  “helping others might be an ikigai strong enough to keep them alive”,  menemukan tujuan hidup, menhaga pola hidup sehat dan teratur, serta punya hubungan yang baik dengan teman dan keluarga.

“They don’t do strenuous exercise, but they do more every day, taking walks and working in their vegetable gardens. People in their vegetable gardens. People in the Blue Zones would rather walk than drive. Gardening, which involves daily low-intensity movement, is a practice almost all of them have in common.

A sound mind is  a sound body

Dalam artian ketika kamu menemukan ikigai-mu, kamu tidak mengesampingkan kesehatan. Because both body and mind are important and the health of one is connected to that of the other. Jadi penting untuk selalu memberi stimulasi kepada pikiran kamu secara rutin.



Bagaimana dengan kondisi stress?

Kondisi hari ini kita semua itu berkompetisi antara satu sama lain. Jadi setres malah kondisi anxiety karena tubuh kita menanggapi informasi yang kita terima. It sound like alarm who tell you if your body does not fit enough, guys. Jadi solusi mereduksinya adalah dengan melatih pikiran untuk selalu bersikap mindfulness dan menyaring informasi apa sih yang bisa kita serap.

Achieving mindfulness involves a gradual process of training, but with a bit of practice we can learn to focus our mind completely, which reduces stress and helps us live longer.

To keep healthy and have a long life, eat just a little of everything with relish, go to bed early, get up early, and then go out for a walk.
We live each day with serenity and we enjoy the journey.
To keep healthy and have a long life, we get on well with all of our friends.
Spring, summer, fall, winter, we happily enjoy all the seasons.
The secret is to not get distracted by how old the fingers are: from the fingers to head and back omce again.
If you keep moving with your fingers working, 100 years will come to you.*
(*Steven Tolliver)

Something to live for..

·       We don’t create meaning in our life, we discover it.
·       We have a unique reason for being, which can be adjusted or transformed many times over the years.
·       Just as worry often brings about the thing that was feared, excessive attention to a desire (or “hyper intention”) can keep that desire from being fulfilled.
·       Humor can help break negative cycles and reduce anxiety.
·       We all have the capacity to do noble or terrible things. The side of the equation we end up on depends on our decisions, not on the condition in which we find ourselves.”

Berdamai dengan keadaan

“If we try to get rid of one wave with another, we end up with an infinite sea.” Kamu harus paham bahwa tidak semua hal bisa di bawah kontrolmu, tapi satu-satunya yang bisa dikendalikan ialah bagaimana kita meresponnya.”

Selama ini barangkali kita hidup dalam angan-angan. Sebuah kondisi di mana kita baru menjadi manusia berharga kalau kita berhasil mencapai hal-hal tersebut. No, tanpa harus disukai sekelompok orang, diri kamu pantas diperlakukan dengan baik oleh dirimu sendiri.

Coba deh buat pandangan yang jelas, buat definisi yang realitis apa “life’s purpose-mu”. Belum tentu hal yang bekerja di orang lain itu cocok untuk kamu. Jadi perbandingannya tidak antara kamu dan orang lain. Tapi kamu dan diri sendiri.

Mereka yang berhasil dan dielu-elukan dunia, pasti juga pernah merasakan posisi kesulitan seperti kamu hari ini.

Mereka yang berhasil adalah mereka yang bisa berdamai dengan diri sendiri dan mengoptimalkan kemampuan karena bentuk syukur bukan karena untuk tepuk tangan.

The power of flow



There is no magic recipe for finding happiness, for living according to your ikigai, but one key ingredient is the ability to reach this state of flow and, through this states, to have an “optimal experience.”

Ada beberapa strategi yang bisa kamu terapkan untuk going the flow!



Strategi pertama pilih hal yang paling sulit namun bisa kamu atasi.

Setiap aktivitas apa pun yang hendak dilakukan pasti kan punya peraturan dan butuh skill yang mumpuni kan? Nah, kalau semuanya dengan mudah kita selesaikan terus di mana tantangannya? Tapi kalau kamu tantang diri kamu dengan difficult task tapi kamu sama sekali tidak punya skill di area tersebut jatuhnya juga frustrasi kan?

Nah, the ideal is to find a middle path. Sesuatu yang relevan dengan kampuan kamu tapi butuh di-develop. This is what Ernest Hemingway meant when he said, “sometimes I write better than I can”.
Add a little something extra, something that takes you out of your comfort zone.

Strategi kedua, kamu harus memiliki misi yang jelas dan konkrit.

Supaya terjawab dengan jelas, coba ajukan pertanyaan-pertanyaan seperti di bawah ini sebelum memulai sesuatu:

·       What is my objective for today’s session in the studio?
·       How many words as am I going to write today for the article coming out next month?
·       What is my team’s mission?
·     How fast will I set the metronome tomorrow in order to play that sonata at an allegro tempo by the end of the week?
Once the journey has begun, we should keep this objective in mind without obsessing over it. Yuk, mulai dengan langkah pertama untuk menghilangkan anxiety kamu perlahan.

Vague Objective
Clearly Defined Objective and a Focus on Process
Obsessive Desire to Achieve a Goal While Ignoring Process
Confusion: time and energy wasted on meaningless tasks
Flow
Fixation on the objective rather than getting down to business.
Mental block
Flow
Mental block.


Strategi ketiga, kamu harus konsentrasi dan fokus.

Duh, fokus emang menjadi masalah yang sulit sih untuk saat ini. Ada banyak distraksi yang membuat kita malah melupakan tugas utama kita. Dan ini sering terjadi. Namun kamu harus menanamkan hal ini ya, “concentracing on one thing at a time may be the single most important factor in achieving a flow.”

Advantage of Flow
Disadvantage of Distraction
A focused mind
A wandering mind
Living in the present
Thinking about the past and the future
We are free from worry
Concerns about our daily life and the people around us invade our thoughts
The hours fly by
Every minute seems endless
We feel in control
We lose control and fail to complete the task at hand, or other tasks or people keep us from our work
We prepare thoroughly
We act without being prepared
We know what we should be doing at any given moment
We frequently get stuck and don’t know how to proceed
Our mind is clear and overcomes all obstacles to the flow of thought
We are plagued by doubts. Concerns, and low self-esteem
It’s pleasant
It’s boring and exhausting
Our ego fades: We are not the ones controlling the activity or task
Constant self-criticism: Our ego is present and we feel frustrated

Life is inherently ritualistic

Hal yang paling aku salut dari budaya Jepang sendiri adalah meskipun mereka hidup dalam mobilitas modernitas tapi ritual-ritual ajaran agama adalah tetap menjadi hal yang absolut. Artinya setiap kamu melakukan apa pun disana, perilaku, proses, dan bagaimana caramu menghadapinya lebih bernilai daripada hasil akhir.

Rituals give up clear rules and objectives, which help us enter a state of flow. When we have only a big goal in front of us, we might feel lost or overwhelmed by it; rituals help us by giving us the process, the substeps, on the path to achieving a goal.

Break down your big goal and focus enjoy your daily rituals Don’t worry about the outcome-it will come naturally. Happiness is in the doing, not tin the result. As a rule of thumb, remind yourself: “rituals over goals.”

Nah kamu bisa menggunakan flow untuk menemukan ikigai-mu. Caranya adalah tulis hal yang kamu lakukan dan senangi dalam selembar kertas dan tanyakan kepada dirimu “what do the activities that drive you to flow have in common?”

Pada akhirnya kamu akan menemukan ikigai, tapi jika belum jangan berhenti untuk mencari dan menemukannya. Cobalah hal-hal baru yang memancing rasa penasaranamu. Flow is mysterious. It is like a mucle: the more you train it, the more you will flow, and the closer you will be to your ikigai.
Setelah menemukan ikigai, kamu akan dihadapkan dengan resilience.

Kalau bicara passion kita bisa putar arah, tapi kalau berbicara tentang ikigai pilihannya kita hanya resilience.

Sooner or later, we all have to face difficult moments, and the way we do this can make a huge difference to our quality of life. Proper training for our mind, body, and emotional resilience is essential for confronting life’s ups and downs.

Resilient adalah mereka yang berani untuk melangkah mundur. The more resilient we are, the easier it will be to pick ourselves up and get back to what gives meaning to our lives.

Resilient people know how to stay focused on their objectives, on what matters, without giving in to discouragement. Their flexibility is the source of their strength: They know how to adapt to change and to a reversal of fortunes. They concentrate on things, they can control and don’t worry about those they can’t.

The last one, “Keep going; don’t change your path”. Once you discover your ikigai, pursuing it and nurturing it every day will bring meaning to your life. The moment your life has this purpose, you will achieve a happy state of flow in all you do.

The ten rules of ikigai;
1.     Stay active, don’t retire.
2.     Take it slow.
3.     Don’t fill your stomach.
4.     Surround yourself with good friends.
5.     Get in shape for your next birthday.
6.     Smile.
7.     Reconnect with nature.
8.     Give thanks.
9.     Live in the moment.
10.  Follow your ikigai.

 Thank you for reading, semoga bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu Indonesia Bagian Hidup Sehat Bersama SEGARI

"Kapan yah pandemi ini usai?" Apakah pertanyaan ini pernah terlintas di kepalamu? Saya yakin kita semua pernah. Namun faktanya, smpai saat ini belum ada satupun ahli yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan pasti. Tanpa harus menurunkan level kepatuhan terhadap pratokol kesehatan, setidaknya kita bisa bernafas sejenak karena menurut WHO terjadi penurunan kasus positif COVID-19 hingga 77 persen dalam enam pekan terakhir. Selain itu, angka kematian rata-rata masyarakat di seluruh dunia juga sudah turun sebanyak 20 persen. Tak lupa, saat ini program Vaksinasi Nasional dari Kemenkes RI sedang berlangsung dan diharapkan bisa tersebar merata di seluruh lapisan masyarakat. Alih-alih cemas berlebihan, yuk kita lakukan sesuatu untuk melindungi diri sendiri dan keluarga. Caranya gampang banget. Mulai dengan mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan WHO, seperti mencuci tangan dengan benar, memakai masker, tidak menyentuh wajah, menjaga jarak dengan orang lain, dan bila mem

Tempat baru yang mengesankan dan kesenjangan yang luput dari penglihatan

Setelah satu bulanan tinggal di tempat baru, aku mulai berkeliling ke tempat yang satu dan yang lainnya. Biasanya di akhir pekan, aku lebih sering pergi ke Lulu Mart (hypermarket), Giant (toko swalayan), atau Aeon Mall untuk berbelanja bahan belanja selama satu minggu kedepan. Baru sekali saja aku pergi ke Cisauk, tempat di mana stasiun KRL terdekat berada dan Pasar Modern. Besok pagi, aku akan mencoba merasakan suasana berbelanja di sana. Tidak belanja banyak karena sebagian bahan belanja sudah dibeli sore tadi. Aku menemukan tempat belanja "hidden gem" di kawasan perkampungan. Murah sekali. Tentu saja ini akan menjadi pertimbanganku selanjutnya untuk rutin berbelanja di tempat tersebut. "Bang, tempat ini hidden gem! Keluar uangnya segini doang dapatnya banyak banget" ucapku antusias. "Memang. Dari kemarin diajak keluar gak pernah mau. Kalau di kawasan perkampungan semuanya ada, warung, toko buah, jajanan gerobak, nasi padang sepuluh ribuan. Bedakan? Mangkany

Sebelum Dua Pekan.

  Aku yakinkan diri ini berulangkali sebelum berbicara kepada kedua orang tua. Ini bukan sebuah keputusan yang mudah.  Aku tahu, ada banyak rangkaian masalah yang akan menanti aku setelah gerbang perjalanan ini. Namun, pilihannya apakah aku bisa melihatnya sebagai sebuah halangan atau tantangan. “Bunda, mbak menikah boleh ga?” “Iya boleh selesai wisuda ya.” “Kan udah pernah wisuda, kuliah mbak udah siap juga tinggal wisuda doang…” “Kenapa mbak tiba-tiba ingin cepat nikah?” “Engga cepat juga sih, kakak kan udah kelar kuliah bahkan udah kerja juga..” “Emangnya, Hendra udah mau lamar mbak?” “Iya, kalau diizinin.” “Nanti bunda bilang sama ayah dulu.” Hendra adalah nama pria yang menjadi pasanganku satu tahun terakhir. Aku mengingat percakapan sekilas di malam itu. Mengapa hal ini ingin aku segerakan? Mengingat aku berencana menikah dengan dia di pertengahan tahun 2022. Bukan di awal 2021. Aku dan Hendra sudah menjalin hubungan romansa selama satu tahun terakhir. Kami