Langsung ke konten utama

Pesona Luhur Lanskap Alam Sumatera Utara yang Membanggakan

(Sumber: YouTube Humas Sumut)

Hal apa yang pertama kali terlintas dibenakmu ketika mendengar kata Sumatera Utara? Sebagian orang menjawab takjub tentang Festival Danau Toba 2019 yang berhasil memecahkan rekor MURI karena ada sebanyak 1.024 orang yang memakai Bulang Sulappei. Sebagian lagi menjawab kompak tentang kain ulos batak yang  menjadi cendera mata pada acara tahunan IMF di Bali 2019. Dan ada juga yang menjawab bangga tentang tumbuhan budidaya khas tanah Batak, Andaliman yang sudah diperkenalkan kepada dunia melalui acara United Nation Convention On Climate Change 2018 lalu.

Menurut pak Edy Rahmayadi, Gubernur Sumatera Utara, baginya Sumatera Utara adalah anugerah ilahi, tanahnya subur, sumber dayanya melimpah, beragam etnis hidup berdampingan, kaya bahasa, kaya istiadat, dan menyatu dalam khasanah budaya.

Ditambahkan oleh pak Musa Rajekshah yang mengatakan bahwa Sumatera Utara adalah surga kecil yang dititipkan Tuhan disini, semilir angin laut, hamparan pasir putih, gunung, hutan, sawah, gugusan pulau eksotis, pesona Kaldera Toba tak pernah mati.

Sementara bagi saya Sumatera Utara lebih dari stereotip yang melekat yang mengatakan bahwa masyarakatnya memiliki volume suara yang tinggi dan karakter yang keras. Lebih dari tempat pencetak penyanyi-penyanyi dengan suara menggelegar dan menggoncang panggung. Lebih dari tempat dimana sajian makanannya luar biasa nikmat dan beragam. Ada banyak hal membanggakan yang bisa digali lebih dalam lagi dari Sumatera Utara yang akan membuat siapapun terpukau.

Rasa bangga sudah mulai membuncah di dada kala wisatawan domestik dan mancanegara memasuki wilayah Sumatera Utara via udara. Pendatang akan disambut dengan Bandar Udara Internasional Kualanamu yang luasnya mencapai 1.300 hektar. Bandar udara pengganti Polonia ini dilengkapi fasilitas canggih dan desain futuristik. Terbesar nomor dua setelah Bandar Udara Soekarno-Hatta.

Ada empat hal yang disorot dari Bandar Udara Internasional Kualanamu yang membuat masyarakat Sumatera Utara harus bangga, yaitu:

1. Bandara Internasional Kualanamu mendapatkan bintang 4 untuk penilaian Airline Quality Rangking yang dilakukan Skytrax, perusahaan konsultan penerbangan Inggris. Sertifikasi ini setara dengan Frankfurt Airport dan Abu Dhabi International Airport.

2. Memiliki fasilitas modern Integrated Baggage Handling Screening System (IBHSS) dengan tingkat pendeteksi keamanan tertinggi yang memungkinkan bandara ini menerapkan sistem seperti di Singapore Changi Airport.

3. Bandar Udara Internasional Kualanamu terintegrasi dengan transportasi kereta api, Railink, yang bisa mencapai bandara hanya dalam waktu ± 40 menit saja.

4. Daya tampung bandar udara ini dipersiapkan untuk melayani sebanyak 22,1 juta penumpang setiap tahunnya dan bisa menampung pesawat seperti Boeing 747 dan Airbus A-380 dengan panjang runway mencapai 3.750 meter.

Periode semester pertama di tahun 2019 Sumatera Utara berhasil menarik jumlah wisatawan mancanegara sebanyak 122.300. Sejalan dengan misi presiden Indonesia yang menjadikan Danau Toba sebagai Destinasi Wisata Super Prioritas bersama Likupang, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo.

Mari kita telusuri 5 ikon populer destinasi wisata alam di Sumatera Utara yang menjadi kebangaan masyarakat Sumatera Utara:

1. Danau Toba yang misterius

Danau ini merupakan danau vulkanik terbesar di dunia yang dikelilingi perbukitan dan air terjun. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti berapa kedalamannya.

Ada beragam acara yang diselenggarakan di Danau Toba yang bertujuan untuk memperkenalkan potensi dan pesonanya yang memukau, seperti Festival Danau Toba, Pesta Adat Sihaporas, Karnaval Si Gale-gale, Toba Caldera World Music Festival, Festival Tumba, Festival Rondang Bittang, Gebyar Taput, Samosir Music International, Grand Fondo New York Lake Toba, Tour de Sinabung, Pesta Budaya Oang-Oang, Karnaval Pesona Danau Toba, Pesta Budaya Njuah-Njuah, Festival Tenun 2019, Tao Silalahi Art Festival, dan Festival Babi Danau Toba atau Pig and Pork Lake Toba.

Menulis tentang Danau Toba, ingatan saya berkelana dengan pameran kain ulos yang pernah saya hadiri di Andaliman Hall. Pameran yang membuka cakrawala saya tentang pentingnya kain tradisional bagi suku Batak. Mulai dari dalam kandungan sampai meninggal dunia, mulai dari acara bersuka cita sampai ke acara berduka cita. Namun sayangnya kini sudah tradisi tersebut sudah memudar bahkan cenderung dilupakan.

Torang Sitorus selaku perancang busana dan kolektor kain ulos di acara itu berkata bahwa kualitas kain tenun kita tidak kalah dengan kualitas kain tenun di wilayah Indonesia yang lain. Tapi hal ini nyatanya tidak diimbangi dengan minat masyarakat lokal untuk mengapresiasi kain tradisional.

Lagi-lagi saya berdecak kagum karena kain ulos jenis Harungguan yang dipamerkan tersebut menjadi souvenir acara pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia 2019 di Bali. Tidak sampai disitu, kain ulos tersebut juga mendapatkan penghargaan dari World Crafts Council (WCC) yang berafiliasi dengan UNESCO.

Yang membuat kain ulos tersebut semakin menarik adalah pewarna alami yang memanfaatkan kayu mahoni, pinang, lumpur, indigo, sampai jamur dan kayu mati. Tak tanggung-tanggung, kain ulos karyanya dihargai mulai dari sepuluh sampai dua puluh lima juta rupiah untuk setiap lembarnya. Tentu ini adalah harga yang pantas untuk proses pembuatan kain secara tradisional.

2. Pesona Pulau Nias yang eksotis

Pulau Nias dianugerahi dengan deretan pantai-pantai pasir putih yang memesona. Mulai dari pantai Sorake, pantai Lagundri, pantai Sirombu, pantai Gawu Soyo, pantai Tureloto, pantai Hoya, pantai Ladeha, pantai Pasir Berbisik, pulau Panjang, pulau Tello, sampai pulau Asu.

Acara kompetisi dunia seperti Nias Selatan Open Surfing Contest dan Nias Pro selalu dipenuhi para peselancar dari seluruh dunia yang ingin memacu adrenalin dengan ombak pantai Sorake, salah satu dari sepuluh pantai terbaik di dunia untuk berselancar.

Tidak hanya pantai yang terkenal di Pulau Nias, namun juga "Togi Laowomaru" yakni goa tempat tinggal Laowomaru yang sakti mandraguna. Saking saktinya ia pernah mencoba menyatukan Pulau Nias dengan Pulau Sumatera, meskipun pada akhirnya hal tersebut tidak berhasil dilakukan.

Pulau yang kaya akan destinasi wisata bahari dan cerita-cerita rakyat yang berkembang ini juga memiliki acara tahunan yang tak kalah meriah yaitu Sail Nias. Kegiatan ini diramaikan dengan pertunjukan tari Fatele atau tarian perang yang dilakukan secara kolosal oleh 600 penari asli Nias dan pertunjukan Hombo Batu atau lompat batu yang dilakukan oleh 100 pelompat batu.

3. Berpetualang di Bukit Lawang dan Taman Nasional Gunung Leuser

Taman Nasional Gunung Leuser adalah wilayah hutan tropis yang wilayah administratifnya terletak di provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Taman nasional ini merupakan kawasan pelestarian alam yang menjadi rumah bagi Orang Utan. Kawasan cagar alam ini pernah menjadi Pusat Rehabilitasi Orang Utan oleh Frankfurd Zoological Society.

Sebelum memasuki taman nasional, pengunjung akan memasuki kawasan Bukit Lawang yang merupakan pintu gerbang taman nasional. Ada beragam tujuan pengunjung memasuki Taman Nasional Hutan Gunung Leuser mulai dari melakukan pengamatan, penelitian, dokumentasi fotografi, dan lain sebagainya.

Menjelajahi taman nasional ada baiknya bila ditemani dengan pemandu. Ada banyak flora dan fauna yang bisa ditemui di dalam hutan. Bahkan semakin menjelajah ke dalam hutan maka akan banyak tumbuhan dan satwa langka yang bisa ditemukan.

Bulan Oktober tahun 2019 saya merasa sangat beruntung karena untuk pertama kalinya bisa menjelajahi Taman Nasional Gunung Leuser.

Ada banyak cerita yang disampaikan oleh pemandu dalam perjalanan menjelahi hutan yang membuat saya menyadari bahwa wisata alam belum banyak digemari oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Dilihat dari lebih antusiasnya turis mancanegara untuk bertemu dengan flora dan fauna di kawasan taman nasional ini.

Kawasan ini sedang berbenah, akses infrastruktur jalan yang mulai mulus dan masyarakat setempat yang sudah diedukasi dalam hal pengetahuan pariwisata dan berbahasa asing untuk menyambut turis mancanegara.

Kala itu petualangan saya di dalam Taman Nasional Gunung Leuser bertujuan untuk mencari Orang Utan yang dinamai dengan "Jantan Besar". Dinamakan begitu karena ia merupakan Orang Utan paling besar yang pernah dirawat di pusat konservasi sebelum ditutup. Sayang sekali waktu lima jam di dalam hutan tidak berhasil membawa saya untuk berjumpa dengannya.

Padahal suara-suara menyerupai Orang Utan sudah dikeluarkan sebagai isyarat panggilan. Meskipun begitu perjalanan hari itu ditutup dengan melakukan river tubbing di sungai Bahorok yang sangat seru sekali.

Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser juga didiami oleh Harimau Sumatera, Badak Sumatera, Gajah Sumatera, Beruang Madu, Musang, Siamang, Ajag, dan Rangkong Papan.

4. Menikmati pemandian air berkarbonasi yang dua dari tiga mata airnya ada di Sumatera Utara

Pemandian air berkarbonasi atau air soda merupakan objek wisata langka yang hanya ada di 3 tempat di seluruh dunia. Pertama di Venezuela, Amerika Selatan dan beruntungnya dua mata air lagi berada di Tarutung (Aek Rara) dan Tanah Karo (Air Soda Lau Macem). Tempat-tempat wisata di Sumatera Utara kaya sekali akan cerita-cerita masyarakat yang bisa kamu ulik, terlepas dari fenomena alamnya

Pemandian air soda di Tarutung atau Aek Rara berawal dari sumber mata air yang ditemukan Minar Sihite, seorang bidan yang sedang mencangkul tanah di hutan. Air itu bewarna merah dan beraroma layaknya minuman berkarbonasi atau soda. Ada beberapa larangan juga yang harus dipatuh pengunjung, seperti menjaga ucapan yang keluar dari mulut dan tidak boleh berenang dengan telanjang meskipun anak kecil.

Tertarik menikmati pemandian air soda yang dikelilingi dengan pemandangan hijau persawahan?

5. Panorama Air terjun Sigura Gura, air terjun tertinggi di Indonesia

Air terjun ini  memiliki ketinggian sekitar 250 meter dengan pesona yang luar biasa indahnya. Udara di kawasan ini sangat sejuk dan asri, penyebabnya area air terjun masih berada di kawasan Pegunungan Bukit Barisan yang membentang dari Aceh sampai Lampung.

Ada beragam aktivitas yang bisa dilakukan disini, seperti bermain arum jeram dan memanjat tebing. Acara kompetisi arum jeram tingkat nasional dan internasional pernah di gelar di kawasan Air Terjun Sigura Gura.

Sumatera Utara memiliki danau vulkanik terbesar di dunia, salah satu pantai terbaik di dunia untuk berselancar, tempat pengamatan spesies orang utan yang terancam punah, objek wisata air berkarbonasi yang langka dan hanya ada 3 di dunia, sampai air terjun raksasa di Indonesia.

Rasa bangga saja tidak cukup hanya diekspresikan dengan ungkapan, rasa bangga harus kita iringi dengan tindakan pembuktian. Hal ini bisa dimulai dengan mengimplementasikan motto, “Tekun berkarya, hidup sejahtera, mulia berbudaya" dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan sungguh tak tanggung-tanggung menganugerahi bumi Sumatera Utara dengan sejuta pesona yang luar biasa dan tidak ternilai harganya.

Saat ini yang harus dilakukan adalah menyadari potensi Sumatera Utara yang luar biasa, tidak hanya sebatas pada destinasi wisata alam saja, tapi juga merawat bangunan bersejarah, serta menjaga adat dan istiadat. Memperkenalkan dengan bangga potensi wisata, potensi budaya, kepada seluruh masyarakat Indonesia dan seluruh masyarakat dunia.

Mari kita jaga kekayaan alam ini Sumatera Utara sebagai wujud rasa bangga kita dan menjadikannya kebermanfaatan untuk kesejahteraan masyarakatnya tanpa harus merusak lingkungan dan melupakan tradisi. Menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya sebatas Bali ataupun Labuan Bajo, tapi ada surga lain yang harus disadari yaitu Sumatera Utara.


Esai berjudul "Pesona Luhur Lanskap Alam Sumatera Utara yang Membanggakan" diikutkan dalam kompetisi Aku Bangga Sumatera Utara yang diselenggarakan oleh Humas Sumut.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu Indonesia Bagian Hidup Sehat Bersama SEGARI

"Kapan yah pandemi ini usai?" Apakah pertanyaan ini pernah terlintas di kepalamu? Saya yakin kita semua pernah. Namun faktanya, smpai saat ini belum ada satupun ahli yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan pasti. Tanpa harus menurunkan level kepatuhan terhadap pratokol kesehatan, setidaknya kita bisa bernafas sejenak karena menurut WHO terjadi penurunan kasus positif COVID-19 hingga 77 persen dalam enam pekan terakhir. Selain itu, angka kematian rata-rata masyarakat di seluruh dunia juga sudah turun sebanyak 20 persen. Tak lupa, saat ini program Vaksinasi Nasional dari Kemenkes RI sedang berlangsung dan diharapkan bisa tersebar merata di seluruh lapisan masyarakat. Alih-alih cemas berlebihan, yuk kita lakukan sesuatu untuk melindungi diri sendiri dan keluarga. Caranya gampang banget. Mulai dengan mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan WHO, seperti mencuci tangan dengan benar, memakai masker, tidak menyentuh wajah, menjaga jarak dengan orang lain, dan bila mem

Tempat baru yang mengesankan dan kesenjangan yang luput dari penglihatan

Setelah satu bulanan tinggal di tempat baru, aku mulai berkeliling ke tempat yang satu dan yang lainnya. Biasanya di akhir pekan, aku lebih sering pergi ke Lulu Mart (hypermarket), Giant (toko swalayan), atau Aeon Mall untuk berbelanja bahan belanja selama satu minggu kedepan. Baru sekali saja aku pergi ke Cisauk, tempat di mana stasiun KRL terdekat berada dan Pasar Modern. Besok pagi, aku akan mencoba merasakan suasana berbelanja di sana. Tidak belanja banyak karena sebagian bahan belanja sudah dibeli sore tadi. Aku menemukan tempat belanja "hidden gem" di kawasan perkampungan. Murah sekali. Tentu saja ini akan menjadi pertimbanganku selanjutnya untuk rutin berbelanja di tempat tersebut. "Bang, tempat ini hidden gem! Keluar uangnya segini doang dapatnya banyak banget" ucapku antusias. "Memang. Dari kemarin diajak keluar gak pernah mau. Kalau di kawasan perkampungan semuanya ada, warung, toko buah, jajanan gerobak, nasi padang sepuluh ribuan. Bedakan? Mangkany

Sebelum Dua Pekan.

  Aku yakinkan diri ini berulangkali sebelum berbicara kepada kedua orang tua. Ini bukan sebuah keputusan yang mudah.  Aku tahu, ada banyak rangkaian masalah yang akan menanti aku setelah gerbang perjalanan ini. Namun, pilihannya apakah aku bisa melihatnya sebagai sebuah halangan atau tantangan. “Bunda, mbak menikah boleh ga?” “Iya boleh selesai wisuda ya.” “Kan udah pernah wisuda, kuliah mbak udah siap juga tinggal wisuda doang…” “Kenapa mbak tiba-tiba ingin cepat nikah?” “Engga cepat juga sih, kakak kan udah kelar kuliah bahkan udah kerja juga..” “Emangnya, Hendra udah mau lamar mbak?” “Iya, kalau diizinin.” “Nanti bunda bilang sama ayah dulu.” Hendra adalah nama pria yang menjadi pasanganku satu tahun terakhir. Aku mengingat percakapan sekilas di malam itu. Mengapa hal ini ingin aku segerakan? Mengingat aku berencana menikah dengan dia di pertengahan tahun 2022. Bukan di awal 2021. Aku dan Hendra sudah menjalin hubungan romansa selama satu tahun terakhir. Kami