Langsung ke konten utama

Coba tebak, apa yang copywriter kerjakan?


Rencana Tuhan itu indah, yang kita butuhkan hanya sabar. Tentu bukan sabar yang ditutup dengan jawaban klise sedunia, “mau sesabar apa lagi?”. Ada beberapa peristiwa yang ingin aku ingat kembali, tentang betapa ajaibnya Tuhan menjawab untaian doa yang pernah terlintas di kepala kemudian terucap di hati. Haruskah kita semua mulai hati-hati berkata?

Pernah, sore-sore aku minta “Bolehkah suatu saat aku bekerja di kantor ini?” sembari menoleh dan meneruskan langkah. Sebuah gedung berasitektur colonial yang menjadi kantor sebuah media harian lokal. Waktu itu, media cetak masih di atas angin. Tak tahu-tahu sekarang pastilah sepi peminat, atau versi marketingnya target pasar tak menyentuh milenial. Paham sendirilah, tak berlebih jika dibilang kaum muda ini sedang menjadi “obyek” atas apa pun yang mendisrupsi negeri ini.

Singkat cerita, Tuhan menjawab melalui sebuah kesempatan. Masih di gedung yang kudoakan, namun di belakangnya. Masih di ranah yang kuharapkan, namun versi digitalnya. Bukan sebuah pilihan popular kalau indikatornya diukur dari mahasiswa lulusan kampusku yang notabenenya menghasilkan lulusan yang siap pakai untuk di dunia bisnis dan engineer.

Tapi, boleh bangga kukatakan bahwa ini adalah pekerjaan yang diimpikan sebagian para lulusan ilmu komunikasi atau yang mengambil konsentrasi jurnalistik. Copywriter. Hampir 8 bulan sudah aku menjalani profesi ini. Aku merasakan ada perkembangan yang signifikan antara kemampuan menulisku sebelumnya dibandingkan saat ini. Sedikit lebih rapi, lebih terstruktur, masih itu saja rasaku. Belum bisa seperti Goenawan Muhammad, jurnalis grup Tempo itu, masih jauh dari Dahlan Iskan, atau yang paling dekat belum yang seperti teman kantorku bilang, “penulis yang berhasil itu adalah penulis yang jari-jarinya memiliki otak”. Perjalanan masih jauh.

Apa sih yang seorang copywriter kerjakan? Mengolah kata, menyusun kalimat untuk merasuk ke dalam psikologis pembaca supaya tertarik untuk mengikuti apa yang penulis tersebut inginkan. Ada pendapat lain? Silahkan.

Pada awalnya aku adalah orang yang kesulitan untuk menyusun sebuah kalimat, yang paling payah, pengalamanku hanyalah menulis caption di instagram dan beberapa kali menulis di blog harian itupun hanya untuk lomba.

Perlahan aku belajar, tak lepas dari setiap feedback yang disampaikan atasanku, dimulai dari yang paling dasar bahwa menulis itu dimulai dari SPOK, membiasakan diri untuk berpikir kreatif, menulis dengan berbagai sudut pandang, memahami maksud dan tujuan tulisan, serta tak lupa membaca ulang apa yang aku tulis untuk menghindari typo dimana-mana. Dasar tapi percayalah dasar versi dunia profesional itu .....

Aku juga belajar untuk membangun kepekaan dan mengeksplorasi sesuatu lebih rinci. Tentu aku selalu menikmati momen di mana aku belajar kemudian menangis karena merasa hal ini sangat sulit untuk aku lalui. Namun, disaat yang sama aku sangat sadar bahwa ini adalah bagian dari proses.

Apa rasanya mengerjakan sesuatu yang kita senangi? Atau yang orang lain bilang “passion”. Aku ga percaya passion, tapi aku percaya grit. Alasannya rasa suka terhadap sesuatu aja itu tidak cukup tapi kalau kita berusaha lebih ekstra dan gigih, nah mungkin hal yang lebih dari bayangan kita pun bisa kita dapatkan. Theres no free lunch, right?

Hal yang jangan sampai kita lupa adalah, kita ga sedang berkompetisi dengan orang lain. Jadi jalani hidup kita dengan sebaik-baiknya. “Kamu berharga” ingat 2 kata ini kalau kalian sedang berada dalam kondisi terpuruk. Kita punya orbit masing-masing. Yang kelihatan senang terus atau berhasil terus barangkali dia ga punya waktu tidur yang cukup loh. Hehe.

Oh iya, coba ingat, apakah hal yang kamu jalani dan miliki saat ini adalah doamu di masa lalu?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KAUM MILENIAL WAJIB MANFAATKAN APLIKASI SIKASEP UNTUK WUJUDKAN RUMAH IMPIAN

(Sumber: Media Indonesia) Bagaimana caranya agar milenial bisa memiliki rumah? Tren pertumbuhan penduduk di Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia memasuki era bonus demografi. Sebuah fenomena langkah yang hanya akan terjadi satu kali dimana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibanding jumlah penduduk tidak produktif. Namun, sayangnya kaum yang diberi label sebagai tulang punggung ekonomi ini diprediksi tidak bisa memiliki hunian seumur hidupnya.Tentunya ada beberapa hal yang menjadi hambatan, seperti pengeluaran konsumsi yang tinggi, kenaikan upah pekerja tidak sebanding dengan lonjakan harga properti setiap tahunnya, sampai dengan benturan-benturan persyaratan perbankan yang tidak mengakomodir karakteristik generasi ini. Rumah adalah bagian dari kebutuhan pokok manusia yang harus segera dipenuhi setelah kebutuhan sandang dan pangan. Tapi, kebanyakan milenial menggeser prioritas untuk membeli rumah dengan berperilaku konsumtif. Dengan harga properti yang semakin ting

Waktu Indonesia Bagian Hidup Sehat Bersama SEGARI

"Kapan yah pandemi ini usai?" Apakah pertanyaan ini pernah terlintas di kepalamu? Saya yakin kita semua pernah. Namun faktanya, smpai saat ini belum ada satupun ahli yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan pasti. Tanpa harus menurunkan level kepatuhan terhadap pratokol kesehatan, setidaknya kita bisa bernafas sejenak karena menurut WHO terjadi penurunan kasus positif COVID-19 hingga 77 persen dalam enam pekan terakhir. Selain itu, angka kematian rata-rata masyarakat di seluruh dunia juga sudah turun sebanyak 20 persen. Tak lupa, saat ini program Vaksinasi Nasional dari Kemenkes RI sedang berlangsung dan diharapkan bisa tersebar merata di seluruh lapisan masyarakat. Alih-alih cemas berlebihan, yuk kita lakukan sesuatu untuk melindungi diri sendiri dan keluarga. Caranya gampang banget. Mulai dengan mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan WHO, seperti mencuci tangan dengan benar, memakai masker, tidak menyentuh wajah, menjaga jarak dengan orang lain, dan bila mem

BERSYUKUR DAN BERDAMAI DENGAN RAMADAN DI TENGAH PANDEMI

Kamu tahu, apa yang membuat Ramadan sangat dirindukan? jawabannya adalah tentang momen-momen istimewa yang terjadi bagi kita umat muslim di berbagai belahan dunia. Selalu ada euforia yang memenuhi relung hati di waktu sahur dan berbuka puasa. Baik bersama keluarga ataupun teman-teman. Selalu ada suasana syahdu ketika menghadiri shalat berjamaah, mendengar ceramah, menonton kultum, dan menghadiri majelis-majelis yang membersihkan hati nurani dari sifat seperti rasa dengki, iri hati, dan kebencian. Selalu ada menu-menu makanan yang selama ini dinanti-nanti dan setiap gigitannya membangkitkan memori yang membersamainya. Selalu ada jutaan kebaikan dengan niat tulus dari siapapun dan untuk siapa pun. Barangkali Tuhan ingin kita menjalankan Ramadan dengan khusyuk, tanpa ada janji buka puasa bersama 30 hari berturut-turut yang membuat lalai sholat Magrib. Tanpa ada aktivitas berkeliaran di jalanan ketika matahari baru beranjak terbit yang tak jarang berujung pada kecelakaan-kecelaka