Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2019

Taklukkan Klien Freelancermu dengan The World Smallest Colourful Notebook yang Memukau

Ada sebuah stigma yang berkembang di masyarakat sedari dulu, yaitu seseorang baru dianggap bekerja bila ia pergi ke kantor pukul 8 pagi dan kembali ke rumah pukul 5 sore. Namun sayangnya, ungkapan tersebut sudah tidak berlaku lagi khususnya bagi para generasi milenial. Mereka memberi pemahaman kepada khalayak luas, mengkampanyekan, bahkan turut mengajak orang lain untuk mematahkan stigma tersebut dengan menunjukkan sebuah pembuktian bahwa bekerja bisa dari mana saja dan penghasilannya pun tidak kalah bahkan melebihi para pekerja kantoran. Dipandang sebagai generasi yang serba instan yang membuat generasi sebelumnya geleng-geleng kepala tapi di satu sisi dipuji habis-habisan karena melahirkan inovasi yang mempermudah aktivitas banyak orang dengan lebih efisien dan efektif. Alih-alih mengejar kenyamanan, generasi ini lebih menggemari kebebasan dalam bekerja ataupun kreativitas. Tanpa atasan. Tanpa jam kerja yang bersifat repetitif. Tanpa keterikatan. Tanpa masa cuti yang terbat

Coba tebak, apa yang copywriter kerjakan?

Rencana Tuhan itu indah, yang kita butuhkan hanya sabar. Tentu bukan sabar yang ditutup dengan jawaban klise sedunia, “mau sesabar apa lagi?”. Ada beberapa peristiwa yang ingin aku ingat kembali, tentang betapa ajaibnya Tuhan menjawab untaian doa yang pernah terlintas di kepala kemudian terucap di hati. Haruskah kita semua mulai hati-hati berkata? Pernah, sore-sore aku minta “Bolehkah suatu saat aku bekerja di kantor ini?” sembari menoleh dan meneruskan langkah. Sebuah gedung berasitektur colonial yang menjadi kantor sebuah media harian lokal. Waktu itu, media cetak masih di atas angin. Tak tahu-tahu sekarang pastilah sepi peminat, atau versi marketingnya target pasar tak menyentuh milenial. Paham sendirilah, tak berlebih jika dibilang kaum muda ini sedang menjadi “obyek” atas apa pun yang mendisrupsi negeri ini. Singkat cerita, Tuhan menjawab melalui sebuah kesempatan. Masih di gedung yang kudoakan, namun di belakangnya. Masih di ranah yang kuharapkan, namun versi digitalny