Langsung ke konten utama

Workshop Narasi: Impactful Creative Journalism



“Narasi Content Creator Workshop Medan is coming! Regist here”

(Instagram/NarasiTV)

Aku baca selebaran flyer didominasi warna
orange yang disebarkan melalui grup Telegram, mengingatkanku tentang workshop yang dinanti sejak bulan Januari lalu. Medan menjadi kota kedelapan tempat workshop ini dilangsungkan. Siapa pun speakernya pasti yang terbaik, sebuah kalimat yang sudah tertancap dipikiran banyak orang, barangkali. It’s what we called branding positioning, isn’t it?

Isian form-nya seperti biasa, hanya saja ditambah lampiran karya kita dalam bentuk link sebagai portofolio ditambah dengan alasan mengapa kita ingin menghadiri workshop ini. Belakangan aku tahu bahwa ternyata peserta workshop ini terbatas, yaitu hanya 25 orang terpilih. Tanpa bermaksud menyombongkan diri karena ada beberapa temanku yang merasa sedih karena tidak mendapatkan email undangan, jadi melalui tulisan ini aku sampaikan materi-materi yang didapatkan selama 2 hari kegiatan tersebut berlangsung. Aku menyadari bahwa akan banyak banget materi yang tidak tersampaikan dengan baik karena ingatan aku yang terbatas. Tapi aku tetap berusaha menyampaikan semuanya dengan sejelas mungkin.

Tanpa harus memuji berlebihan, jumlah peserta yang terbatas membuat perserta saling touch antara satu sama lain, pun dengan para panitia dan pembicara. Yuk, langsung saja kita simak yuk!

NARASI itu apa ya?

(Instagram/NarasiTV)

NARASI pasti identik banget ya dengan Najwa Shihab, yang baru ini masuk ke dalam jajaran wanita yang paling dikagumi nomor 2 berdasarkan survey oleh YouGov. Intonasi suaranya yang tegas, tatapannya yang tajam, dan omongan yang pedas, selalu jadi senjatanya ketika sedang berada di satu panggung yang sama dengan para politikus-politikus Indonesia, apalagi terhadap si-PAPA yang kasus-kasusnya tidak ada habisnya.

Terlepas dari pengaruh Najwa Shihab yang hebat banget itu lahirlah NARASI. Jadi, NARASI ini adalah sebuah media digital yang ingin menyebarkan value “Impactful Creative Journalism” melalui konten-konten yang relevan dengan menargetkan/merangkul segala pasar secara segmented dan kontennya dikemas dengan semenarik mungkin.
Prinsip yang mau disebarkan sederhana, yaitu “semakin lokal semakin global dan semakin global maka semakin lokal pula”.
Nah, jadi NARASI ini ingin mengajak seluruh content creator di Indonesia untuk membuat konten yang menarik, edukatif, serta berpegang pada prinsip jurnalistik. Menghadirkan kesempatan workshop kepada para content creator untuk bisa melihat beragam hal dengan perspektif yang berbeda, memahami target pasar, memiliki karakter unik, sehingga terciptalah konten-konten yang memancing engagement positif dari publik.

(Kegiatan ini dimulai pukul 09:00 wib di sebuah hotel bintang 4 di kota Medan persis di seberang bundaran Mayestik. Satu hal kecil di luar ekspetasi ternyata kalau kamu memasuki ruangan tempat workshop yang berada di lantai 8 dari lift yang transparan di sisi luarnya, kamu akan melihat view kota ini dari ketinggian dan itu menajubkan sekali. Belum lagi di bagian kamar mandinya ada jendela yang panjangnya dari ujung ke ujung kamu bisa lihat tata letak kota yang di jalan S. Parman.)

Foto bersama/Dokumen Istimewa

JOURNALISM & DIGITAL CONTENT
Imam Wahyudi dari Content Creative Indonesia

Kamu yang saat ini sedang baca pasti sadar banget kan, kalau saat ini kita sedang hidup dimasa dimana media sosial sudah tidak bisa dipisahkan lagi dalam setiap lini kehidupan. Bahkan menurut penelitiannya, sekitar 56 persen penduduk Indonesia dari total populasi saat ini adalah pengguna media sosial.

(Instagram/ImamWahyudi)

Didukung dengan kenyataan bahwa hampir setiap dari kita punya lebih dari akun satu media sosial yang digunakan dengan tujuan beragam, entah untuk keperluan bisnis atau stalking. Pokoknya media sosial itu sudah jadi gaya hidup deh, dari tempat berbagi, tempat pamer, tempat mencari uang, tempat di mana HRD melihat personal branding, dan bahkan menjadi tempat menyebarkan berita hoaks paling populer.

Kehadiran media sosial yang bagai pisau bermata dua ini, membuat setiap isu atau fenomenal yang muncul di publik menimbulkan polarisasi tersendiri, ada yang pro dan ada yang kontra. Yang sering menjadi catatan adalah seringkali media sosial menjadi medium yang digandrungi oleh sebagian orang dengan maksud untuk memecah-belah.

Ditambah, *menghela nafas panjang* masyarakat kita mudah sekali untuk menerima berita-berita yang belum tentu benar itu dikarenakan minimnya pengetahuan. Di sinilah, kamu sebagai content creator menempatkan diri dengan memberikan konten-konten yang baik. Viral tidak viral itu persoalan belakangan. Kita berkolaborasi untuk membuat konten-konten yang menyebarkan impactful creative journalism value?

Terus bagaimana caranya ya?

1.     Kita lihat dulu yuk perbedaan antara PERS dan Media Sosial ya!


PERS
Media Sosial
Pengertian
Lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melakukan kegiatan jurnalistik.
Sebuah media tempat orang-orang berjejaring.

Bentuk
Perusahaan berbadan hukum.
Digunakan oleh siapa pun dari seluruh dunia.
Penyelesaian Sengketa
Diselesaikan oleh Dewan PERS.
Diselesaikan oleh Polisi.
Kualitas
Prinsip Jurnalistik
Tidak ada aturan baku.

Moral story-nya adalah memegang kualitas-kualitas yang diharuskan di PERS ke dalam konten yang kita hasilkan dan bagikan di media sosial. Wah, imagine aja kalau setiap content creator merasa wajib memegang teguh value tersebut pasti pada cerdas-cerdas netizen kita kan.  
2.     Pahami bagaimana cara media mem-framing sesuatu!
(InternetI

Informasi dari media yang kita dapatkan saat ini adalah hasil filter pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu dengan berbagai tujuannya sendiri, yang paling sering adalah kepentingan pencitraan. (tanpa membahas apakah pencitraan itu benar atau tidak). Saat ini kita harus membuka mata lebar-lebar bahwa media itu tidak netral, ada analisis framing yang digunakan untuk membingkai sebuah peristiwa dengan tidak menampilkan kebenaran secara total melainkan menonjolkan beberapa aspek yang berkaitan dengan fakta.
 
3.     Media sosial adalah model nuklir hari ini.
Tidak salah kalau ada yang pernah bilang, “Today media are the most important weapon in the war between powers. Even the greatest powers are working with media. Today, the influence of media, television networks, art and great internet networks is much more than that of weapons, missiles and atomic bombs. Today’s world is such a world. They are expanding this arena on a daily basis.”
(Internet)
Sekilas mengingatkan, tahu tidak bahwa akibat yang ditimbulkan nuklir itu lebih parah dari efek yang disebabkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang menewaskan 40.000 orang masa itu. Bisa dibayangkan betapa dasyatnya bom tersebut. Kita bandingkan dengan kasus yang saat ini sedang hangat-hangatnya dibicarakan. Kasus “ikan asin” yang menimpa seorang selebritis di tanah air yang menghina “organ intim” mantan istrinya melalui konten seorang YouTuber. Bisa ditebak apa yang terjadi kemudian, artis tersebut ditangkap pihak kepolisian dan dijerat dengan pasal berlapis.
Nah seandainya kalau mereka memahami etika dan prinsip jurnalistik serta memegang nilai “impactful creative journalism” tentu hal ini tidak akan terjadi. Tidak ada pihak yang terlukai. Tidak menjadikan aib atau keburukan orang sebagai konten semata.
Jadi, kamu boleh tanya dengan diri kamu sendiri “Apakah kamu sudah memegang senjata nuklir yang di dalam genggamanmu dengan baik?”

4.   Bersandar penuh pada Prinsip Jurnalistik.

Ini bagian pertama yang lumayan menampar, karena seringkali demi viralnya konten yang diproduksi, kita mengingkari 9 prinsip ini. Imam Wahyudi berpesan bahwa sebaiknya sebelum membuat konten kita mengingat “untuk apa sih tujuan konten ini”.  Aku tidak akan ngebedahnya satu per satu, tapi aku lamprin linknya untuk pembahasan lebih lanjut.



Nah, setelah itu untuk membuat konten yang menarik ada beberapa angle yang bisa kamu pilih:
1.     Security
2.     Pocket
3.     Disruption
4.     Choice
5.     Extraordinary

GIVE YOUR STORY VOICE
WINDY ARIESTANTY - Penulis

(Instagram/NarasiTV)

Setelah break untuk lunch yang olahan lauknya harus diingat banget karena keesokannya dijadikan salah satu soal dari quiz yang dilahap habis oleh para perserta workshop, kita masuk ke sesi belajar berempati dalam berkarya bersama mba-mba penulis yang satu ini.

Workshop yang tadinya tempat mencuri ilmu berubah menjadi tempat orang-orang tercengang karena menyadari bahwa selama ini kita hanya berhenti sebatas di simpati saja. Kita prihatin melihat orang lain tetapi seringkali gagal menempatkan posisi diri dengan pantas. Atau jangankan berempati, sepertinya seringkali kita menempatkan diri dalam posisi menghakimi?

Well, sesi ini diawali dengan peserta mencari pasangan di luar teman satu mejanya dan diberi waktu selama 15 menit, dimana 10 menit untuk menggali informasi tentang siapa pasangannya dan 5 menit lagi menuliskan seperti apa sih teman yang baru kita ini.

Berkali-kali Windy menyampaikan bahwa karya apa pun yang kita hasilkan adalah medium bercerita dan bisa dikemas dalam bentuk apa saja baik bentuk tulisan, foto, ataupun karya-karya lain.

Bercerita adalah salah satu cara untuk memperpanjang sesuatu.

(Ilustrasi-internet)
Terlalu banyak cerita budaya Nusantara kita yang tidak memiliki catatan tulisan. Adapun naskah-naskah kuno yang pernah diteliti malah dibawa kembali oleh si peneliti ke negara asalnya. Sangat disayangkan bukan? Bisa runtuhlah sebuah peradaban jika hal-hal tersebut tidak diabadikan dalam tulisan.

Sebenarnya tulisan bukanlah sebuah hal yang baru, nenek moyang kita zaman dahulu mengukir kisahnya pada dinding-dinding goa. Namun, seiring berjalannya waktu orang-orang yang bisa menerjemahkan bahasa kuno tersebut kian terbatas dan sulit ditemukan kembali atau biasanya pencatatan nusantara terbatas pada lisan. Lalu bisa dibayangkan kemudian apa yang terjadi selanjutnya?

Sekadar mengingatkan, perihal perebutan klaim budaya Batik kemarin bisa kita menangkan karena kita memiliki bukti prasasti yang mengatakan memang benar adanya Batik dari Indonesia. Jadi mengerti kan bahaya banget kalau kita ga punya catatan sejarah yang bisa kita pahami.

Di YouTube channel NARASI, ada sebuah yang meliput tentang “I La Galigo”. Coba deh simpulkan sendiri ya. Aku sertakan juga ya link-nya.


Jadi, bukan hanya tidak mencatat saja sih yang berbahaya, tidak melestarikan juga kan!

Bagaimana cara membangun rasa empati sih?

(Dokumen Istimewa)
Cara membangun rasa empati bisa dimulai memposisikan diri di berbagai sudut pandang, entah pengalaman, rasa kepedulian, atau perasaan. Banyak banget cerita-cerita yang berserakan di sekitar kita dan hal yang kita butuhkan adalah dengan membangun kemampuan untuk mengelola cerita-cerita tersebut untuk dibagikan.

Kalau kita berbicara hidup, tidak sekedar berbicara hitam dan putih kan? Benar atau salah? Yang bisa kita lakukan sebelum memproduksi sebuah konten adalah menyadari bahwa hasil dari konten yang kita buat tidak menghakimi orang lain dan membuat orang larut dalam karya kita.

Belajar melihat segala sesuatu dari sepatu orang lain.
Nih ada tips bagaimana cara menarik orang untuk jatuh hati dengan cerita-cerita kita, smeoga bermanfaat ya!

1. Tell stories to get stories
2. Gunakan panca indra untuk mengangkap hal-hal kecil atau hal-hal disekitar.
3. Bangun karakter dari cerita-cerita kecil.
4. Kutipan itu penting lho karena dialog bisa berimpiklasi pada cerita.
5. Biarkan karakter yang berbicara kepada orang lain.
6. Memahami latar belakang cerita mulai dari awal, tengah, hingga bagian akhir.

Dan sebelum membagikan sebuah cerita, pastikan hal tersebut menunjukkan rasa empati, menunjukkan rasa kemanusiaan, dan bernilai ya!

BEING AUTHENTIC, BEING YOU
GUPTA SITORUS - Marketing Practicioner

(Instagram/NarasiTV)

Hari kedua ga kalah nendang! Ada sesi pengumpulan karya yang dibuat para peserta untuk dikurasi oleh jurnalis senior mas Imam Wahudi dan dilanjutkan oleh dua pemateri yang sama kerennya dan sangat humble.

Dari Mas Gupta, kita belajar tentang pentingnya personal branding yang kuat di sektor kreatif. Apasih yang terlintas di kepalamu ketika kita berbicara tentang brand? Jawabannya beragam, salahsatunya adalah reputasi. “Why brand is important?” Disadari atau tidak, saat ini kita hidup di jaman cut+copy+paste. Biasanya konten yang kita produksi malah hasil modifikasi dari konten orang lain kan? Jadi kita harus bisa pikirkan disini nih, kita mau di-branding seperti apa karena quotes fenomenal ini ada benarnya lho, “if you are not branding yourself, the people will perceive you”.

Sebuah pertanyaan muncul kembali, “Gimana ya cara membangun sebuah brand?” Nah, disinilah kita harus menggali siapa sebenarnya diri kita ini, kita harus meneyadari karakter-karakter unik yang kita miliki dan bagaimana pendapat orang lain tentang diri kita.

Pertanyaan-pertanyaannya sederhana nih, tentang seberapa besarsih kamu passionate terhadap hal yang saat ini sedang kamu kerjakan, apa hal yang bisa memotivasi kamu dalam berkarya, dan personal value apa yang ingin kamu bagikan? Deskripsikan semuanya dengan jelas ya. Inkonsistensi dalam branding akan membuat kita buruk. Dan yang paling penting kita harus mengerti segmented.
Temukan milestone-mu ya!

Content Creator For Social Change
Ben Laksana dan Rara Sekar

Dengan terbuka dan beraninya sepasang dosen dan peneliti budaya antropologi ini mengajak para peserta untuk berdiskusi tentang konten-konten sampah yang saat ini ramai di segala media sosial. Salahsatu pertanyaannya yang menohok adalah, “Apakah kamu mau menjadi sampah?” Lebih dari workshop ini adalah perwakilan ekspresi dari keresahan segala content creator dengan kondisi konten-konten yang ada saat ini dan tidak mendidik sama sekali.

(Instagram/NarasiTV)

Di luar sana banyak yang tidak sadar bahwa konten yang ia buat ternyata mencelakakan orang lain atau membodohi orang lain. Tidak ada value yang disampaikan. Tidak ada pengetahuan yang disampaikan. Etikapun sampai dipinggirkan demi viralnya sebuah konten.

Sebenarnya apasih yang ingin kamu bagikan kepada teman-teman pengikutmu di media sosial? Bahwa kamu memiliki barang-barang mewah? Makan di tempat fancy? Menjual kemewahan untuk menciptakan sebuah standar kesukseskan kepada follower-mu yang sebenarnya hidup di standar garis masyarakat yang biasa-biasa saja?

(Unplash/JohnCenelis)

Kamu, kita semua harus menyadari bahwa content creator adalah educator. Sadari bahwa melalui konten yang kita produksi terdapat nilai dan pengetahuan di dalamnya. Jangan rusak orang lain. Lagi-lagi media sosial adalah sekolah tanpa control sosial. Kita sebagai content creator  memiliki tanggung jawab yang tidak main-main apalagi sampai merusak society. Contoh kecilnya: kamu membagikan foto mesramu dengan pasanganmu di media sosial dan dikomentarin anak-anak sekolah dasar “romantis banget kaka, idolaq”. Paham?

Di sesi ini pasangan keren ini lebih banyak membahas bagaimana peran fotografi dalam berbagai hal, misalnya dari sudut pandang mengkristalkan permasalahan, merubah sudut pandang, atau pemanfaatan foto dokumentasi untuk kepentingan tertentu. Ayolah, mari kita merengut makna melalui fotografi atau karya apapun. Kita ini adalah orang-orang yang resah atas konten-konten sampah hari ini.

Ada satu hal yang disampaikan Ben yang lumayan mengusik pikiranku. Saat ini selfie spot sudah jadi bagian dari tren traveling kekinian kan? Di mana sebuah tempat di-exposure berlebihan dengan penambahan spot-spot tertentu untuk memancing wisatawan. Dokumentasi nya diabadikan lewat apa? Yang paling umum pasti melalui foto kan? Jadi relevan banget kan peran fotografi dalam setiap lini kehidupan kita. Satu hal yang menjadi catatan besar adalah adanya trend selfie spot ini bukankah membuat tempat wisata menjadi kehilangan esensinya?

Lalu pada waktu terjadi kerusuhan tahun 1998, sebuah demonstrasi besar-besaran terjadi untuk menurunkan pak Soeharto. Hasil tampilan liputan foto yang dijepret oleh wartawan berbeda-beda lho tergantung dewan direksi medianya. Bagi media yang memihak orde baru tentu foto yang ditampilkan pada surat kabar adalah foto yang menampilkan bahwa pak Harto adalah orang baik, sementara media lain memajang foto berbeda yang menimbulkan berbagai reaksi dari pembaca yang berbeda pula.

Jelas sekali dong bahwa foto memuat pengetahuan yang tidak netral. Maka dari itu diperlukan sikap kritis untuk menyimpulkan sebuah foto.


- Kita harus berusaha memahami maksud apa yang ingin disampaikan foto atau fotografer tersebut atau memahami setiap nilai yang tersirat atau tersurat dari foto tersebut ya. 
Kita harus memahami dampak apa yang bisa ditimbulkan dari foto tersebut terhadap pemahaman kita akan isu tertentu atau pemahaman akan dunia di sekitar kita.
- Kita harus bisa melihat siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan dari pengetahuan yang disampaikan oleh foto tersebut, tentang keberpihakan nih!
- Kita harus bisa berpikir kreatif dan realitis, dengan memberi jarak terhadap asumsi adalah salah-satu contoh berpikir kreatif.

Jadi kita semua sebagai content creator benar-benar memerlukan pengetahuan non-fotografis untuk bisa menggunakan, membaca, dan memahami fototografi dengan lebih reflektif dan kritis.

Ada sebuah kutipan dari David Alan Harvey, seorang fotografer documenter:
You must have something to ‘say’. You must be brutally honest with yourself about this. Think about history, politics, science, literature, music, film, and anthropology. Be a poet not a technical writer. Perhaps more simply put, find a heartfelt personal project. Give yourself the assignment you dream someone would give you. Please remember, you and only you will control your destiny. Believe it. Know it. Say it.

Merefleksi kembali tentang makna kolaborasi

Kolaborasi seharusnya adalah tentang kita yang memiliki tujuan yang sama untuk saling memberi manfaat antara satu sama lain- masih menjadi impian bagi banyak orang khususnya anak muda di kota ini. Faktanya, sangat disayangkan bahwa kolaborasi masih menjadi sesuatu yang sangat sulit terjangkau. Akan sulit rasanya berkolaborasi tanpa didukung latar belakang terukur seperti jumlah pengikut media sosial yang belum seberapa ataupun hal-hal lain yang terkait dengan “cuan-cuan-cuan”. Well, tanyakan ini kepada hatimu terdalam, bersediakah kamu kalau kita  putuskan rantai keangkuhan ini untuk saling mendukung menyebarkan “impactful creative journalism”? Selamat berkolaborasi dalam berkarya dan bekerja keras. Jangan lupa pakai hati ya!

 Thank you Narasi Team! Sampai jumpa kembali.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu Indonesia Bagian Hidup Sehat Bersama SEGARI

"Kapan yah pandemi ini usai?" Apakah pertanyaan ini pernah terlintas di kepalamu? Saya yakin kita semua pernah. Namun faktanya, smpai saat ini belum ada satupun ahli yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan pasti. Tanpa harus menurunkan level kepatuhan terhadap pratokol kesehatan, setidaknya kita bisa bernafas sejenak karena menurut WHO terjadi penurunan kasus positif COVID-19 hingga 77 persen dalam enam pekan terakhir. Selain itu, angka kematian rata-rata masyarakat di seluruh dunia juga sudah turun sebanyak 20 persen. Tak lupa, saat ini program Vaksinasi Nasional dari Kemenkes RI sedang berlangsung dan diharapkan bisa tersebar merata di seluruh lapisan masyarakat. Alih-alih cemas berlebihan, yuk kita lakukan sesuatu untuk melindungi diri sendiri dan keluarga. Caranya gampang banget. Mulai dengan mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan WHO, seperti mencuci tangan dengan benar, memakai masker, tidak menyentuh wajah, menjaga jarak dengan orang lain, dan bila mem

Tempat baru yang mengesankan dan kesenjangan yang luput dari penglihatan

Setelah satu bulanan tinggal di tempat baru, aku mulai berkeliling ke tempat yang satu dan yang lainnya. Biasanya di akhir pekan, aku lebih sering pergi ke Lulu Mart (hypermarket), Giant (toko swalayan), atau Aeon Mall untuk berbelanja bahan belanja selama satu minggu kedepan. Baru sekali saja aku pergi ke Cisauk, tempat di mana stasiun KRL terdekat berada dan Pasar Modern. Besok pagi, aku akan mencoba merasakan suasana berbelanja di sana. Tidak belanja banyak karena sebagian bahan belanja sudah dibeli sore tadi. Aku menemukan tempat belanja "hidden gem" di kawasan perkampungan. Murah sekali. Tentu saja ini akan menjadi pertimbanganku selanjutnya untuk rutin berbelanja di tempat tersebut. "Bang, tempat ini hidden gem! Keluar uangnya segini doang dapatnya banyak banget" ucapku antusias. "Memang. Dari kemarin diajak keluar gak pernah mau. Kalau di kawasan perkampungan semuanya ada, warung, toko buah, jajanan gerobak, nasi padang sepuluh ribuan. Bedakan? Mangkany

Sebelum Dua Pekan.

  Aku yakinkan diri ini berulangkali sebelum berbicara kepada kedua orang tua. Ini bukan sebuah keputusan yang mudah.  Aku tahu, ada banyak rangkaian masalah yang akan menanti aku setelah gerbang perjalanan ini. Namun, pilihannya apakah aku bisa melihatnya sebagai sebuah halangan atau tantangan. “Bunda, mbak menikah boleh ga?” “Iya boleh selesai wisuda ya.” “Kan udah pernah wisuda, kuliah mbak udah siap juga tinggal wisuda doang…” “Kenapa mbak tiba-tiba ingin cepat nikah?” “Engga cepat juga sih, kakak kan udah kelar kuliah bahkan udah kerja juga..” “Emangnya, Hendra udah mau lamar mbak?” “Iya, kalau diizinin.” “Nanti bunda bilang sama ayah dulu.” Hendra adalah nama pria yang menjadi pasanganku satu tahun terakhir. Aku mengingat percakapan sekilas di malam itu. Mengapa hal ini ingin aku segerakan? Mengingat aku berencana menikah dengan dia di pertengahan tahun 2022. Bukan di awal 2021. Aku dan Hendra sudah menjalin hubungan romansa selama satu tahun terakhir. Kami