Langsung ke konten utama

Membangun Daerah Pesisir Dengan Penguatan Literasi


“Adik-adik  siapa nama bapak presiden Indonesia?” salah seorang relawan yang mengajar bertanya dengan semangat.

“Bapak kepala desaaaaaaaaa!” jawab anak-anak itu riuh.


Sumber: Istimewa

Tidak ada seorang pun di ruangan yang bisa menjawab pertanyaan sederhana itu. Hal tersebut menjadi impresi pertama saya terhadap desa pesisir yang berada di pulau kecil di pinggiran pulau Sumatera. Selain terletak di wilayah yang hanya bisa dijangkau dengan kapal mesin yang beroperasi sesekali, infrastruktur pendidikan yang tidak memadai, jumlah ruang kelas yang terbatas, guru yang tidak menetap pun jumlahnya tak sebanding, ternyata akses informasi sekadar nama presiden pun mereka tidak tahu siapa. Bagi mereka, bapak kepala desalah presiden Indonesia.

Tentang desa yang memberi pelajaran hidup terbaik.


Sumber: Istimewa

Desa ini bernama desa Jaring Halus. Letaknya berada di kabupaten Langkat. Berbatasan dengan Selat Malaka di sebelah Utara dan Timur. Desa ini hanya bisa dijangkau dengan satu-satunya transportasi yang anggap saja memadai, kapal mesin yang sebenarnya hanya bermuatan 20 orang dalam sekali angkut. Tapi seringkali beban kapasitasnya berlebih. Sebuah hal yang dimaklumi di daerah perbatasan, bahkan tak dianggap sebuah kesalahan. 

Ada hal menarik tentang asal muasal nama desa ini yang biasanya diceritakan oleh penduduk setempat, konon katanya dulu ada masyakat desa yang sedang melakukan aktivitas memancing dan menemukan jari-jari kecil di dalam jaringnya. Sebab itulah diberi nama desa Jari-ng Halus.Namun tidak bisa dipastikan kebenarannya karena biasanya setiap orang memiliki versi yang berbeda.

Untuk menempuh desa ini dibutuhkan waktu selama ±1 jam. Bermula dari muara lalu menuju ke laut lepas. Desa ini memliki potensi hutan bakau yang luar biasa dan masih terjaga keasriannya. Populasi satwa seperti kera berbulu abu-abu, burung bangau, burung calak merah dan burung elang sesekali terlihat di antara pohon bakau.

Di desa ini, pendidikan bukanlah persoalan yang penting dan bersifat urgensi. Para orang tua biasanya menyuruh anak-anak mereka untuk melaut saja setelah selesai sekolah menengah pertama. Tidak perlu lanjut Sekolah Menengah Atas apalagi ke Perguruan Tinggi. Hanya tersedia satu Taman Kanak-kanak, dua Sekolah Dasar (negeri dan Madrasah Ibtidaiyah), serta dua Sekolah Menengah Pertama (negeri dan Madrasah Tsanawiyah) di sini.


Sumber: Istimewa

Dihimpun dari data kantor desa Jaring Halus, sekitar 414 orang yang berusia 18-56 tahun mengalami buta aksara. Sebanyak 188 dari 673 orang yang berusia 7-15 tahun  tidak bersekolah dan dilihat dari data ketenaga kerjaan yang berjumlah 1208 orang, hanya 332 orang tamatan SMP, 593 orang tamatan SD, dan 273 tidak tamat sekolah.

Mengapa memutuskan mengambil bagian dalam pembangunan daerah 3T?

Program pengabdian masyarakat di desa ini berawal dari kegiatan Politeknik Mengajar setahun sebelumnya, tepat tahun 2015. Di bawah bendera organisasi kampus dengan pendanaan program yang difasilitasi oleh Kemenristekdikti, saya dan rombongan kampus rutin mengunjungi tempat ini untuk menjalankan program pengabdian yang sudah direncanakan dengan matang.

Saat itu saya dan yang lain bersepakat bahwa membangun desa ini bisa dimulai dengan membangun pendidikan. Tentu pendidikan berperan sebagai sosial elevator, yakni saluran mobilitas sosial vertikal efektif supaya seseorang dapat meningkatkan kesejahteraannya di masa depan. Selain itu pendidikan adalah kunci dalam pembangunan masyarakat, terutama di bidang sumber daya manusia.


Sumber: Istimewa

Mengapa kalian bersedia merepotkan diri ke desa orang yang wilayahnya jauh dari kampus dan dari rumah kalian untuk menjalankan program ini di sana?” Uji salah satu dosen juri kala itu.

Kami paham Tri Dharma Perguruan Tinggi pak, bahwa sebagai mahasiswa tugas yang dijalankan tidak hanya belajar dan melakukan penelitian. Tetapi ada poin lain yang mengharuskan kami mengabdi kepada masyarakat. Untuk mengimplementasikan ilmu yang selama ini didapatkan di bangku perkuliahan.” Tegas saya.

Hasilnya sebulan kemudian, organisasi saya berhasil mendapatkan pendanaan untuk menjalankan program pengabdian masyarakat tersebut.

Memilih pendidikan literasi sebagai jalan perang.

Salah satu aspek penentu dalam keberhasilan pembangunan suatu bangsa dapat dilihat dari tingkat keaksaraan penduduknya, di mana tuna aksara merupakan salah satu indikator untuk menetapkan tingkat pembangunan sumber daya manusia. Faktor kemiskinan menjadi kendala utama dalam pemberantasan tuna aksara di Indonesia. Sadarkah kita bahwa semakin tinggi tingkat kemiskinan, maka semakin rendah pula kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan.

Berdasarkan laporan studi Programme for InternationalStudent Assessment (PISA) 2012 peringkat pendidikan Indonesia, terutama di bidang matematika, sains, dan membaca berada pada urutan ke-64 dari 65 negara. Hal ini menunjukkan bahwa masalah literasi di Indonesia sudah sangat serius. Padahal, membaca adalah satu-satunya cara untuk bisa menjadi lebih baik dalam hal apapun.

Didukung data UNESCO yang menyatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya  0,001 persen yang artinya dalam seribu masyarakat hanya ada satu masyarakat yang memiliki minat baca.

Akhirnya program ini dicetuskan sebagai cara untuk membangun Indonesia dari pinggir yaitu program yang memiliki tujuan untuk memberantas buta aksara pada masyarakat desa Jaring Halus. Dengan tujuan membentuk, menciptakan, mendukung, mengupayakan, dan mendorong masyarakat desa dari usia anak-anak sampai usia belia untuk bersama-sama mengembangkan potensi sumber daya desa melalui gerakan literasi sebagai langkah awal. Program ini diberi nama Gerakan Literasi Anak Pesisir.
Petualangan dimulai.


Sumber: Istimewa

Jangan mengira bahwa menghadirkan gerakan literasi pada anak-anak daerah pesisir adalah hal yang sederhana.  Hal yang menjadi penyebab utama adalah mayoritasanak-anak di sana lebih memilih untuk bekerja sebagai nelayan untuk membantuk perekonomian keluarganya dibandingkan bersekolah.

Pada awalnya mendapatkan tanggapan yang baik adalah sebuah tantangan dan rintangan yang harus dihadapi. Tetapi sosialisasi yang dilakukan secara terus menerus menjadi solusi untuk mendapatkan perhatian masyarakat dan sebuah kepercayaan bahwa rantai kemiskinan hanya bisa diputus dengan pendidikan yang memadai.

Tak hanya sekadar aktivitas mengajar yang edukatif dan kreatif yang mengajarkan kelas puisi, kelas cerita pendek, kelas berbahasa, dan kelas jurnalistik. Program ini juga membangun sebuah rumah baca yang dinamakan “Pondok Literasi Anak Pesisir”. Barulah setelah itu dijalankan program yang menumbuhkan kemampuan literasi anak-anak dengan harapan bahwa mereka dipersiapkan untuk bisa berkontribusi membangun desanya.

Harapan besar yang digantungkan di Pondok Literasi


Sumber: istimewa

Ketika pondok literasi tersebut selesai dibangun menandakan bahwa selanjutnya tak mungkin serutin ini saya bersama yang lain berkunjung ke desa ini. Senang sekaligus sedih. Bagaimana pun berdirinya pondok literasi tersebut adalah hasil dari proses panjang selama setahun. Harapannya beragam wadah kreativitas ala anak-anak setempat bisa lahir dari pondok tersebut. Manajemen pengelolaan pun diserahkan penuh kepada mereka.

Ada sekitar 1000 buku dengan beragam genre di dalamnya. Buku-buku tersebut akan terus bertambah jumlahnya seiring sumbangan-sumbangan yang terus mengalir dari berbagai elemen masyarakat ataupun komunitas lain yang sangat mengapresiasi hadirnya gerakan ini.

Kabar bahagia lainnya adalah bahwa tempat ini tak pernah sepi dari kunjungan anak-anak yang haus akan ilmu. Sebagai tambahan untuk membuat anak-anak di sana betah berlama-lama disediakan juga ragam permainan yang bisa melatih pola pikir dan kreatifitas.

Kesimpulan

Saya setuju apabila dikatakan bahwa wajah masa depan sebuah negeri bisa dilihat dari bagaimana kualitas literasi masyarakatnya terutama generasi muda yang sangat berpotensial jika diwadahi dan difasilitasi dengan baik. Kita pun harus menyadari bahwa menggalakan gerakan literasi adalah salah satu cara untuk membangun sebuah peradaban.

Ada dua momentum yang akan saya kenang seumur hidup di perjalanan ini, pertama ketika organisasi saya berhasil memenangkan pendanaan untuk melakukan setiap hal yang tertuang dalam proposal pengabdian masyarakat tersebut dan momen lainnya ketika perpustakaan berhasil didirikan. Tentu saya tak henti-hentinya bersyukur karena diberikan kesempatan untuk menjadi bagian di program gerakan literasi anak pesisir ini. Tentang mimpi usang yang ingin membuat sebuah perpustakaan kecil-kecilan yang tanpa diduga ternyata terwujud waktu usia saya masih 18 tahun.

Ini adalah tentang sebuah pencapaian besar bagi saya, harapan yang terwujudkan tanpa tertuang dalam sebuah resolusi. Tak kalah bahagianya kala anak-anak di sana sangat mengapreasi berdirinya perpustakaan tersebut yang tak jauh wilayahnya dari sekolah mereka.

Tak ada orietansi lain waktu itu, niat yang terawat dan terjaga dari setiap ambisi-ambisi yang membabi buta. Hari peresmian pondok literasi tersebut ditutup dengan berlari mengejar kapal terakhir yang berangkat meninggalkan desa. Hujan deras diiringi dengan petir yang saling menyambar dan langit abu-abu pekat yang membuat saya dan teman-teman saya berdoa penuh khidmat memohon keselamatam kala itu.

Menandakan bahwa tidak ada seorang pun yang berani bermain dengan alam.
Terima kasih atas pelajaran berharga yang membentuk saya menjadi setangguh seperti sekarang.

Artikel ini diperlombakan dalam Korindo Blog Competiton dengan tema Membangun Daerah 3 T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal).

#Korindoblogcompetition.

Referensi:

Komentar

  1. Semoga daerah 3T di seluruh Indonesia semakin maju dengan upaya anak2 muda Indonesia yang selalu berupaya mengabdikan ilmunya untuk daerah daerah tertinggal

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu Indonesia Bagian Hidup Sehat Bersama SEGARI

"Kapan yah pandemi ini usai?" Apakah pertanyaan ini pernah terlintas di kepalamu? Saya yakin kita semua pernah. Namun faktanya, smpai saat ini belum ada satupun ahli yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan pasti. Tanpa harus menurunkan level kepatuhan terhadap pratokol kesehatan, setidaknya kita bisa bernafas sejenak karena menurut WHO terjadi penurunan kasus positif COVID-19 hingga 77 persen dalam enam pekan terakhir. Selain itu, angka kematian rata-rata masyarakat di seluruh dunia juga sudah turun sebanyak 20 persen. Tak lupa, saat ini program Vaksinasi Nasional dari Kemenkes RI sedang berlangsung dan diharapkan bisa tersebar merata di seluruh lapisan masyarakat. Alih-alih cemas berlebihan, yuk kita lakukan sesuatu untuk melindungi diri sendiri dan keluarga. Caranya gampang banget. Mulai dengan mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan WHO, seperti mencuci tangan dengan benar, memakai masker, tidak menyentuh wajah, menjaga jarak dengan orang lain, dan bila mem

Tempat baru yang mengesankan dan kesenjangan yang luput dari penglihatan

Setelah satu bulanan tinggal di tempat baru, aku mulai berkeliling ke tempat yang satu dan yang lainnya. Biasanya di akhir pekan, aku lebih sering pergi ke Lulu Mart (hypermarket), Giant (toko swalayan), atau Aeon Mall untuk berbelanja bahan belanja selama satu minggu kedepan. Baru sekali saja aku pergi ke Cisauk, tempat di mana stasiun KRL terdekat berada dan Pasar Modern. Besok pagi, aku akan mencoba merasakan suasana berbelanja di sana. Tidak belanja banyak karena sebagian bahan belanja sudah dibeli sore tadi. Aku menemukan tempat belanja "hidden gem" di kawasan perkampungan. Murah sekali. Tentu saja ini akan menjadi pertimbanganku selanjutnya untuk rutin berbelanja di tempat tersebut. "Bang, tempat ini hidden gem! Keluar uangnya segini doang dapatnya banyak banget" ucapku antusias. "Memang. Dari kemarin diajak keluar gak pernah mau. Kalau di kawasan perkampungan semuanya ada, warung, toko buah, jajanan gerobak, nasi padang sepuluh ribuan. Bedakan? Mangkany

Sebelum Dua Pekan.

  Aku yakinkan diri ini berulangkali sebelum berbicara kepada kedua orang tua. Ini bukan sebuah keputusan yang mudah.  Aku tahu, ada banyak rangkaian masalah yang akan menanti aku setelah gerbang perjalanan ini. Namun, pilihannya apakah aku bisa melihatnya sebagai sebuah halangan atau tantangan. “Bunda, mbak menikah boleh ga?” “Iya boleh selesai wisuda ya.” “Kan udah pernah wisuda, kuliah mbak udah siap juga tinggal wisuda doang…” “Kenapa mbak tiba-tiba ingin cepat nikah?” “Engga cepat juga sih, kakak kan udah kelar kuliah bahkan udah kerja juga..” “Emangnya, Hendra udah mau lamar mbak?” “Iya, kalau diizinin.” “Nanti bunda bilang sama ayah dulu.” Hendra adalah nama pria yang menjadi pasanganku satu tahun terakhir. Aku mengingat percakapan sekilas di malam itu. Mengapa hal ini ingin aku segerakan? Mengingat aku berencana menikah dengan dia di pertengahan tahun 2022. Bukan di awal 2021. Aku dan Hendra sudah menjalin hubungan romansa selama satu tahun terakhir. Kami