Langsung ke konten utama

Menuju Era Industri 4.0 Dengan Merangkul Anak Putus Sekolah


Sebagai fresh graduate yang baru dua pekan bekerja, terus terang aku masih sedang belajar beradaptasi dengan lingkungan kantor. Dari jendela putih dihadapanku, terlihat suasana di luar sana masih cerah padahal waktu sudah menunjukan lebih dari pukul lima sore. Semua orang sepertinya tenggelam dalam pekerjaannya masing-masing. Hanya ada suara tetesan air dari keran cuci piring dan suara musik yang terdengar.
           
Drttt.Drrt..Sebuah notifikasi pesan singkat menyadarkan lamunanku. Ternyata berisi beberapa balok percakapan tentang informasi pencarian anak didik hari ini di grup volunteering yang saat ini sedang aku geluti. 

           
Volunteering ini bukan ruang di mana aku mencari jati diri, bukan ruang untuk mencari teman-teman sepermainan, apalagi bukan ruang untuk menemukan tambatan hati, sekaligus bukan ruang untuk mencari uang. Aku yakin ini adalah ruang yang tepat untuk menghidupkan mimpi. Mimpiku sederhana yaitu menghidupkan mimpi orang lain. Ini adalah  alasan yang paling mendekati.

Kala itu sebuah flyer berisikan informasi “Open Volunteer” disebarkan oleh seorang temanku di akun sosialnya. Merasa tertarik aku coba kunjungi akun resmi @semutsumut di Instagram. Tampilan feednya menarik dan aku chek pengikutnya. Ternyata akun tersebut difollow salah satu CEO e-commerce unicorn di Indonesia. Hmm.

Tanpa berpikir panjang. Malam itu juga aku daftar tetapi tidak dengan ekspetasi apa-apa. Aku pernah merasa lelah mengikuti organisasi dan komunitas meskipun aku mengakui bahwa aku telah belajar banyak hal. Lalu runititas itu pernah aku ganti dengan menghadiri beragam workshop. Dan sekarang aku putuskan untuk bergabung,

Kita lihat lebih dekat. Ada apa di sini? Sesuai dengan tema bulan ini oleh Dumet School di Februari ini, yaitu “Pendidikan Luar Sekolah”. Ya, tempat ini membawaku ke dalam definisi utuh tentang pendidikan di luar sekolah, mungkin opsional bagi yang berasal dari sekolah dengan fasilitas belajar memadai ditambah dengan fasilitas mengembangkan diri di rumah tapi prioritas bagi mereka yang tidak memiliki kesempatan untuk menikmati pendidikan di sekolah formal.

Menarik. Berbicara tentang pendidikan selalu menarik. Dari kurikulum yang setiap tahunnya berganti sesuai kebijakan Menteri terpilih, tentang perilaku sekumpulan murid yang tidak beretika terhadap guru di dalam ruangan ketika masih dalam proses belajar-mengajar, tentang anak-anak Indonesia yang terpilih untuk menjadi pewakilan bangsa  di kancah dunia, tentang program-program baru yang dibuka beberapa StartUp dibidang pendidikan untuk turut berkotribusi memajukan pendidikan di Indonesia, tentang guru-guru honorer yang digaji di bawah upah minimum setiap bulannya atau tentang ribuan anak yang terpaksa putus sekolah karena keterbatasan ekonomi dan tidak memiliki pilihan lain selain harus bekerja.

Mari kita berdiskusi tentang pendidikan di luar sekolah, bukan untuk orang-orang yang mampu atau yang bahkan dana pendidikannya sudah dipersiapkan sampai menempuh pendidikan di universitas bahkan ketika dia baru lahir.

Kita akan  berdiskusi tentang anak-anak yang mau tak mau harus berhenti sekolah karena ketidakmampuan finansial. Tahukah kamu ada berapa jumlah anak putus sekolah khususnya di Sumatera Utara? Data yang ditemukan sangat memprihatinkan, mencapai 13.703 anak di sepanjang 2017. Data ini bersumber dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu). Apa yang bisa kita lakukan untuk memperlambat bahkan mengurangi angka tiga belas ribu tersebut.

 

Dari sini semuanya berawal. Semutsumut adalah ruang belajar untuk para pemuda berusia 16 hingga 25 tahun untuk dididik selama satu tahun. Anak didik bisa memilih maksimal dua di antara empat, program belajar apa saja yang mereka butuhkan untuk meningkatkan skill mereka.  Bukan hanya meningkatkan tetapi ditumbuhkan. Ada empat program belajar yaitu kelas desain  grafis, vidoegrafi  musik, dan public speaking. Di mana semua itu bisa mereka dapatkan secara gratis. Dengan modul yang disusun oleh pengajar yang berpengalaman.

Murid-murid tersebut berasal dari latar belakang yang berbeda, namun memiliki satu kesamaan. Sama-sama dipandang rendah oleh dunia karena keterbatasan mereka.

Kenapa Semutsumut hanya membuka kelas desain  grafis, videografi, musik, dan public speaking? Karena keempat skil tersebut sangat relevan dengan hari ini, ketika dunia akan memasuki era industri 4.0. Ketika pekerjaan impian bukan lagi hanya menjadi pegawai, tentara, polisi, dokter, tetapi sudah bergeser menjadi konten kreator, influeencer, youtuber, dan lainnya.


   Bahwa mencari uang sebenarnya bisa dari mana saja dan melakukan apa yang kita cintai dan diapresiasi dengan nominal rupiah yang tidak sedikit. Tentu saja Semutsumut menyadari bahwa di sini ada peluang untuk membantu mereka keluar dari lobang keterbatasan karena  tidak memiliki akses kejenjang pendidikan formal. SemutSemut percaya bahwa #anakputussekolah pun nyatanya juga bisa dihargai dengan mereka yang menempuh pendidikan jenjang formal.

Memang saat ini fasilitas yang disediakan belum sempurna, namun Semutsumut berusaha untuk mengembangkan dan menjadi lebih baik. Tepat pukul delapan belas kurang sepuluh menit wib, satu per satu orang di kantorku sudah mulai berpulangan. Akupun begitu. Aku matikan komputer kerjaku tapi tak akan kumatikan virus kebaikan yang ingin aku sebarkan.

Yuk, berbuat kebaikan dan implementasikan ke dalam projek besar di hidup kita sendiri. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu Indonesia Bagian Hidup Sehat Bersama SEGARI

"Kapan yah pandemi ini usai?" Apakah pertanyaan ini pernah terlintas di kepalamu? Saya yakin kita semua pernah. Namun faktanya, smpai saat ini belum ada satupun ahli yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan pasti. Tanpa harus menurunkan level kepatuhan terhadap pratokol kesehatan, setidaknya kita bisa bernafas sejenak karena menurut WHO terjadi penurunan kasus positif COVID-19 hingga 77 persen dalam enam pekan terakhir. Selain itu, angka kematian rata-rata masyarakat di seluruh dunia juga sudah turun sebanyak 20 persen. Tak lupa, saat ini program Vaksinasi Nasional dari Kemenkes RI sedang berlangsung dan diharapkan bisa tersebar merata di seluruh lapisan masyarakat. Alih-alih cemas berlebihan, yuk kita lakukan sesuatu untuk melindungi diri sendiri dan keluarga. Caranya gampang banget. Mulai dengan mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan WHO, seperti mencuci tangan dengan benar, memakai masker, tidak menyentuh wajah, menjaga jarak dengan orang lain, dan bila mem

Tempat baru yang mengesankan dan kesenjangan yang luput dari penglihatan

Setelah satu bulanan tinggal di tempat baru, aku mulai berkeliling ke tempat yang satu dan yang lainnya. Biasanya di akhir pekan, aku lebih sering pergi ke Lulu Mart (hypermarket), Giant (toko swalayan), atau Aeon Mall untuk berbelanja bahan belanja selama satu minggu kedepan. Baru sekali saja aku pergi ke Cisauk, tempat di mana stasiun KRL terdekat berada dan Pasar Modern. Besok pagi, aku akan mencoba merasakan suasana berbelanja di sana. Tidak belanja banyak karena sebagian bahan belanja sudah dibeli sore tadi. Aku menemukan tempat belanja "hidden gem" di kawasan perkampungan. Murah sekali. Tentu saja ini akan menjadi pertimbanganku selanjutnya untuk rutin berbelanja di tempat tersebut. "Bang, tempat ini hidden gem! Keluar uangnya segini doang dapatnya banyak banget" ucapku antusias. "Memang. Dari kemarin diajak keluar gak pernah mau. Kalau di kawasan perkampungan semuanya ada, warung, toko buah, jajanan gerobak, nasi padang sepuluh ribuan. Bedakan? Mangkany

Sebelum Dua Pekan.

  Aku yakinkan diri ini berulangkali sebelum berbicara kepada kedua orang tua. Ini bukan sebuah keputusan yang mudah.  Aku tahu, ada banyak rangkaian masalah yang akan menanti aku setelah gerbang perjalanan ini. Namun, pilihannya apakah aku bisa melihatnya sebagai sebuah halangan atau tantangan. “Bunda, mbak menikah boleh ga?” “Iya boleh selesai wisuda ya.” “Kan udah pernah wisuda, kuliah mbak udah siap juga tinggal wisuda doang…” “Kenapa mbak tiba-tiba ingin cepat nikah?” “Engga cepat juga sih, kakak kan udah kelar kuliah bahkan udah kerja juga..” “Emangnya, Hendra udah mau lamar mbak?” “Iya, kalau diizinin.” “Nanti bunda bilang sama ayah dulu.” Hendra adalah nama pria yang menjadi pasanganku satu tahun terakhir. Aku mengingat percakapan sekilas di malam itu. Mengapa hal ini ingin aku segerakan? Mengingat aku berencana menikah dengan dia di pertengahan tahun 2022. Bukan di awal 2021. Aku dan Hendra sudah menjalin hubungan romansa selama satu tahun terakhir. Kami