Langsung ke konten utama

Peran Krusial Pendamping Desa Untuk Mengoptimalkan Tujuan Dana Desa






   Setahun lalu saya yang bergabung dengan organisasi Badan Esekutif Mahasiswa kampus sedang melangsungkan kegiatan Program Pengabdian Masyarakat di salah satu desa pesisir yang terletak di provinsi Sumatera Utara. Seperti layaknya desa kecil dan terisolir dari daerah luar membuat tempat tersebut dapat dijelajahi hanya dengan berkeliling seharian dan tidak ada kendaraan bermotor di tempat tersebut. Biasanya transportasi hanya berupa gerobak dorong ataupun sepeda tetapi itupun jarang ditemukan. Karena desa tersebut dikelilingi laut maka alat transpotasi yang ditemukan seringkali adalah perahu nelayan yang bersandar pada tali-tali di dermaga. Luas pemukimannya kurang lebih sebesar 1 hektar dan didiami sebanyak 1000 KK.  
            Seperti biasa pihak desa  berbaik hati menyediakan fasilitas kantor kepala desa sebagai tempat yang bisa digunakan untuk setiap kegiatan yang diselenggarakan. Dari segi transparansi para stakeholder desa menginformasikan anggaran dana desa secara terang-terangan dalam bentuk laporan keuangan sederhana yang dipajang pada bagian dinding luar gedung yang dijadikan sarana informasi untuk masyarakat setempat. Tetapi yang jadi pertanyaan adalah dari anggaran dana tersebut mengapa lebih banyak digunakan untuk pos kepentingan para pegawai dibandingkan anggaran program pembangunan. Hal ini tentu saja sangat disayangkan dan jauh dari kata optimalisasi pembangunan khususnya bagi desa tersebut.
 Kemudian beberapa waktu lalu masih di tahun 2018, keluarga saya berimigrasi dari kota ke salah satu desa di provinsi Sumatera Utara juga. Jika ingin menemukan warung atau tempat yang menyediakan fasilitas menjual kebutuhan alat tulis kantor ataupun untuk mencetak dokumen, tempat tersebut dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih dua puluh menit menggunakan kendaraan bermotor.
Saat itu saya sedang membutuhkan jasa print-out dokumen keperluan untuk melamar kerja dan disamping saya ada seorang perempuan muda sedang menunggu selesainya pekerjaan yang sedang dikerjakan oleh seorang pekerja. Di ruang terbuka saya dapat melihat bahwa laporan yang kurang lebih tebalnya sekitar 1000 halaman tersebut adalah sebuah laporan pembukuan Dana Desa di tempat saya tinggal. Saya memperhatikan seraya berfikir dalam hati “wah tebal juga ya laporan pertanggung jawabannya, tapi yang dibangun kenapa belum ada kelihatan.” Tidak tertutup kemungkinan bahwa saya adalah pendatang baru di tempat tersebut dan sejatinya belum semua tempat saya kelilingi. Tetapi minimnya penerangan jalan yang memadai sebagai salah satu fasilitas yang bisa dinikmati masyarakat ketika sedang menuju desa adalah hal yang bisa jadi pertimbangan.



Tentu saja saya tidak berfikiran negatif tentang adanya penyalahgunaan dana tetapi yang terfikirkan oleh saya adalah alokasi dana yang tidak produktif pada sektor-sektor yang dibutuhkan. Sebagai masyarakat tentunya menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mengawal kebijakan dan pelaksanaan program yang diselenggarakan oleh pemerintah karena itu merupakan hal tersederhana yang bisa kita lakukan tetapi memiliki peran krusial. Karena tidak ada seorangpun yang ingin pembangunan di daerahnya stagnan  setiap tahunnya.



Bersandar pasal 25 PMK 247 tentang penggunaan Dana Desa bahwa Dana Desa diprioritaskan untuk membiayai pembangunan dan pemberdayaan masyarakat yang pelaksanaannya diutamakan secara swakelola dengan menggunakan sumber daya / bahan baku lokal, dan diupayakan dengan lebih banyak menyerap tenaga kerja dan masyarakat desa setempat.



Jadi sangat diperlukan dukungan dari pemerintah terkait adanya pendampingan dalam pengelolaan Dana Desa untuk menghindari kekeliruan administrasi dan memantau adanya pembangunan yang optimal. Penting bagi pihak desa untuk memiliki perencanaan yang baik dalam hal pengelolaannya terutama pada sektor-sektor produktif, misalnya melalui pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat karena hal tersebut dapat dirasakan manfaatnya oleh semua masyarakat sehingga dapat mengantar desa untuk mengejar ketertinggalan dan mewujudkan tujuan dari pengelolaan Dana Desa di bidang sosial ekonomi dan tidak keluar dari koridor prioritas penggunaan Dana Desa dengan menerapkan prinsip swakelola dan keadilan serta bentuk kontribusi yang dilakukan masyarakat dalam pengelolaan Dana Desa yakni memberikan ide, tenaga dan harta benda. Akhir kalimat saya menyampaikan seperti sebuah tagline iklan Dana Desa, jangan coba-coba.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu Indonesia Bagian Hidup Sehat Bersama SEGARI

"Kapan yah pandemi ini usai?" Apakah pertanyaan ini pernah terlintas di kepalamu? Saya yakin kita semua pernah. Namun faktanya, smpai saat ini belum ada satupun ahli yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan pasti. Tanpa harus menurunkan level kepatuhan terhadap pratokol kesehatan, setidaknya kita bisa bernafas sejenak karena menurut WHO terjadi penurunan kasus positif COVID-19 hingga 77 persen dalam enam pekan terakhir. Selain itu, angka kematian rata-rata masyarakat di seluruh dunia juga sudah turun sebanyak 20 persen. Tak lupa, saat ini program Vaksinasi Nasional dari Kemenkes RI sedang berlangsung dan diharapkan bisa tersebar merata di seluruh lapisan masyarakat. Alih-alih cemas berlebihan, yuk kita lakukan sesuatu untuk melindungi diri sendiri dan keluarga. Caranya gampang banget. Mulai dengan mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan WHO, seperti mencuci tangan dengan benar, memakai masker, tidak menyentuh wajah, menjaga jarak dengan orang lain, dan bila mem

Tempat baru yang mengesankan dan kesenjangan yang luput dari penglihatan

Setelah satu bulanan tinggal di tempat baru, aku mulai berkeliling ke tempat yang satu dan yang lainnya. Biasanya di akhir pekan, aku lebih sering pergi ke Lulu Mart (hypermarket), Giant (toko swalayan), atau Aeon Mall untuk berbelanja bahan belanja selama satu minggu kedepan. Baru sekali saja aku pergi ke Cisauk, tempat di mana stasiun KRL terdekat berada dan Pasar Modern. Besok pagi, aku akan mencoba merasakan suasana berbelanja di sana. Tidak belanja banyak karena sebagian bahan belanja sudah dibeli sore tadi. Aku menemukan tempat belanja "hidden gem" di kawasan perkampungan. Murah sekali. Tentu saja ini akan menjadi pertimbanganku selanjutnya untuk rutin berbelanja di tempat tersebut. "Bang, tempat ini hidden gem! Keluar uangnya segini doang dapatnya banyak banget" ucapku antusias. "Memang. Dari kemarin diajak keluar gak pernah mau. Kalau di kawasan perkampungan semuanya ada, warung, toko buah, jajanan gerobak, nasi padang sepuluh ribuan. Bedakan? Mangkany

Sebelum Dua Pekan.

  Aku yakinkan diri ini berulangkali sebelum berbicara kepada kedua orang tua. Ini bukan sebuah keputusan yang mudah.  Aku tahu, ada banyak rangkaian masalah yang akan menanti aku setelah gerbang perjalanan ini. Namun, pilihannya apakah aku bisa melihatnya sebagai sebuah halangan atau tantangan. “Bunda, mbak menikah boleh ga?” “Iya boleh selesai wisuda ya.” “Kan udah pernah wisuda, kuliah mbak udah siap juga tinggal wisuda doang…” “Kenapa mbak tiba-tiba ingin cepat nikah?” “Engga cepat juga sih, kakak kan udah kelar kuliah bahkan udah kerja juga..” “Emangnya, Hendra udah mau lamar mbak?” “Iya, kalau diizinin.” “Nanti bunda bilang sama ayah dulu.” Hendra adalah nama pria yang menjadi pasanganku satu tahun terakhir. Aku mengingat percakapan sekilas di malam itu. Mengapa hal ini ingin aku segerakan? Mengingat aku berencana menikah dengan dia di pertengahan tahun 2022. Bukan di awal 2021. Aku dan Hendra sudah menjalin hubungan romansa selama satu tahun terakhir. Kami