Langsung ke konten utama

Keep Calm and Wish Taqabbal Allahu Minna Wa Minkum



“End Of Ramadhan is not the end but a start point for a new journey towards Jannah”



           
Menunggu itu menjenuhkan? Siapa berani bilang? Mungkin karena yang selama ini kamu tunggu adalah “sebuah ketidakpastian” :p. Tapi lain persoalan dengan yang ini, jauh dari kata menjenuhkan dan lebih dari kata menyenangkan! Menunggu apa? Menunggu hal yang pasti! Ya, tentu saja menunggu datangnya LEBARAN IDUL FITRI. Happy or happy? Hehe.

Idul fitri adalah sebuah momen berbahagia dan bersukaria. Perihal merayakan hari kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, dan dimanfaatkan sebagai hari berkumpul bersama-sama keluarga serta menyambung tali silahturahmi dengan sanak keluarga dan karib kerabat.

Bisa ga, sebutkan hal-hal apa saja yang identik dengan Idul fitri? Yap! Mudik bagi yang punya kampung, gema takbir yang bersambutan, outfit yang eyes catching, hampers kekinian, kue-kuean segala jenis beserta kolestrolnya, ketupat dan filosofinya, parcel-parcel makanan yang menggiurkan, bahkan belum lengkap kalau belum ada AMPLOP lebaran! Aha! Kalau kamu butuh amplop-amplop gemas sebagai cover alokasi “THR” kamu bisa dapetin disini lo ya! http://www.kekida.com

Tapi aku mau disclaimer sebelumnya, bahkan jikapun lebaran kita berjalan seadanya, tidak dengan apa-apa hal yang mewah atau trendy, bukan berarti lebaran kita tidak menyenangkan ya, segala sesuatu bisa disesuaikan dan yang paling penting kita harus merasa bersyukur- maka akan dicukupkan, sesuai dengan janji Allah Swt. Tapi kalau kita merasa dikelilingi oleh semua hal-hal tersebut, maka tidak boleh berlebihan, tetap “Say Alhamdulillah” dan berfikir “Apakah ini nikmat atau sebuah ujian.” Intinya, bersyukur itu rules nomor satu ya  teman-teman. Hehe.

Terlalu banyak hal yang ditunggu bersamaan dengan datangnya lebaran, menunggu deraian air mata yang mengalir menganak sungai dipipi ketika sedang sungkeman dengan keluarga besar, yang urutannya dimulai dari anak nenek paling dewasa dan diakhiri dengan cicit nenek yang terakhir. Ada hal yang gabisa dijelaskan semakin dewasa, lucu tapi sedih, sedih tapi lucu. Ketika kita masih sekolah dasar, ya sekedar salam aja wajarnya atau sambil bilang “Mohon maaf lahir batin ya nek/kek/tant/om/, mohon maaf kalau aku banyak salahnya.” Tapi di umur belasan, spesifiknya tujuh belasan ke atas dan sepupu kita pada seumuran, ada waktunya nanti waktu generasi baby boom masih dalam isak-tangis, generasi milenealnya malah briefing dulu, entas pas salaman mau bicara apa, terus nangisnya mau gimana...... hahaha:’))

Budaya sungkeman ini sebuah tradisi turun menurun yang aku sendiri belum paham diadopsi dari sejarah apa, tapi selalu dirindukan. Coba kapan lagi toh kamu lihat saudara sepupu kamu yang gayanya luar bisa tengil bisa nangis bergelimang air mata? Tapi sebenarnya bukan itu juga, lebih ke syahdu. Barangkali ini salah satu dari isi-isi kemenangan yang dimaksud namun tidak dijelaskanya? Menang dari ego “malu buat sungkeman-minta maaf”, bahkan malunya itu bukan malu karena pernah buat salah tapi sudah campur aduk komposisi malunya.

Kemudian setelah drama-drama syahdu selesai, momen selanjutnya adalah foto keluarga. Moment sekali-setahun, dan harus lebaran dulu, harus nangis-nangis cantik dulu, baru berpose utuh dengan keluarga yang lengkap, alias keluarga besar. Jadi dari tahun ketahun selalu ada aja saudara yang nambah, selalu ada new baby! Dan biasanya yang digerumulin setelah “Donatur THR” adalah “baby-baby  yang sedang merangkak gemesh.” Dan jadi seperti boneka rebutan yang dioper secara bergantian dari gendongan ke satu ke yang lainnya.

Mencicipi kue-kue lebaran, berasa keringatnya ga? Keringat ketika nge-stir adonan isi kue nastar! Haha:p berikutnya hal yang dirindukan dan bisa diselipkan itu ketika biasanya kita diminta untuk membantu membuat kue-kue sesuai dengan prosedur yang telah dijelaskan sebelumnya oleh ibu atau nenek, sebagai generasi yang kreatif kadang dengan sengaja buat bentuk-bentuk adonan kue yang aneh-aneh, yang laing lazim disengajakan adalah “bentuk orang-orangan” . Senang aja gitu, “Senang aja buat orang tua marah.” tepatnya. Atau “Senang melambat-lambatkan pekerjaan.”

Ketika lebaran Idul fitri, jalanan Kota Medan itu lenggang sekali, tidak seperti biasnaya, kendaraan yang berlalu-lalang itu satu persatu. Karena pada mudik pulang kampung kali ya. Ketahuan deh gapunya kampung. Bukan gapunya kampung, tapi ya Medan ini kampungnya aku, ahaha. Kapan lagi coba jalanan Kota Medan bisa selenggang-lenggangnya di siang bolong?  Hanya ketika lebaran Idul fitri tiba.





Bersamaan dengan selesainya tulisan singkat tentang apa yang paling dirindukan ketika lebaran Idul Fitri adalah, gema takbir yang saling bersautan dengan perantara udara dan menenangkan hati “Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha ill-Allah, Allahu akbar, Allahu akbar, wa Lillahi’l-hamd” which mean is “Allah is Most Great, there is no God worthy of worship except Allah. Allah is Most Great and all praises be to Allah.” Yang konon katanya, ketika takbir menggema dihari lebaran para orang-orang yang telah mendahului kita dalam berpulang ke Ilahi kembali ke rumahnya masing-masing, wallahu alam.

Komentar

  1. Banyak banget tradisi yang ditunggu lebaran

    BalasHapus
  2. eh ahaha, buat kue yang sudah di kasi prosedurnya terus di buat yang berbeda, ternyata semua orang pernah mengalami hal ini, :D
    kalau buat kue sendiri ya kalau ga cantik banget ya jelek banget :D ahaha

    BalasHapus
  3. Lebaran sebentar lagiiii. yeeeeee. alhamdulillah

    BalasHapus
  4. sebagai saudara tidak sekeyakinan, aku ikut nunggu lebaran lho. kalau di kampung (jateng) aku malah ikut sedia kue2 dan juga silaturahmi ke tetangga dan saudara2 yang muslim.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu Indonesia Bagian Hidup Sehat Bersama SEGARI

"Kapan yah pandemi ini usai?" Apakah pertanyaan ini pernah terlintas di kepalamu? Saya yakin kita semua pernah. Namun faktanya, smpai saat ini belum ada satupun ahli yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan pasti. Tanpa harus menurunkan level kepatuhan terhadap pratokol kesehatan, setidaknya kita bisa bernafas sejenak karena menurut WHO terjadi penurunan kasus positif COVID-19 hingga 77 persen dalam enam pekan terakhir. Selain itu, angka kematian rata-rata masyarakat di seluruh dunia juga sudah turun sebanyak 20 persen. Tak lupa, saat ini program Vaksinasi Nasional dari Kemenkes RI sedang berlangsung dan diharapkan bisa tersebar merata di seluruh lapisan masyarakat. Alih-alih cemas berlebihan, yuk kita lakukan sesuatu untuk melindungi diri sendiri dan keluarga. Caranya gampang banget. Mulai dengan mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan WHO, seperti mencuci tangan dengan benar, memakai masker, tidak menyentuh wajah, menjaga jarak dengan orang lain, dan bila mem

Tempat baru yang mengesankan dan kesenjangan yang luput dari penglihatan

Setelah satu bulanan tinggal di tempat baru, aku mulai berkeliling ke tempat yang satu dan yang lainnya. Biasanya di akhir pekan, aku lebih sering pergi ke Lulu Mart (hypermarket), Giant (toko swalayan), atau Aeon Mall untuk berbelanja bahan belanja selama satu minggu kedepan. Baru sekali saja aku pergi ke Cisauk, tempat di mana stasiun KRL terdekat berada dan Pasar Modern. Besok pagi, aku akan mencoba merasakan suasana berbelanja di sana. Tidak belanja banyak karena sebagian bahan belanja sudah dibeli sore tadi. Aku menemukan tempat belanja "hidden gem" di kawasan perkampungan. Murah sekali. Tentu saja ini akan menjadi pertimbanganku selanjutnya untuk rutin berbelanja di tempat tersebut. "Bang, tempat ini hidden gem! Keluar uangnya segini doang dapatnya banyak banget" ucapku antusias. "Memang. Dari kemarin diajak keluar gak pernah mau. Kalau di kawasan perkampungan semuanya ada, warung, toko buah, jajanan gerobak, nasi padang sepuluh ribuan. Bedakan? Mangkany

Sebelum Dua Pekan.

  Aku yakinkan diri ini berulangkali sebelum berbicara kepada kedua orang tua. Ini bukan sebuah keputusan yang mudah.  Aku tahu, ada banyak rangkaian masalah yang akan menanti aku setelah gerbang perjalanan ini. Namun, pilihannya apakah aku bisa melihatnya sebagai sebuah halangan atau tantangan. “Bunda, mbak menikah boleh ga?” “Iya boleh selesai wisuda ya.” “Kan udah pernah wisuda, kuliah mbak udah siap juga tinggal wisuda doang…” “Kenapa mbak tiba-tiba ingin cepat nikah?” “Engga cepat juga sih, kakak kan udah kelar kuliah bahkan udah kerja juga..” “Emangnya, Hendra udah mau lamar mbak?” “Iya, kalau diizinin.” “Nanti bunda bilang sama ayah dulu.” Hendra adalah nama pria yang menjadi pasanganku satu tahun terakhir. Aku mengingat percakapan sekilas di malam itu. Mengapa hal ini ingin aku segerakan? Mengingat aku berencana menikah dengan dia di pertengahan tahun 2022. Bukan di awal 2021. Aku dan Hendra sudah menjalin hubungan romansa selama satu tahun terakhir. Kami