Langsung ke konten utama

Hidup di-Persimpangan Ketidakpastian.



Hal yang tak pernah aku suka di dunia ini adalah masa-masa peralihan. Masa transisi dari satu fase ke fase yang baru. Rasanya tapakan kakiku belum cukup kuat untuk berpijak pada bumi ini, hembusan angin semilir saja mampu membuatku jatuh berlutut. Pada banyak hal, masa-masa tersulit. Tapi memang benar adanya mitologi yunani tentang kotak pandora, bahwa satu hal yang  masih tersisa dan tak mampu terbang bebas di dalam kotak ketika Pandora membukanya ialah untaian harapan. Harapan menguatkan sekaligus melemahkan.

Bahwasanya aku adalah seorang pelupa, namun ada beberapa hal yang sampai saat ini belum bisa aku lupakan. Melupakan adalah bagian dari sebuah perjalanan, tetapi nyatanya disini ada pengecualian, tak mampu aku lupakan namun hidupku bukan berarti tak berjalan.
 Kala itu, aku gagal seleksi masuk Sekolah Menengah Pertama jalur RSBI favorit di kota ini, pilihan orang tuaku. Karena hasil ujianku yang tidak mencapai standar nilai mati seharusnya. Masih di sekolah yang sama namun jalur yang berbeda, jalur reguler, aku mencoba lagi namun gagal. Orang tua memilihkan yang terbaik, namun hanya saja mungkin waktu itu aku yang tak begitu serius. Tak apa, sekolah swasta pilihan ayahku waktu itu bukan sekolah abal-abal. Itu yang pertama.

Kemudian, masa transisi yang kedua aku alami tiga tahun setelahnya, memilih Sekolah Menengah Atas. Aku menjatuhkan pilihanku pada salah satu sekolah negeri favorit di Kota ini, namun sepertinya tak ada dukungan, belajar dari pengalaman, lebih baik aku mengajukan berkas formulir pendaftaranku pada Sekolah Negeri yang terdekat dari rumah. Aku menolak, aku menurunkan penawaran tapi pada sekolah pilihanku.Semua mengikuti jalur mainku, sampai akhirnya gagal lagi. Penyesalan terbesarku bukan karena aku tak menuruti pilihan tapi  ternyata akumulasi nilaiku hanya beda tipis pada kuota yang ditampung sekolah tersebut. Aku ingat sekali, kuota yang diterima adalah 360 dan posisiku berada di 369 dengan jumlah nilai yang sama tetapi beda koma dengan si posisi 360. Tapi tetap saja gagal. Jalur belakang ditawarkan dan hal itu adalah rahasia umum. Namun aku tak menginginkan. Aku memilih sekolah swasta sendiri, tetap saja bukan sekolah abal-abal. Ini yang kedua.

Selanjutnya, tahun itu tahun terberat bagi setiap anak kelas 3 SMA, memasuki masa kuliah. Bingung hendak melanjutkan pendidikan kemana adalah hal yang wajar dan menghantui. Hidup penuh drama, air mata, memilih kampus kemudian tak dipilih, tekanan, impian, adalah bagian dari masa putih abu-abu-ku. Masa-masa tersakit untuk anak usia 17 tahun kala itu. Tentu saja indikator masalah hidup anak kelas 3 SMA sebatas apalah. Belum lagi stigma kampus negeri yang tak hilang-hilang, aku lebih berorietansi pada swasta saja, bukan lulus sekedar tertanda ijasah, tapi nyatanya sebagai anak yang masih ditanggung dan belum mampu mencukupi kebutuhan sendiri saja belum mampu, aku masih harus tunduk pada sebuah aturan.

Lagi – lagi sepertinya aku belum dipecayakan bahkan untuk sekedar memilih jurusan, sebenarnya aku bisa saja memilih jurusan sesuai kemaukanku ketika itu toh proses administrasi aku selesaikan sendiri, apalagi aku orangnya suka dijalur yang lain, yang dibilang A, yang akan kulakukan adalah B, tapi tentang memutuskan sesuatu, selagi aku masih berada dibawah tanggung jawab ayah dan ibu, aku putuskan waktu itu baiknya menurutku adalah mengikuti pilihan orang tuaku.

Hal yang buat aku selanjutnya adalah malas berargumentasi adalah “Kakak itu sulit diatur, ga pernah nurut. Dulu waktu SMA disuruh pilih A, maksain milih B. Akhirnya apa? Gagal kan. Toh orang tua kan milihin yang terbaik untuk anaknya. Lihat, adek. Dia nurut dibilangin kesini dia kesini. Akhirnya? Berhasil
Kadang aku nyeletuk, “yah, kakak itu gagal diantara elang-elang, bukan pinter diantara bebek-bebek.” Dan hati ini  mikir “Kalau memang itu yang bisa buat bahagia dan nembus kesalahan yang lalu, yaudahlah”

Siapasih yang mau gagal? Tapi aku gapernah malu ketika gagal. Aku pencari kegagalan, ga takut untuk belajar, ga takut untuk salah, tapi memang sebagai anak pertama- cara orang tua ngedidik kita dengan adik kita itu sedikit berbeda. Dikeraskan dan ditegaskan dalam berbagai hal, harus bisa mengerti segala hal dengan improvisasi bukan diajari, jadi contoh yang baik buat adik-adik. Tempat pertama yang harus bisa jadi sandaran kalau hal yang tidak diinginkan terjadi, 3  tahun setelah itu, aku baru sadar kemana ujungnya semua itu. Saat ini. Tapi mungkin, aku gagal menuhin segala ekspetasi yang orang harapkan dari seorang aku. Tapi balik lagi, aku hidup bukan untuk menuhin ekspetasi orang?

Pengumuman waktu itu tiba, dan aku gagal lagi! Yay! Dimulai dari jalur snmptn, sbmptn, mandiri aku ga coba, dan kemudian pilihan terakhir aku ga mutuskan masuk universitas tapi muter kemudi untuk ke pendidikan vokasi. Ada tawaran untuk kuliah di univ swasta di luar kota dari ayah, tapi waktu itu ga ambil kesempatannya.Dengan tingkat emosi anak usia 17 tahun waktu itu, aku cuma bisa nangis dibalik pintu, meluk lutut.
            
Kemudian ternyata allah mentakdirkan aku untuk ngambil pendidikan vokasi, di politeknik. Dengan aturan seketat-ketatnya aturan-dengan kondisi psikis ku yang suka kebebasan, tapi aku jalani perkuliahanku dengan baik-beberapa hal yang aku lakukan bisa buat ayah dengan ibu percaya dengan aku, aku dapat kepercayaan setelah menunggu waktu yang lama

....................

Di usia aku ke 20, ayah ngomong “Kak, sekarang keputusan semua ditangan kakak. Ayah dukung kakak. Waktunya ayah fokus ke adik-adik, kakak juga jangan lupa perhatiin adik-adik sesibuk apapun kakak. Ayah gapernah minta apa-apa dari kakak-ayah minta kakak bisa handle hidup kakak dan jadi sebaik-baiknya diri kakak. Ingat kak, ayah ga janjikan kakak selalu hidup serba ada, kakak harus siap dengan segala apapun didepan kakak.”

Bagi aku, hadiah terindah itu adalah sebuah kepercayaan, menggingat aku ga pernah dipercayakan. Kepercayaan itu tumbuhnya dari rumah, orang-orang yang kurang percaya diri biasanya kurang dipercayakan dirumah. Penting membangun kepercayaan diri itu dari rumah. Ayah, adalah cinta pertama setiap anak perempuannya.

Di fase saat ini, pendidikanku hampir berakhir, malah sudah berakhir karena tidak ada kelas yang harus diselesaikan lagi, semua mata kuliah sudah diambil, magang sedang dilakukan, yang tersisa tinggal utang skripsi minor dan laporan magangku-
................

Untuk menuju sebuah gerbang ketidakpastian lagi. Karena yang pasti hanyalah kematian. Penuh kebimbangan, penuh kehati-hatian, ternyata ketika sudah dipercayakan untuk mengarahkan hidup sendiri nyatanya juga sulit, tidak mudah, namun aku yakin aku bisa melewati ini, karena badaipun akan segera berlalu.

Khawatir bukan tanda ragu kepada sang pencipta, disini khawatir adalah salah satu teguran untuk aku memperbaiki apa yang bisa diperbaiki di sisa waktu yang ada. Mau melanjutkan sekolah lagi atau gap-year sejenak dan memutuskan bekerja? Aku sudah diperbolehkan membuat keputusan sendiri-apakah aku bahagia? Tidak, aku juga bingung. Kali ini mengaku, aku takut membuat kesalahan dalam membuat keputusan hidup. Tapi aku tidak akan bilang dan mengembalikan hadiah kepercayaan, mengingat hal itu yang aku dambakan selain “bisa liat balon udara”.

Aku tak berharap dan memerintahkan semesta untuk mengabulkan segala keinginanku, aku hanya berharap pada diriku sendiri untuk kuat dan tegar kala hidup mendorongku jatuh. Bulan-bulan setelah ini tidak mudah dan aku yakin, penuh dengan persoalan baru dan sekaligus penyelesaian baru.

Setahun yang akan datang, ketika aku membaca tulisan ini, akan mengingatkanku bahwa aku pernah ada di masa-masa ini berkali-kali. Bahwa ketidakpastian adalah hal yang mutlak dan harus dihadapi.
Selesai. Bersambung, ditahun depan.

Semoga siapapun yang sekarang sedang berjuang untuk masa depannya dipermudahkan jalannya oleh sang pemilik dunia dan akhirat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu Indonesia Bagian Hidup Sehat Bersama SEGARI

"Kapan yah pandemi ini usai?" Apakah pertanyaan ini pernah terlintas di kepalamu? Saya yakin kita semua pernah. Namun faktanya, smpai saat ini belum ada satupun ahli yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan pasti. Tanpa harus menurunkan level kepatuhan terhadap pratokol kesehatan, setidaknya kita bisa bernafas sejenak karena menurut WHO terjadi penurunan kasus positif COVID-19 hingga 77 persen dalam enam pekan terakhir. Selain itu, angka kematian rata-rata masyarakat di seluruh dunia juga sudah turun sebanyak 20 persen. Tak lupa, saat ini program Vaksinasi Nasional dari Kemenkes RI sedang berlangsung dan diharapkan bisa tersebar merata di seluruh lapisan masyarakat. Alih-alih cemas berlebihan, yuk kita lakukan sesuatu untuk melindungi diri sendiri dan keluarga. Caranya gampang banget. Mulai dengan mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan WHO, seperti mencuci tangan dengan benar, memakai masker, tidak menyentuh wajah, menjaga jarak dengan orang lain, dan bila mem

Tempat baru yang mengesankan dan kesenjangan yang luput dari penglihatan

Setelah satu bulanan tinggal di tempat baru, aku mulai berkeliling ke tempat yang satu dan yang lainnya. Biasanya di akhir pekan, aku lebih sering pergi ke Lulu Mart (hypermarket), Giant (toko swalayan), atau Aeon Mall untuk berbelanja bahan belanja selama satu minggu kedepan. Baru sekali saja aku pergi ke Cisauk, tempat di mana stasiun KRL terdekat berada dan Pasar Modern. Besok pagi, aku akan mencoba merasakan suasana berbelanja di sana. Tidak belanja banyak karena sebagian bahan belanja sudah dibeli sore tadi. Aku menemukan tempat belanja "hidden gem" di kawasan perkampungan. Murah sekali. Tentu saja ini akan menjadi pertimbanganku selanjutnya untuk rutin berbelanja di tempat tersebut. "Bang, tempat ini hidden gem! Keluar uangnya segini doang dapatnya banyak banget" ucapku antusias. "Memang. Dari kemarin diajak keluar gak pernah mau. Kalau di kawasan perkampungan semuanya ada, warung, toko buah, jajanan gerobak, nasi padang sepuluh ribuan. Bedakan? Mangkany

Sebelum Dua Pekan.

  Aku yakinkan diri ini berulangkali sebelum berbicara kepada kedua orang tua. Ini bukan sebuah keputusan yang mudah.  Aku tahu, ada banyak rangkaian masalah yang akan menanti aku setelah gerbang perjalanan ini. Namun, pilihannya apakah aku bisa melihatnya sebagai sebuah halangan atau tantangan. “Bunda, mbak menikah boleh ga?” “Iya boleh selesai wisuda ya.” “Kan udah pernah wisuda, kuliah mbak udah siap juga tinggal wisuda doang…” “Kenapa mbak tiba-tiba ingin cepat nikah?” “Engga cepat juga sih, kakak kan udah kelar kuliah bahkan udah kerja juga..” “Emangnya, Hendra udah mau lamar mbak?” “Iya, kalau diizinin.” “Nanti bunda bilang sama ayah dulu.” Hendra adalah nama pria yang menjadi pasanganku satu tahun terakhir. Aku mengingat percakapan sekilas di malam itu. Mengapa hal ini ingin aku segerakan? Mengingat aku berencana menikah dengan dia di pertengahan tahun 2022. Bukan di awal 2021. Aku dan Hendra sudah menjalin hubungan romansa selama satu tahun terakhir. Kami