Langsung ke konten utama

Education is the most Powerful



Meminjam kata dari Malcolm Forbes, “Education’s purpose is to replace an empty mind with an open one.”  Bahwa nyatanya memang benar tujuan pendidikan salah satunya adalah memanusiakan manusia. Namun pada tingkat lanjut pendidikan telah kehilangan makna. Sistem ini muncul karena sistem pendidikan yang menekankan pada kesetaraan pengetahuan dan keterampilan pada satu indikator kompetensi universal, akibatnya kreativitas dapat terbelenggu sebab hanya ada satu objektif tertentu dalam suatu tingkat pendidikan. Sistem pendidikan konvensional ini memiliki kelebihan pada sektor penyiapan sumber daya manusia sebagai manusia yang dapat mengutilisasi sumber daya alam sebanyak-banyaknya, termasuk memanajemen manusia itu sendiri. Akhirnya manusia dididik untuk menjadi seragam : seragam pada pemikiran dan perbuatan. Padahal manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, diciptakan Tuhan dibekali akal, ditujukan untuk mengolah akal pikirnya dengan suatu pola pendidikan, melalui suatu proses pembelajaran.

Pendidikan konvensional memaksa manusia untuk mencapai goal tertentu, yang tidak semua manusia partisipan pendidikan tersebut mempunyai rasa keingintahuan pada goal tersebut. Satu indikator kompetensi universal mematikan rasa ingin tahu pada bidang atau goal lain pada sebagian partisipan lain. Hal inilah yang harus diperbaiki dalam sistem pendidikan di Indonesia, memaknai pendidikan sebagai proses belajar tidak hanya memandang pendidikan sebatas sekolah formal di sekolah. Menciptakan inovasi sebagai solusi dari permasalahan-permasalahan pendidikan di Indonesia.

Sistem pendidikan di Indonesia yang diwariskan secara turun-menurun harus mulai diluruhkan secara perlahan, karena dampaknya apabila terjadi secara terus-menerus akan membuat pendidikan warga negara ini semakin tertinggal dari negara-negara lainnya yang meninggalkan model pendidikan konvensional menuju arah pendidikan modern.

Hal  yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan pendidikan adalah dengan (1) merubah orietansi pendidikan yang hanya berkutat pada angka-angka numerik, dimana angka 1 sampai dengan 100 dapat menghakimi hidup seseorang secara subjektif menjadi orietansi literasi Kenapa literasi? Karena sesuai dengan makna literasi sendiri yaitu “memahami hal yang dahulunya tidak mengerti menjadi dapat mengerti” bukankah apa yang kita pelajari harus kita mengerti? Supaya terciptanya implementasi ilmu dalam kehidupan sehari-hari yang akan menjadi tempah wadah kontribusi untuk setiap manusia. (2) mendukung gerakan anak muda yang memanfaatkan dunia digital sebagai wadah untuk menyalurkan materi-materi pelajaran secara efektif dengan efisien. (3) Meminimalisir tingkat kompetisi dan meningkatkan kesadaran untuk berkolaborasi. (4) Mendukung keberagaman kemampuan tanpa adanya justifikasi.

Dengan jumlah pemuda sekitar 74000 usia produktif, apabila kita bersatu dengan satu niat yang selaras untuk memajukan pendidikan di indonesia sekaligus mendukung dan mengambil peran dalam berkontribusi untuk mewujudkan SDGS nomor 4 yaitu “Quality Education” bukanlah hal yang mustahil untuk merobohkan sistem pendidikan konvensional yang mengikat penerus bangsa ini.

Ketika kita berhasil secara perlahan merubah pendidikan yang konservatif dengan metode pendidikan yang modern tanpa kehilangan orietansi pendidikan Indonesia yang sesusungguhnya yaitu pendidikan pancasila dibagian itulah kita mengerti peran kita yang ikut bertanggung jawab atas negara ini sebagai anak bangsa dan penerus bangsa kelak.



Daftar pustaka :
Choney, R Stephen. (2013).7 Habits Of Highly Effective People – Tangerang Selatan : bina Rupa Aksara.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KAUM MILENIAL WAJIB MANFAATKAN APLIKASI SIKASEP UNTUK WUJUDKAN RUMAH IMPIAN

(Sumber: Media Indonesia) Bagaimana caranya agar milenial bisa memiliki rumah? Tren pertumbuhan penduduk di Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia memasuki era bonus demografi. Sebuah fenomena langkah yang hanya akan terjadi satu kali dimana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibanding jumlah penduduk tidak produktif. Namun, sayangnya kaum yang diberi label sebagai tulang punggung ekonomi ini diprediksi tidak bisa memiliki hunian seumur hidupnya.Tentunya ada beberapa hal yang menjadi hambatan, seperti pengeluaran konsumsi yang tinggi, kenaikan upah pekerja tidak sebanding dengan lonjakan harga properti setiap tahunnya, sampai dengan benturan-benturan persyaratan perbankan yang tidak mengakomodir karakteristik generasi ini. Rumah adalah bagian dari kebutuhan pokok manusia yang harus segera dipenuhi setelah kebutuhan sandang dan pangan. Tapi, kebanyakan milenial menggeser prioritas untuk membeli rumah dengan berperilaku konsumtif. Dengan harga properti yang semakin ting

Waktu Indonesia Bagian Hidup Sehat Bersama SEGARI

"Kapan yah pandemi ini usai?" Apakah pertanyaan ini pernah terlintas di kepalamu? Saya yakin kita semua pernah. Namun faktanya, smpai saat ini belum ada satupun ahli yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan pasti. Tanpa harus menurunkan level kepatuhan terhadap pratokol kesehatan, setidaknya kita bisa bernafas sejenak karena menurut WHO terjadi penurunan kasus positif COVID-19 hingga 77 persen dalam enam pekan terakhir. Selain itu, angka kematian rata-rata masyarakat di seluruh dunia juga sudah turun sebanyak 20 persen. Tak lupa, saat ini program Vaksinasi Nasional dari Kemenkes RI sedang berlangsung dan diharapkan bisa tersebar merata di seluruh lapisan masyarakat. Alih-alih cemas berlebihan, yuk kita lakukan sesuatu untuk melindungi diri sendiri dan keluarga. Caranya gampang banget. Mulai dengan mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan WHO, seperti mencuci tangan dengan benar, memakai masker, tidak menyentuh wajah, menjaga jarak dengan orang lain, dan bila mem

BERSYUKUR DAN BERDAMAI DENGAN RAMADAN DI TENGAH PANDEMI

Kamu tahu, apa yang membuat Ramadan sangat dirindukan? jawabannya adalah tentang momen-momen istimewa yang terjadi bagi kita umat muslim di berbagai belahan dunia. Selalu ada euforia yang memenuhi relung hati di waktu sahur dan berbuka puasa. Baik bersama keluarga ataupun teman-teman. Selalu ada suasana syahdu ketika menghadiri shalat berjamaah, mendengar ceramah, menonton kultum, dan menghadiri majelis-majelis yang membersihkan hati nurani dari sifat seperti rasa dengki, iri hati, dan kebencian. Selalu ada menu-menu makanan yang selama ini dinanti-nanti dan setiap gigitannya membangkitkan memori yang membersamainya. Selalu ada jutaan kebaikan dengan niat tulus dari siapapun dan untuk siapa pun. Barangkali Tuhan ingin kita menjalankan Ramadan dengan khusyuk, tanpa ada janji buka puasa bersama 30 hari berturut-turut yang membuat lalai sholat Magrib. Tanpa ada aktivitas berkeliaran di jalanan ketika matahari baru beranjak terbit yang tak jarang berujung pada kecelakaan-kecelaka