Langsung ke konten utama

Rumah Kaca

Dalam cemas itulah Negara bertaut dengan agama. “Tak ada, dan tak akan bisa ada, sebuah Negara tanpa agama.” Tulis Mikhail Bakunin dalam Tuhan dan Negara.



   Negara tak bisa menerjemahkan Tuhan ke dalam dirinya. Tapi  akhir-akhir ini sesuatu terjadi, sesuatu yang seperti risau, hingga Negara dianggap sanggup berurusan dengan dosa sebagai suatu yang bisa diukur dengan sekian tahun penjara. Dengan kata lain, dosa- yang ada dalam yurisdiksi Tuhan, perbuatan yang dihadapkan kepasa kuasa dan kearifan yang transendental-hendak dipindahkan ke wilayah-Negara. Ia jadi kriminalitas.

    “Kriminalitas”. Kata ini tak ada dalam kosakata Indonesia sebelum ada negara modern. Ia bermula dari bahasa Prancis lama, crimne, yang berakar pada kata Latin, crimen (“dakwaan”). Kemudian crimne merasuk ke dalam bahasa-bahasa Eropa : Belanda (criminaliteit) dan Inggris (crime), sejak sekitar abad ke-13, menjelang berakhirnya “zaman iman” – ketika perbuatan “salah” tak lagi sepenuhnya dihakimi agama. Kata criminaliteit berarti “kelakuan atau tindakan yang dapat dihukum menurut undang-undang”.

    Bahasa Indonesia kemudian memungut kata “Kriminalitas” yang disepadankan dengan “kejahatan”. Tapi sebenarnya tak tepat “Jahat” tak dengan sendirinya sama dengan pelanggaran undang-undang mengendarai mobil tanpa SIM, misalnya, tak lazim dianggap “Jahat”. Mengolok-olok orang buta tak biasa dianggap satu contoh kriminalitas-kecuali jika undang undang melarang perbuatan itu.

     Undang-undang, kita tahu, adalah produk kenegaraan. Ia disusun lembaga yang punya wewenang atau kekuasaan-atribut yang terbentuk dari proses sosial: dimaklumkan, diakui, diterima, dan dikukuhkan orang ramai disebuah masyarakat. Jika kita telaah dengan bersungguh-sungguh, akan tampak bahwa dalam proses itu berlangsung kesepakatan, kontradiksi, konflik, kompromi, hipokrisi. Di sana tercermin kepentingan sepihak yang kerdil ataupun tak kerdil, baik dikemukakan secara otoriter maupun demokratis. Proses membuat undang-undang mirip proses membuat tahu : tak harum, tak jernih, dan tak bisa tak rapi, dengan hasil yang dianggap bergizi.

    Produk kenegaraan sebenarnya bermula dari sebuah ilusi bahwa Negara adalah sebuah kesatuan. Bahkan ketika ia diwakili satu pemerintah, kesatuan itu sebenarnya fiktif, hasil operasi semata.

     Kita perlu ingat kesimpulan Alan Badiou: “satu” itu tak ada. Hidup adalah multiplistas yang tak konsisten: kenyataan yang ragam dan macamnya berlipat-lipat tak terhingga. Hidup adalah hal-ihwal yang jumlah dan jenisnya antah berantah. Tapi kita, manusia, melihatnya sebgaia keanekaragaman yang mantap, berpola, konsisten, hingga sebuah bangunan politik dapat disebut dengan sebuah nama, seakan-akan identitasnya tetap. Kita takut dunia yang karut-marut, yang memang membayang-bayangi tiap kesatuan seperti lubang hitamn di mana antah0berantah berkuasa dan kehampaan mengancam  akan melulurn apa saja. Kita cemas.

     Kecemasan akan kehampaan itu, anagoise du vide yang merundung itu. mendorong manusia membangun ilusi. Negara dipresentasikan sebagai struktur yang padu. Tapi tiapnya, dicelah-celahnya. Selalu ada yang luput dari tata itu, babnya sebuah struktur selalu membutuhkan meta-struktur:manusia khawatir akan keadaan yang amburadul.

      Dalam cemas itulah Negara bertaut dengan agama. “Tak ada, dan tak akan bisa ada, sebuah Negara tanpa agama.” Tulis Mikhail Bakunin dalam Tuhan dan Negara.

            Bakunin, seorang anarkis, memaparkan itu, dengan nada amarah, di tahun 1882. Kini, di abad ke-21 di dunia yang tak lagi punya pusat, ketika yang dianggap “pusat” berkali-kali berubah, negara mengikuti Tuhan-diproyeksikan sebagai yang satu, yang kuasa, yang mengetahui, yang adil, yang sah. Negara didorong agar mengkriminalkan apa saja yang mencemaskan tatanan : cara berpakaian, beriman, dan berperilaku seksusal yang berbeda. Bagaikan Tuhan menurut agama-agama, Negara harus menganggap perbuatan itu dosa.

        Ini ilusi besar. Ada satu telaah yang tajam tentang ambisi dan sekaligus kegagalan Negara : seeing like a state oleh James C Scott. Negara selalu ingin membuat tiap hal legible, bisa dibaca, dikenali, dibeda-bedakan-dan bisa dikontrol. Maka penduduk didaftar, diberi KTP, bahasa huku, dibakukan, juga jenis kelamin. Tapi pembakuan itu juga penyederhanaan, merampat papan secara kasar, yang tak memperdulikan apa yang unik, yang renik, rumit, dan tak tepermanai.

         Jelas, negara tak akan mampu menilik dan menilai semua hal, apalagi dunia privat manusia. Ia tak bisa menerjemahkan kemampuan dan keadilan Tuhan ke dalam dirinya. Pramoedya Ananta Toer telah menunjukkan itu dalam Rumah Kaca : betapapun tekun, rajin, dan pandainya mata-mata kolonial mengawasi tanah jajahan, dan menginginkannya jadi sebuah rumah kaca yang transparan, akhirnya ada yang selalu tak tampak. Ada Minke, ada api dalam diri manusia untuk bebas-meskipun ketika bebas dianggap dosa.

Goenawan Mohamad. Tempoe.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KAUM MILENIAL WAJIB MANFAATKAN APLIKASI SIKASEP UNTUK WUJUDKAN RUMAH IMPIAN

(Sumber: Media Indonesia) Bagaimana caranya agar milenial bisa memiliki rumah? Tren pertumbuhan penduduk di Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia memasuki era bonus demografi. Sebuah fenomena langkah yang hanya akan terjadi satu kali dimana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibanding jumlah penduduk tidak produktif. Namun, sayangnya kaum yang diberi label sebagai tulang punggung ekonomi ini diprediksi tidak bisa memiliki hunian seumur hidupnya.Tentunya ada beberapa hal yang menjadi hambatan, seperti pengeluaran konsumsi yang tinggi, kenaikan upah pekerja tidak sebanding dengan lonjakan harga properti setiap tahunnya, sampai dengan benturan-benturan persyaratan perbankan yang tidak mengakomodir karakteristik generasi ini. Rumah adalah bagian dari kebutuhan pokok manusia yang harus segera dipenuhi setelah kebutuhan sandang dan pangan. Tapi, kebanyakan milenial menggeser prioritas untuk membeli rumah dengan berperilaku konsumtif. Dengan harga properti yang semakin ting

Waktu Indonesia Bagian Hidup Sehat Bersama SEGARI

"Kapan yah pandemi ini usai?" Apakah pertanyaan ini pernah terlintas di kepalamu? Saya yakin kita semua pernah. Namun faktanya, smpai saat ini belum ada satupun ahli yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan pasti. Tanpa harus menurunkan level kepatuhan terhadap pratokol kesehatan, setidaknya kita bisa bernafas sejenak karena menurut WHO terjadi penurunan kasus positif COVID-19 hingga 77 persen dalam enam pekan terakhir. Selain itu, angka kematian rata-rata masyarakat di seluruh dunia juga sudah turun sebanyak 20 persen. Tak lupa, saat ini program Vaksinasi Nasional dari Kemenkes RI sedang berlangsung dan diharapkan bisa tersebar merata di seluruh lapisan masyarakat. Alih-alih cemas berlebihan, yuk kita lakukan sesuatu untuk melindungi diri sendiri dan keluarga. Caranya gampang banget. Mulai dengan mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan WHO, seperti mencuci tangan dengan benar, memakai masker, tidak menyentuh wajah, menjaga jarak dengan orang lain, dan bila mem

BERSYUKUR DAN BERDAMAI DENGAN RAMADAN DI TENGAH PANDEMI

Kamu tahu, apa yang membuat Ramadan sangat dirindukan? jawabannya adalah tentang momen-momen istimewa yang terjadi bagi kita umat muslim di berbagai belahan dunia. Selalu ada euforia yang memenuhi relung hati di waktu sahur dan berbuka puasa. Baik bersama keluarga ataupun teman-teman. Selalu ada suasana syahdu ketika menghadiri shalat berjamaah, mendengar ceramah, menonton kultum, dan menghadiri majelis-majelis yang membersihkan hati nurani dari sifat seperti rasa dengki, iri hati, dan kebencian. Selalu ada menu-menu makanan yang selama ini dinanti-nanti dan setiap gigitannya membangkitkan memori yang membersamainya. Selalu ada jutaan kebaikan dengan niat tulus dari siapapun dan untuk siapa pun. Barangkali Tuhan ingin kita menjalankan Ramadan dengan khusyuk, tanpa ada janji buka puasa bersama 30 hari berturut-turut yang membuat lalai sholat Magrib. Tanpa ada aktivitas berkeliaran di jalanan ketika matahari baru beranjak terbit yang tak jarang berujung pada kecelakaan-kecelaka