Langsung ke konten utama

Sebuah Titik Mundur ; Tentang Berhenti dan Melangkah Ke Belakang.


“Ternyata dalam hidup kita perlu diam ditempat, sengaja mundur malah, bukan untuk membiarkan langkah tertinggal atau mempersilahkan orang lain, bukan, karena memanglah hidup bukan untuk melampaui orang lain, ternyata memundurkan langkah adalah pilihan yang tepat untuk mengatur aba-aba gerakan langkah panjang ke depan.”


           
Titik dengan kehebatan apa yang mampu bergerak maju? Dan titik dengan kekuatan apa yang mampu bergerak mundur?  Tak ada jawabannya, setidaknya bagi sudut pandang saya sampat saat ini. Karena titik hanyalah sebuah tanda baca, Bukan makhluk hidup yang memiliki ciri-ciri bergerak. Anggaplah judul diatas sebuah perumpamaan. Yah, hidup terlalu monoton jika kalimat tersirat begitu saja maknanya tanpa adanya perumpamaan-perumpamaan.

Teringat sebuah peristiwa lucu bagi saya, 12 tahun yang lalu saya pernah mendapatkan sebuah piala dari lomba menggambar di arena bermain, Time zone, juara 1. Bukan karena gambar saya bagus atau pewarnaan  menarik tetapi karena saya hanyalah peserta satu-satunya yang ikut kompetisi menggambar diantara peserta mewarnai.

Kemudian 2 tahun berikutnya saya mengikuti lomba menggambar lagi di samping rumah, kebetulan ada kursus bahasa inggris untuk anak Sd-Smp. Dan pesertanya khusus murid-murid tempat kursus tersebut tetapi karena pengajar dan pemilik kursus tersebut kenal dengan orang tua saya jadilah saya diperbolehkan mengikuti lomba tersebut tak lupa mengajak teman-teman saya yang lain. Sudahlah diajak malah ngajak orang lagi.hehe. Dan ketika saat pengumuman tiba ternyata nama saya tidak disebutkan tetapi teman yang saya ajak disebutkan berarti dia berhasil...yah sudahlah saatnya pulang kerumah yang hanya beberapa langkah untuk tidur siang. Tetapi sorenya pemilik tempat kursus tadi mendatangi rumah saya dan menanyakan nama lengkap setelah saya mengiyakan bahwa itu nama saya dan dia berkata “Kenapa tadi tidak maju kedepan waktu nama kamu dipanggil?” saya hanya menjawabnya dengan gelengan karena memang saya tidak mendengar, meskipun beberapa detik lalu saya menganggukan kepala ketika dia menanyakan kepastian nama sebenarnya saya juga tidak jelas mendengar pelafalannya tetapi karena doi langsung bilang “Kamu menang-ya juara 2 lomba menggambar! Nama kamu inikan *menyebutkan beberapa kata*? Kemudian saya mengiyakan hanya karena saya mendengar ada salah satu potongan nama belakang saya. Dan yey, entah itu nama siapa pokoknya piala itu diserahin ke saya bersama hadiah-hadiahnya. Whats a life. Anak kecil mah bebas~~

Cerita diatas hanyalah intro, bukan itu yang ingin saya bagikan. Ketika saya menyadari bahwa hasil bukanlah apa-apa, piala, sertifikat, piagam, uang tunai hanyalah bentuk dari apresiasi-apresiasi yang bisa hitung nilai nominalnya tetapi apa yang kita lakukan dibaliknya, kita doakan, kita usahakan, kita kerjakan, menghadapi segala apapun yang menghalang kita, itu adalah sebenar-benanrnya perubahan yang membentuk kita dari pribadi yang dahulu ke pribadi yang lebih baik.

Tadi saya tuliskan bahwa hal tersebut adalah sebuah titik mundur, kenapa? Karena sebuah peristiwa telah membuat saya menjadi pribadi yang lebih berhati-hati, takut akan segala hal yang belum terjadi, tidak ingin melangkah lebih jauh karena takut berbuat kesalahan, takut untuk berbuat ceroboh, bukankah itu semua hal yang baik? Berarti saya mampu berada diarea yang stabil? Tidak. Itu bukan diri saya. Semakin banyak peristiwa yang saya alami, orang-orang yang saya temui, situasi yang saya hadapi, semakin kenal-lah saya dengan diri saya. Bukankah saya mendapatkan hal tersebut karena bagi seorang saya yang ceroboh, pelupa, tidak takut, terburu-terburu mendapatkan hal tersebut adalah hal yang mustahil?  Tetapi kenyataannya ya saya mampu melewatinya, meskipun tidak pernah dengan damai.

Fase setelah moment itu adalah fase terendah di dalam hidup saya, tidak ada motivasi, malas melakukan hal apapun, mencoba apapun di kemudian selalu gagal, tetapi saya tidak berada dalam keadaan tersebut terlalu lama. Saya melambatkan langkah saya, mengatur ulang ritme perjalanan, mengevaluasi setiap hal, dan menemukan hal-hal yang salah untuk kemudian diperbaiki.

Ternyata dalam hidup kita perlu diam ditempat, sengaja mundur malah, bukan untuk membiarkan langkah tertinggal atau mempersilahkan orang lain, bukan, karena memanglah hidup bukan untuk melampaui orang lain, ternyata memundurkan langkah untuk mengatur aba-aba gerakan langkah panjang ke depan. Jika biasanya hanya melewati sepetak  kotakan dalam sekali langkah namun ketika mundur kita  akan membuka kaki lebar-lebar untuk melewati beberapa kotak sekaligus di jalur main kita bukan dijalur orang lain tentu saja.

Kemudian setelah ini apa? Selalu ada pencapaian-pencapaian lebih yang ingin didapatkan. Tetapi barangkali bukan setelah ini apa tetapi dengan mendapatkan hal ini, apakah bermanfaat juga untuk orang lain selain diri kita sendiri? Perihal bermanfaat juga harus diluruskan bukan berarti ada pada definisi-definisi seperti “kalau kita ga ngebrainstormingin dia, kita ga bermanfaat dong kan ya” nah bukan seperti itu.

Ketika semangat kita, kerja keras kita, pengorbanan kita, usaha kita mampu menular kepada orang lain, mampu secara tidak langsung menyemangati orang lain, hal tersebut saja bagi saya sudah termasuk dalam bentuk kebermanfaatan. Kalau perihal brainstorming, perihal ilmu yang harus dibagi, perihal pengalaman yang harus diceritakan, itu adalah bentuk aktualisasi diri seseorang, dia ingin apa yang dia rasakan orang lain juga rasakan, esensi berbagi itu sendiri. Tentu saja dengan caranya masing-masing. Tidak perlu mengharuskan atau memandang seseorang sesuai dengan apa yang kita perkirakan, kita harapkan, tetapi yang kita perlukan adalah memandang dia sebagaimana dia adanya. Menerima bahwa setiap manusia itu berbeda dan tidaklah sama. Jangan ukur orang lain lewat ukuranmu, karena kamu bukanlah Tuhan Maha Segalanya  yang memandang sama seluruh umatnya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu Indonesia Bagian Hidup Sehat Bersama SEGARI

"Kapan yah pandemi ini usai?" Apakah pertanyaan ini pernah terlintas di kepalamu? Saya yakin kita semua pernah. Namun faktanya, smpai saat ini belum ada satupun ahli yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan pasti. Tanpa harus menurunkan level kepatuhan terhadap pratokol kesehatan, setidaknya kita bisa bernafas sejenak karena menurut WHO terjadi penurunan kasus positif COVID-19 hingga 77 persen dalam enam pekan terakhir. Selain itu, angka kematian rata-rata masyarakat di seluruh dunia juga sudah turun sebanyak 20 persen. Tak lupa, saat ini program Vaksinasi Nasional dari Kemenkes RI sedang berlangsung dan diharapkan bisa tersebar merata di seluruh lapisan masyarakat. Alih-alih cemas berlebihan, yuk kita lakukan sesuatu untuk melindungi diri sendiri dan keluarga. Caranya gampang banget. Mulai dengan mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan WHO, seperti mencuci tangan dengan benar, memakai masker, tidak menyentuh wajah, menjaga jarak dengan orang lain, dan bila mem

Tempat baru yang mengesankan dan kesenjangan yang luput dari penglihatan

Setelah satu bulanan tinggal di tempat baru, aku mulai berkeliling ke tempat yang satu dan yang lainnya. Biasanya di akhir pekan, aku lebih sering pergi ke Lulu Mart (hypermarket), Giant (toko swalayan), atau Aeon Mall untuk berbelanja bahan belanja selama satu minggu kedepan. Baru sekali saja aku pergi ke Cisauk, tempat di mana stasiun KRL terdekat berada dan Pasar Modern. Besok pagi, aku akan mencoba merasakan suasana berbelanja di sana. Tidak belanja banyak karena sebagian bahan belanja sudah dibeli sore tadi. Aku menemukan tempat belanja "hidden gem" di kawasan perkampungan. Murah sekali. Tentu saja ini akan menjadi pertimbanganku selanjutnya untuk rutin berbelanja di tempat tersebut. "Bang, tempat ini hidden gem! Keluar uangnya segini doang dapatnya banyak banget" ucapku antusias. "Memang. Dari kemarin diajak keluar gak pernah mau. Kalau di kawasan perkampungan semuanya ada, warung, toko buah, jajanan gerobak, nasi padang sepuluh ribuan. Bedakan? Mangkany

Sebelum Dua Pekan.

  Aku yakinkan diri ini berulangkali sebelum berbicara kepada kedua orang tua. Ini bukan sebuah keputusan yang mudah.  Aku tahu, ada banyak rangkaian masalah yang akan menanti aku setelah gerbang perjalanan ini. Namun, pilihannya apakah aku bisa melihatnya sebagai sebuah halangan atau tantangan. “Bunda, mbak menikah boleh ga?” “Iya boleh selesai wisuda ya.” “Kan udah pernah wisuda, kuliah mbak udah siap juga tinggal wisuda doang…” “Kenapa mbak tiba-tiba ingin cepat nikah?” “Engga cepat juga sih, kakak kan udah kelar kuliah bahkan udah kerja juga..” “Emangnya, Hendra udah mau lamar mbak?” “Iya, kalau diizinin.” “Nanti bunda bilang sama ayah dulu.” Hendra adalah nama pria yang menjadi pasanganku satu tahun terakhir. Aku mengingat percakapan sekilas di malam itu. Mengapa hal ini ingin aku segerakan? Mengingat aku berencana menikah dengan dia di pertengahan tahun 2022. Bukan di awal 2021. Aku dan Hendra sudah menjalin hubungan romansa selama satu tahun terakhir. Kami